
Tia tiba di depan apartemen Benny setelah Benny mengirimkan lokasi apartemennya setengah jam yang lalu. Ia menekan belnya beberapa kali baru kemudian pintunya terbuka.
"Ohh Nyonya Zaky, silahkan masuk."
" Iya.."
" Duduklah, aku akan mengambil cetak birunya."
Tia duduk di sofa sementara Benny pergi mengambil sebuah cetak biru miliknya yang sengaja ia persiapkan untuk meyakinkan Tia.
Tidak berapa lama kemudian ia keluar membawa cetak biru itu dan memberikannya pada Tia. Benny lalu duduk di sofa.
" Ini cetak birunya. Maaf tidak bisa mengantarkannya. Istriku sakit keras dan sedang kambuh. Apa kau ingin menjenguknya sebentar Nyonya?"
Tia merasa tidak enak jika harus menolak Benny. Ia pun setuju.
" Ia tidak apa. Aku sedang di luar tadi jadi sekalian mampir. Istrimu, di mana dia?"
" Di kamar, masuklah Nyonya, aku akan ke dapur sebentar. Dia minta di bawakan air hangat tadi." Kata Benny berbohong.
Tia bangkit dan berjalan perlahan menuju kamar. Sementara di belakangnya Benny berjalan ke arah pintu. Menguncinya dengan kode. Dia dengan cepat berjalan kekamar dan melihat Tia berdiri di bibir pintu, sedang mengintip kedalam mencari istri Benny yang sebenarnya tidak ada. Benny menolak punggungnya hingga Tia masuk kekamar.
Tia berbalik dengan heran. Melihat seringai Benny, ia segera tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia mundur perlahan, tangannya gemetar, jantungnya berdegup kencang.
" Kau.. Kau menipuku.. Apa yang kau inginkan?"
"Hahaha.. Nyonya Zaky. Kau sangat lugu rupanya. Istri kesayangan zaky ternyata sangat cantik.." Kata benny perlahan sambil terus maju mendekati Tia. Ia mengusap dagunya sambil memandangi tubuh Tia dengan tatapan menelanjangi.
" M-minggir!"
"Tidak akan! Kau harus memuaskan aku! Hahaha" Benny membuka kancing atas kemejanya.
Seketika cetak biru itu terlepas dari tangan Tia. Seluruh tenaganya seakan hilang mengingat apa yang akan Ia hadapi.
Oh Tuhan. Zaky, Apa yang harus aku lakukan? Robi! Aku harus meneleponnya!
Dengan gemetar Tia mencoba meraih ponsel di tasnya. Benny datang tiba tiba dan mendekapnya dengan kasar. Ponsel itu terlepas dan jatuh di lantai. Tia meronta ketakutan.
" Lepaskan aku! Lepaskan!"
Benny mendekap Tia dengan erat dari belakang. Tia terus melawan tapi tenaganya tidak mampu mengalahkan Benny. Benny dapat mencium harumnya rambut Tia. Darahnya menjadi bergejolak.
" Bahkan harummu sangat menggairahkan! Jangan melawan.. kau tidak akan mampu!"
__ADS_1
Benny mengangkat tubuh Tia dan melemparkannya ke kasur. Ia naik ke atas tubuh Tia dan berlutut. Benny membuka kemejanya dan melemparnya sembarang. Ia menekan rahang Tia dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri menahan tangan Tia di kasur. Tia menggeleng gelengkan kepala berusaha melepaskan cengkraman Benny di rahangnya, tapi percuma. Ia meringis kesakitan. Benny kesal lantas menekan lebih kuat.
" Diam kau!"
Benny membentak. Mata Tia terbelalak. Ia mencoba bernapas dengan benar. Tia sangat ketakutan. Air matanya perlahan mengalir.
" Mengapa kau tidak memcoba menikmati ini bersamaku hah? Aku mungkin kalah darinya soal bisnis, tapi aku pastikan aku lebih baik darinya kalau di ranjang! Hahaha."
Tia merasakan sakit pada perut bagian bawahnya, lalu Ia berusaha menggerakkan bibirnya. Benny kini duduk di atas tubuh Tia menghimpit perutnya. Melihat Tia seperti akan mengatakan sesuatu, Benny merenggangkan cengkramannya pada rahang Tia.
" Apa yang ingin kau katakan hah?!"
" A-aku hamil. Lepaskan aku. Jangan menduduki bayiku... Aku mohon.. enghhh" Kata Tia terbata bata.
" Hahahaha.. itu bonus. Zaky akan hancur dengan sekali tepukan.."
Bukannya kasihan, Benny justru menjadi lebih semangat mengetahui tia sedang hamil. Saat Benny lengah, Tia menggeleng, cengkraman benny terlepas. Tia menggigit lengan benny dengan sekuat tenaga. Benny mengerang.
