
Setelah selesai berolahraga dan membersihkan diri, Yuda dan Rian memilih merebahkan tubuhnya diatas kasur bersama.
"Yud." sapa Rian seraya memanggil dengan ragu.
"Hm, apa?"
"Menurut lo, Putri itu gimana?" tanya Rian, penasaran.
Yuda menatap langit ruangan sambil membayangkan gadis itu. "Dia itu gadis yang manis dan lucu." sahutnya tersenyum, lalu menoleh pada Rian. "Kenapa emangnya?"
"Lo naksir, gak?" tanyanya tanpa basa-basi.
Yuda jadi tertawa. "Ha ha, gue?" Rian mengangguk. "Gue belum ada rasa tuh! Kenapa sih emangnya?"
"Ah, gak apa-apa. Cuma nanyak doang, soalnya dia kayaknya akrabnya cuma sama lo doang."
"Oh gitu, gue kira apaan."
Mendengar jawaban Yuda, perasaan Rian sedikit mendapat ketenangan. Begitu aneh, menurutnya dan dia jadi bingung sendiri.
****
Pagi-pagi Yuda dan Rian sudah siap untuk berangkat kesekolah, saat menuruni anak tangga mereka disuguhkan oleh Dedi yang tengah memijat tengkuk leher istrinya sembari menonton siaran televisi.
"Eh, Rian Yuda." sapa Sefia menoleh.
"Mami kenapa?" tanya Rian khawatir.
"Mamimu cuma pusing aja kok, mual-mual terus dari tadi." Dedi menyahut.
"Gak manggil dokter aja, pi? Kan kasian mami."
"Ah, gak perlu." seka Sefia. "Mami mungkin cuma masuk angin aja kok."
"Oh gitu, ya udah Rian dan Yuda pamit kesekolah dulu."
"Oh ya, mami udah buatin bekal buat kalian berdua. Ambil didapur sebelum pergi!"
__ADS_1
"Oke mi." mencium kedua sisi pipi maminya dan juga berpamitan pada papinya.
Sedangkan Yuda diperlakukan sama, tak ada bedanya.
"Hati-hati dijalan ya! Jangan ngebut-ngebutan! Kalo Rian ngebut, langsung jewer aja, Yud!" pinta Sefia.
"Iya tante, pasti." sahutnya sembari tertawa, dan Rian menebalkan bibirnya.
"Yaudah deh! Selamat Pagi." salam Rian, sebelum berlalu pergi.
"Iya, pagi." sahut Sefia dan Dedi.
Dedi masih menekan-nekan tengkuk leher Sefia dengan lembut.
"Mi, apa gak sebaiknya mami periksa aja? Atau beli semacam test gitu." saran Dedi pada istrinya.
"Test gitu gimana sih, pi? Mami bingung."
"Itu loh, test untuk kehamilan." sahutnya.
Seketika Sefia membelalak dan berbalik menoleh pada suaminya itu. "Eh iya, sekarang udah tanggal berapa, ya?"
"Astaga! Aku belum datang bulan." memukul dahinya sendiri dengan pelan, membuat Dedi bingung.
"Papi nyuruh pelayan kita buat beli ya, mi?" tawar Dedi, juga penuh harap.
"Gak usah, mami udah sedia kok." sahutnya, lalu beranjak berdiri dan segera pergi ke kemarnya, untuk mengambil sebuah test pack yang ia taruh didalam laci.
Sefia kemudian segera masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Dedi menunggu sembari duduk ditepi ranjang dengan begitu cemasnya.
"Semoga, semoga." doanya penuh was-was.
Lama kemudian Sefiapun keluar, dan menyembunyikan hasil test kehamilan dibalik badannya.
"Gimana mi hasilnya?" tanya Dedi dengan antusias.
Sefia menunduk, menghela nafas lalu mengeluarkan test kehamilan itu pada suaminya. "Nih!"
__ADS_1
Dedi mengerut kening, tak mengerti. "Garis dua, ini apa artinya?"
"Artinya itu positif, kalo mami hamil."
Seketika Dedi langsung memeluk istrinya dengan senang dan mengecup seluruh sisi wajah istrinya tanpa henti, membuat Sefia geli.
"Makasih sayang, makasih." ucapnya, lalu kembali memeluk istrinya dengan senang.
****
Dan pagi ini tak seperti biasanya karena Yuda tak lagi menemukan minuman berada diatas mejanya.
Yuda mengedarkan pandangannya ke kanan kiri tapi menemukan apa yang ia cari.
Kecuali seorang gadis yang tiba-tiba datang menjadi pusat perhatian, bahkan menjadi pusat perhatian ketiga pengacau. Siapa lagi kalau bukan Desi, Loli dan Mega.
"What! Cantik banget!" pujinya, tercengang. "Kayanya gue kenal nih cewek."
Saat Putri memasuki kelas, mereka jadi terkejut. "Itu.. bukannya Putri, ya?" tanya Loli heran.
Mega mengangguk. "Iya, kok sekarang penampilannya beda banget sih. Terus dia kenapa jadi cantik banget begitu sih?"
Desi jadi semakin iri dan kesal. "Diem kalian! Masih cantikan gue tahu."
"He he, iya iya. Kita tahu kok kalo lo yang paling cantik dan terbaik." puji mereka kemudian, agar temannya berhenti marah.
"Nah, gitu dong! Baru temen gue." merangkul kedua temannya, lalu pergi keluar kelas sebelum pelajaran dimulai.
"Putri." sapa Yuda keheranan.
"Hai kak." Putri balik menyapa.
"Ka.. kamu cantik banget hari ini." pujinya, membuat Putri malu saja.
Putri menyikap rambutnya yang terurai kebelakang telinganya, dan tersenyum malu pada pemuda itu. "Makasih."
Sedangkan Rian yang melihat itu, hanya bisa menghela nafasnya dengan perlahan. "Kok sesak, ya." gumamnya.
__ADS_1
****
Kamsamida :*