
"Fia." teriak Dedi, membentak. Membuat Sefia tercengang. "Apa yang kamu lakukan disini?"
Sefia hanya tertegun, melihat suaminya datang dengan tatapan tajam padanya.
Anggipun segera bangkit sembari merengek, memberi tahu atasannya bahwa ia telah diperlakukan semena-mena.
Dedi menarik istrinya agar mengikutinya dan menjauh dari keramaian.
"Apa yang sudah kamu perbuat? Bukankah aku memintamu untuk tetap dirumah, menjaga Rian untukku?!"
"Itu benar, tetapi aku sangat khawatir padamu. Dia perempuan licik, dia ingin menggodamu."
"Fia." bentak Dedi, geram. "Jadi kamu kesini hanya karena kamu curiga terhadapku? Kamu tidak percaya akan kesetiaanku? Sudah ku katakan! Aku tidak suka jika kamu meragukanku."
"Sayang, bukan maksudku meragukanmu." ucap Sefia ingin menggapai wajah suaminya, tapi ia menepisnya.
"Lalu maksudmu seperti apa, hah? Kamu menyusulku jauh-jauh kemari hanya karena pikiran konyolmu itu, hingga kamu mengabaikan anak kita terbaring dirumah sakit. Kamu mengabaikannya."
Sontak seketika Sefia membelalak kaget, serta tangisnya pun pecah. "Apa? Rian?."
"Tidak perlu kaget, seharusnya diwaktu seperti ini kamu menemani Rian yang masih membutuhkanmu. Dia masih kecil Fia. Kenapa kamu tega ninggalin dia, sih? Aku heran sama kamu, kamu tadi memintaku untuk pergi dengan perasaan tanpa khawatir karena kamu akan merawat Rian untukku, tapi sekarang... Apa yang sedang kamu lakukan, Fia?" Dedi mengusap kasar wajahnya, penuh frustasi.
"Sayang, maafkan aku. Kamu salah paham padaku." tangisnya. "Ijinkan aku menjelaskan semuanya padamu!"
"Tidak perlu! Aku benar-benar kecewa padamu." ucap Dedi berbalik, pergi.
Dan tentu Sefia melangkah cepat menyesuaikan langkah suaminya itu untuk mengejarnya.
"Kita kembali pulang sekarang!" ucapnya tanpa menoleh, meneruskan langkahnya memasuki mobil.
Sefiapun ikut masuk kedalam mobil bersama suaminya, tetapi suasana itu tidak seperti seharusnya karena Dedi tengah menahan gejolak yang ada didadanya.
__ADS_1
Sedangkan Anggi yang melihat itu hanya bisa mengepalkan tangannya penuh emosi.
"Apa kita juga akan ikut pulang, Non?" tanya supir pada Anggi.
"Gak." sahutnya berbalik, lalu kembali kekamarnya.
****
Sepanjang jalan Dedi hanya duduk bersindakap, menutup matanya rapat-rapat. Bahkan, ia mengabaikan Sefia yang ingin mencoba untuk berbicara padanya.
"Jangan berbicara lagi! Aku tidak ingin mendengar apapun sekarang." pintanya, masih menutup mata dan menyatukan alisnya. "Jangan buat aku marah!"
Mendengar itu, Sefia lantas mengalihkan penglihatannya keluar jendela sambil terisak disana.
Kenapa semua jadi serba salah begini.
Sepanjang jalan, Sefia hanya bisa menangis. Dia tak tahu lagi harus bagaimana. Ia sangat khawatir tentang kesehatan anaknya, ia juga sangat takut jika Dedi benar-benar kecewa terhadapnya.
Dedi segera turun mendahului Sefia tidak seperti biasanya, yang selalu membukakan pintu untuk istrinya bahkan melontarkan pujian tanpa henti kepadanya.
Sungguh, hanya begitu saja membuat hati Sefia begitu sedihnya.
"Ratih, bagaimana keadaan Rian?" tanya Dedi tiba-tiba.
Ratihpun beranjak dan menoleh. "Den Rian panasnya tinggi pak hingga mengalami dehidrasi, tapi untunglah tidak sampai kejang."
"Ya Tuhan." ucap Dedi nanar, tak tega melihat anaknya berbaring di inkubator ruang PICU. "Sayang, yang kuat ya! Papi disini, kamu harus sembuh."
Lalu kemudian Sefia datang menyusul. "Sayang." ucapnya terisak, tak tega melihat anaknya itu.
Segera Dedi menarik lengan Sefia tiba-tiba, menyeretnya agar keluar dari ruangan. Menggenggam lengan Sefia dengan kasar hingga ia mengaduh kesakitan.
__ADS_1
"Lihat sekarang! Rian sakit sampai masuk ruang PICU seperti ini, apa kamu masih tega buat ninggalin dia?" tanyanya mengeram.
Sefia menggelengkan kepalanya. "Tidak sayang, aku benar-benar menyesal. Aku hanya takut, takut kamu..."
"Fia." bentak Dedi, menghentikan pembicaraannya. "Tolonglah jangan konyol! Apa gak cukup pembuktianku selama ini, hah? Aku pikir setelah semua yang sudah kita lewati dan kita perjuangkan, membuatmu sepenuhnya mencintaiku."
"Sayang, aku mencintaimu." ucapnya terisak, menggapai jemari suaminya.
"Jika kamu benar-benar mencintaiku, seharusnya kamu tidak akan pernah meragukanku. Apa artinya sebuah cinta tanpa kepercayaan? Dan lebih lagi, kamu bukanlah ibu yang baik. Kamu hanya seseorang yang egois, Fia." tudingnya.
Sefia menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak sayang, kamu salah."
Dedi menepis tangan Sefia agar terlepas dari jemarinya. "Pulanglah! Biarkan aku saja yang menjaga Rian disini, kamu pergi saja dan bawa pikiran konyolmu itu." ucapnya lalu berlalu pergi, masuk keruang inap anaknya.
"Rat, kamu pulang saja! Biar aku yang menjaga Rian disini." pintanya.
"Baik pak." sahutnya menunduk.
"Dan tolong temani Nyonya ya! Dia bukan membutuhkan seorang teman sekarang."
Ratihpun menunduk, tersenyum. "Baik pak, kalo begitu saya pamit undur diri dulu."
"Iya."
****
Memang, Cinta yang panjang selalu erat dengan masalah yang besar. Rumit dan juga menyebalkan.
****
Turut Berduka Cita atas meninggalnya Aktor Asraf Sinclair dan Untuk keluarga yang ditinggalkan semoga tabah.
__ADS_1