
"Yuda, sini peluk papa!" pinta Angga membentangkan kedua tangannya.
Dengan terbata, Yuda berjalan kearah Angga yang sangat menyayanginya. Pelukan itu adalah rutinitas yang sering dilakukannya. Selalu disambut oleh gelak tawa gembira dari anak tersayangnya.
Sejak ada Yuda, kehidupan Angga tak sehampa seperti biasanya. Karena ia setiap hari selalu hidup dalam rasa penyesalan yang teramat luar biasa.
"Ga, anak itu kasihkan ke Ina aja! Kamu siap-siap buat temuin anak temen mama gih!" pinta Lidia pada Angga yang tengah menggendong anaknya.
"Iya ma." sahut Angga, lalu menoleh pada Ina yang dengan sigap langsung mengambil Yuda dan menggendongnya.
Dengan enggan, Angga melangkah memasuki kamar untuk bersiap diri. Memakai pakaian resmi karena ia akan bertemu dengan anak teman mamanya itu di suatu restoran kelas atas, dimana setiap pengunjung diwajibkan untuk memakai pakaian resmi untuk menggambarkan bahwa restoran ini hanya diperuntukkan untuk kalangan kelas atas saja.
Setelah selesai bersiap, Angga segera melajukan kendali mobilnya segera. Ia melihat jam tangannya yang melingkar menunjukkan bahwa kali ini ia datang terlambat lima menit dari janji temu.
"Meja atas nama Angga Pratama." ucap Angga pada pelayan, karena sebelumnya ia sudah memesan meja khusus untuk janji temunya.
"Meja pesanan pak Angga berada di pojok dekat kolam, dan sudah ada seseorang yang duduk menunggunya."
"Ah, baiklah."
Angga merapikan pakaiannya sejenak, sebelum ia meneruskan langkahnya kembali untuk menghampiri perempuan itu.
"Selamat malam, maaf saya terlambat." ucap Angga menyapa.
__ADS_1
Perempuan itu menoleh dengan senyum manis serta mata yang berbinar. "Malam, tidak apa-apa, saya juga baru sampai kok." sahutnya.
Lalu Angga duduk dengan tegap didepan perempuan itu dan mengulurkan tangannya. "Perkenalkan nama saya Angga."
Perempuan itupun langsung menyambutnya. "Saya Nayna, senang berkenalan dengan Anda."
Angga merasa begitu canggung, dan Nayna begitu tampak cantik memikat tetapi Angga tak sekalipun tertarik padanya.
Dalam pertemuan itu, Angga memilih lebih banyak diam dan Nayna lebih dominan bertanya untuk menghidupkan suasana.
"Saya sudah banyak tahu tentang Anda dari tante Lidia." ucapnya.
"Ah, mama saya." Angga menganguk canggung. "Saya juga banyak tahu Anda dari mama saya, beliau mengatakan bahwa Anda adalah seorang dokter ahli diusia yang sangat muda dan itu sungguh luar biasa."
Tentu Angga langsung semakin canggung. "Anda tentu sangat terlihat cantik malam ini." sahutnya, sengenanya.
"Apa saya masuk dalam kriteria pasangan ideal Anda?" tanyanya tanpa malu.
Ya, siapapun akan seperti itu ketika melihat sosok Angga dihadapannya. Dengan umur yang matang dan dengan parasnya yang sangat tampan, wajar saja setiap perempuan yang melihatnya selalu tergoda dan langsung menarik perhatiannya.
"Maaf, tapi saya yakin bahwa mama saya tidak menceritakan dengan detail tentang saya."
"Maksud Anda, bagaimana?" Nayna mengerut kening, bingung.
__ADS_1
"Saya sudah memiliki seorang putra dari pernikahan kedua saya, saya sudah dua kali menjalani rumah tangga dan berakhir tak bahagia. Itu tentu karena saya yang tidak dapat menghargai istri saya."
Seketika Nayna membelalak, tapi ia mencoba meyakinkan diri. "Dalam hubungan rumah tangga memang tidak mudah, tapi saya yakin Anda pasti akan berubah." sahutnya mencoba tenang. "Saya siap menjadi ibu dari anak Anda."
Angga mendengar itu jadi tertawa sarkas. "Bagaimana Anda mengatakan hal itu padahal kita baru saja bertemu? Maaf, bukannya saya berniat tidak sopan dan ingin menyakiti Anda. Tetapi saya tak berniat untuk mencari ibu baru untuk anak saya yang masih balita." tegasnya.
"Saya bersedia menunggu Anda sampai siap, saya mampu menjadi ibu yang baik kok." sahutnya memaksa.
Membuat Angga tak ada pilihan lain untuk menolaknya. "Ah, saya sangat senang mendengarnya. Bagaimana kalau kita langsung mencobanya saja." godanya.
"Ma..maksud Anda?"
"Tentu menyenangkan bukan kalau kita langsung pada intinya, mungkin Anda bisa memuaskan saya diatas ranjang sehingga bisa mengubah pikiran saya untuk menerima Anda. Kita langsung ke hotel terdekat saja, bagaimana?"
Sontak Nayna merasa tersinggung dan beranjak dari duduknya dengan tergesa-gesa. "Anda menganggap saya perempuan apa, hah? Maaf, saya tidak memberi tubuh saya pada laki-laki yang hanya ingin menggunakan saya sebagai pemuas lalu akan pergi meninggalkan saya." ucapnya dengan menggebu-gebu lalu berbalik untuk pergi. "Dasar brengsekk." umpatnya kemudian.
"Hah." menghembus nafas kasar, lalu meneguk anggur sebagai hidangan. "Anggap saja Tuhan sedang menghukumku." gumamnya pada dirinya sendiri.
****
MOHON TERUS DUKUNGANNYA.
SISA 2 BAB LAGI MENUJU SEASON 2.
__ADS_1