
"Mami."
Ucap Rian seraya memanggil ketika memasuki rumahnya.
"Mami mu lagi dikamar, istirahat," sahut Dedi menuruni anak tangga yang menuju kamarnya.
"Aku mau ke mami, ah."
"Jangan ganggu mami mu! Biarkan mami mu istirahat, kamu itu bikin susah aja!" ketus Dedi, mengejek anaknya.
"Siapa yang mau ganggu mami, aku mau temeni pacarku biar gak kesepian. Kasian pacarku seharian bareng suami yang kurang asik."
"Apa kamu bilang?"
Dedi jadi kesal dengan tingkah anaknya, hendak ia ingin memukul anaknya yang kurang ajar itu tapi Rian dengan gesit langsung kabur menaiki anak tangga menuju Sefia.
"Dasar! Segeralah menikah dan pergi dari rumah ini!" teriak Dedi kesal.
"Kalaupun menikah dan pergi dari rumah, akan aku bawa mami bersamaku biar papi sama Agis aja dirumah." sahutnya langsung menutup pintu.
Dedi menghela nafas, hanya bisa geleng kepala dengan tingkah anaknya. Meski Rian sudah dewasa akan tetapi masihlah manjadi anak-anak ketika berhadapan dengan orangtuanya.
"Rian, ada apa sayang?" sapa Sefia ketika anaknya itu memasuki kamarnya.
Rian tertawa, menunjukkan deretan gigi putihnya. "Gak apa-apa mi, cuma lagi ngerjain papi aja." sahutnya.
Rian naik keatas ranjang, dan langsung membaringkan kepalanya dipangkuan maminya.
Sefia tersenyum sambil mengelus rambut putranya. "Sepertinya hari ini kamu terlihat berbeda, apa ada hal baik?"
Rian mengangguk, ia mengingat Desi. "Iya, aku akan menceritakannya nanti, sekarang aku cuma mau peluk mami."
Sefia tertawa bahagia pada tingkah Rian yang masihlah manja.
"Gimana kata dokter? Mami sakit apa?" tanya Rian kemudian, duduk sambil menatap orangtuanya dengan khawatir.
__ADS_1
"Mami cuma sakit biasa kok," sahutnya menenangkan. "Mami kan sudah tua, jadi wajar kalau mami sering sakit-sakitan."
"Ah jawaban mami bikin Rian tambah khawatir." sahutnya sedih, mengelus wajah Sefia dengan sayang. "Maafin Rian yang suka bikin masalah dan suka bikin mami khawatir."
"Mami ngerti kok. Jangan dimasukkan ke hati kata-kata papi mu ya! Papi mu memang orang yang keras, dia cuma mau yang terbaik untuk anaknya."
"Iya, Rian tahu kok. Kalian berdua itu orangtua paling keren." pujinya, kemudian memeluk maminya dengan hangat.
Sefia tersenyum lega, membalas pelukan putranya. Ia sangat bersyukur memiliki anak yang begitu menyayanginya.
"Mami."
Agis tiba-tiba masuk merusak suasana, ia datang sambil merengek membuat Rian mendecak kesal.
"Ada apa, Agis?" tanya Sefia khawatir.
"Tadi aku diejek sama temen sekelas, katanya aku norak. Huaaaa."
Rian mendengar itu jadi tertawa, "Ya bener." celetuknya membuat Agis tambah menangis.
"Rian, jangan begitu ke adikmu!" tegur Sefia.
Agis langsung menunjuk kakaknya. "Ini semua gara-gara kak Rian, mi. Masa aku kesekolah disuruh make seragam kebesaran terus rambut harus di kuncir dua, kan jelek banget."
"Eh Gis, sekolah itu tempatnya belajar tahu." sahut Rian membela diri.
"Ya tahu tempatnya belajar, tapi kan Agis jadi malu."
"Malu itu kalo nilai mu jelek, merah. Masa adik seorang Rian Atmadja bodoh sih."
"Kak Rian ngatain aku bodoh?" tuduhnya.
"Iya." sahut sengenanya.
"Huaaaa mami, aku dikatain bodoh sama kak Rian." rengeknya kembali, memeluk maminya.
__ADS_1
"Rian, gak boleh begitu. Adikmu nangis lagi kan. Minta maaf!"
Rian menghela nafas, tak mau maminya marah. "Iya maaf, Kakak cuma becanda. Agis gak bodoh kok, cuma kurang pinter aja."
"Huaaaa mami, kak Rian jahat."
"Rian." Sefia menepuk pelan lengan putranya yang usil itu.
"Yaudah kakak serius, maaf. Agis kan udah janji nilai ujiannya nanti bakal bagus biar dapat ijin dari kakak."
Seketika Agis ingat, dan wajahnya kembali ceria. "Iya, Agis janji bakal belajar lebih giat."
"Nah gitu dong."
Rian mendorong tubuh adiknya itu supaya minggir dari pelukan Sefia. "Sana keluar, belajar, kakak mau temeni mami!"
"Aku juga mau temeni mami." sahutnya enggan pergi.
"Apaan sih, kamu itu ganggu aja! Keluar sana!" usirnya.
"Dih, gak mau. Kakak tuh yang seharusnya pergi. Gak baik tahu masih manja ke mami, nanti jomblonya lama." ejeknya.
Rian tak dapat berkata, ia mendecak kesal ingin menjewer adiknya tapi ia tahan karena tak mau maminya memarahinya.
"Udah sana keluar! Kalo enggak, kakak gak bakal ngizinin kamu deket sama siapapun."
"Huh! Yaudah deh, Agis mau ngerjain PR dulu."
Sefia jadi tersenyum melihat kedua anaknya. "Tidurnya jangan malam-malam ya!"
"Iya mi." sahut Agis meninggalkan ruangan.
Ketika itu pula Rian mendapati telfonnya berdering.
"Hallo Yud, ada apa?"
__ADS_1
Tanya Rian ketika mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya itu. Suara Yuda sedikit gemetar dan serak membuat Rian menjadi panik.
"Aku dirumah sakit sekarang, Mega... istriku, dia kecelakaan."