" Aaakkkkhhh..."
Tapi dia masih di atas tubuh Tia. Tia tetap tidak dapat berkutik. Merasa kesal, Dia menampar Tia dengan kencang.
Plakkk!!
Benny pun menjadi marah. Ia menarik atasan Tia hingga robek. Hanya tersisa dada Tia yang masih tertutup bra. Benny meringkuk menciumi leher Tia, dari dagu hingga ke bahunya. Sementara Tia terus memberontak tapi akhirnya hanya bisa menangis terisak. Tubuhnya terkunci lutut Benny dan mulutnya di bekap dengan kuat. Ia merasa hancur.
---
Mira, Istri Benny tiba di depan apartemen suaminya. Sudah 2 malam Benny tidak pulang dan susah sekali di hubungi. Mira curiga Benny akan selingkuh lagi. Selama ini Mira berusaha menjadi istri yang baik, tapi Benny tetap saja selingkuh. Ia takut Benny akan meninggalkannya. Ia memberikan segalanya untuk Benny, harta peninggalan orangtuanya dan juga perusahaan yang kini sepenuhnya di tangan Benny. Mira melakukan semua itu agar tidak ditinggalkan, karena sebenarnya Mira mandul. Rahimnya diangkat karena ada tumor besar di sana. Mira pasrah akan keadaannya, dan Ia rela melakukan apapun asalkan Benny tetap di sisinya.
Ia menekan passcode apartemen lalu masuk. Begitu pintu terbuka terdengar suara raungan. Mira bergetar.
Oh Tuhan, Apa yang terjadi? Apakah Ia memperkosa lagi?
Ya, Mira pernah mendapati Zaky memperkosa pembantunya yang masih muda, tapi itu sudah lama sekali. Mira merasa tidak enak hati. Ia membuka ponselnya dan menyalakan mode video.
Apapun itu aku akan merekamnya. Aku harus punya bukti. Aku akan memerlukannya nanti.
Mira berjalan perlahan menuju ke arah kamar. Pintu kamar terbuka. Sekonyong konyong Ia dapat melihat Benny menduduki seorang wanita di atas ranjang.
Astaga!
Mira membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Airmata jatuh di pipinya. Ia terus berjalan maju sambil merekam perbuatan suaminya dengan tangan yang gemetar. Ia menutup satu video dan memulai rekaman lain. Ia harus menyimpan satu kalau saja nanti Benny menyerangnya saat merekam.
__ADS_1
Ia menelan ludahnya, melihat sendiri dengan mata kepalanya bagaimana suaminya menggerayangi wanita itu. Ia merasa lemas tapi menguatkan diri untuk terus merekam. Merekam Benny yang mencumbu Tia dengan ganas. Ia bersembunyi di balik pintu, bernapas dengan perlahan, menunggu waktu yang tepat untuk memergoki Benny.
Benny selesai mencium leher Tia. Ia bergeser dari duduknya lalu berdiri membuka celana panjangnya. Melihat kesempatan itu Tia menendang lutut Benny. Benny mengerang. Tia bangkit hendak lari tapi Benny menjambak rambutnya.
" Kau mau kemana hah? Jangan bermain main denganku!"
Benny yang berada di belakang Tia segera menarik lepas kaitan rok Tia hingga rok itu terlepas. Menampilkan pahanya yang putih dan halus. Benny semakin terangsang.
Tia tidak mau menyerah. Meski lemah, Ia mengumpulkan tenaga kemudian menyentakkan kepalanya ke belakang hingga terbentur dengan wajah Benny. Sayangnya itu bukan apa apa bagi Benny. Benny melempar Tia ke lantai. Tia jatuh terlentang, pandangannya berkunang kunang. Bibirnya masih berdarah dan sekarang dahinya juga berdarah. Sedangkan pakaiannya hanya atasan yang robek juga underware yang tersisa.
Benny berjalan ke arahnya dan menginjak perut Tia.
" Akhh..."
Tia berusaha menahan kaki Benny tapi tidak bisa. Ia memegangi kaki Benny sambil terus terisak.
" Akhhh.. Jangan.. jangan injak bayiku.. aku mohon.. lepaskan aku... lepaskan aku... "
" Sudah aku katakan jangan melawan!"
Darah mengalir dari sela paha Tia. Tia dapat merasakan cairan itu. Ia bersandar lemas di lantai, kehilangan daya.
Anakku...
---
Semoga suka ya 😊
Show your love ya pembaca yang baik.
❤❤❤
☺Like
☺Commet
☺Share
☺Rate
☺Vote
☺Favorite
__ADS_1
Makasi buat kalian yang selalu dukung aku.