SELINGKUH

SELINGKUH
Bertemu kembali


__ADS_3

Enam bulan berlalu sejak Robi mengantar Lila pulang. Tidak pernah ada komunikasi diantara mereka. Begitupun dengan Zaky, Lila tak pernah mencoba menghubunginya lagi. Lila benar benar menghilang dari kehidupan mereka, mencoba menikmati kehamilannya, dengan tinggal di desa bersama ibunya.


Tapi dua minggu lalu ibunya meninggal dunia, karena meningitis, Lila sendirian sekarang. Dan saat ini ia kembali ke kota, bukan ke tempat dira, ia memilih tetap sendiri. Dira baru saja menikah, Ia tak ingin merepotkan. Dira bahkan tidak dikabari soal kepergian ibunya, ya, Lila tidak ingin dira tahu, karena ayahnya pasti akan tahu, Lila tidak ingin bertemu ayahnya lagi.


Lila menjual apartemen pemberian Zaky dan mengontrak rumah yang lebih kecil. Ia sedang hamil dan tidak bekerja, jadi ia takut tidak akan mampu tinggal di apartemen, biaya operasionalnya lebih besar.


Dua minggu Lila hidup dalam kesendirian, tanpa tujuan, tanpa harapan. Tidak ada tempat bicara, hanya sesekali mengobrol dengan bayinya seperti yang di ajari ibu. Dengan tetangga, dikota yang besar ini, semua sibuk dengan urusannya masing masing, paling paling hanya sekedar bertegur sapa saja.


Dua minggu ini pula, satu satunya hal yang di lakukan Lila adalah membuntuti Zaky. Melihatnya keluar dari kantor, mengikutinya saat keluar dari rumah, bahkan menunggu di depan sekolah Zoya hanya untuk menatap Zaky dari jauh. Tidak ada hal lain yang terpikirkan olehnya selain ingin sekali melihat Zaky.


Dan hari ini, seperti hari sebelumnya, Lila berdiri di seberang gerbang sekolah Zoya, menunggu Zaky menjemput Zoya. Kadang Ia harus kecewa karena yang menjemput ternyata Tia atau supirnya, mudah mudahan kali ini Zaky, pikirnya.


Waktu menunjukkan pukul 12 siang, sekolah sudah sepi. Hanya tersisa guru guru dan dua orang murid termasuk Zoya. Lila duduk di mobil yang terparkir di seberang jalan, Ia melihat Zoya dan bu guru keluar gerbang, tapi tidak tampak mobil Zaky. Zoya dan gurunya menyeberang jalan, ke arah Lila, mereka menghampiri pedagang kaki lima yang menjual siomay. Mungkin bu guru ingin membeli jajanan, pikir Lila.


Melihat Zoya duduk di bangku penjual di pinggir trotor membuat hati Lila tergelitik untuk menghampirinya. Lila pun melihat ke jalanan, tidak ada mobil Zaky, dan Ia pun turun menghampiri Zoya.


Ia berdiri di depan Zoya dan memesan satu bungkus siomay untuknya.


" belum di jemput nak?", Lila menyapa Zoya.


Bu guru melirik ke Lila, lalu tersenyum. Zoya menatap Lila dan menggeleng. Lalu Zoya berdiri, Lila dan bu guru menatap heran.


" kenapa? kok berdiri?",


" Tante kan sedang hamil, kata mama hamil itu berat, papa bilang orang hamil itu harus di utamakan, tante duduk saja, Zoya masih kuat berdiri."


Bu guru tersenyum. Lila juga, Ia terenyuh.


Wajahmu mirip sekali papamu, sifat baikmu ini apa dari mamamu?


" tidak apa apa, duduk lah, tante juga masih kuat",


Zoya pun mengangguk, Lalu duduk kembali.


" Adek bayi nya laki laki apa perempuan tante?",


" Laki laki",


" Adik Zoya perempuan semua",


"Ohh, Zoya senang punya adik perempuan semua?",


" Senang dong, papa bilang, biar papa tetap yang paling ganteng",


Mereka pun tertawa mendengarnya. Tukang siomay memberikan bungkusan kepada bu guru dan Lila, mereka lalu membayarnya dan mengobrol sedikit ketika tiba tiba Zoya berteriak " aaaaakkhhh...", seorang pria menarik tubuh Zoya dan hendak menggendongnya.


Lila yang tersentak dengan teriakan Zoya sontak melempar bungkusan ke pria itu. Pria itu melepaskan Zoya dan bersiap akan lari. Lila refleks mengangkat kursi dan berlari beberapa meter sebelum kemudian menghantam tubuh pria tadi dengan kursi. Pak siomay dan bu guru yang baru menguasai keadaan segera berteriak dan berdiri mengejar, tapi pria tadi lolos.


Lila berdiri terengah engah mengatur napasnya. Perutnya terasa nyeri di bagian bawah. Ia berjalan ke pinggir dan duduk di beton taman pinggir trotoar. Zoya berlari ke arahnya memeluknya. Lila memeluk Zoya.


" tidak apa apa, dia sudah pergi",


" tanteeeee.. huhuhu...", Zoya memeluk Lila erat. Bu guru berjongkok mengusap usap punggung Zoya. Beberapa orang mulai berkerumun.


Sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka, Tia turun di susul dengan Zaky. Tia melihat Zoya di balik kerumunan.


" A-ada apa ini? Lila!", Tia terkejut saat mendapati wanita yang memeluk anaknya adalah Lila.


Zaky yang baru sadar itu adalah Lila segera menarik Zoya ke pelukannya dan menatap Lila tajam.


" Apa yang kau lakukan!", Zaky bertanya setengah berteriak.


Lila tidak mampu menjawab, Ia masih shock dengan kejadian yang begitu cepat tadi, perutnya juga sakit. Bu guru yang tidak ingin ada kesalahpahaman segera berdiri dan menjelaskan.

__ADS_1


" Maaf bapak, ibu, tadi ada seorang pria yang hendak mengambil Zoya, tapi ibu ini menggagalkannya, Jika saja ibu ini tidak bertindak tadi mungkin Zoya sudah di bawa pergi. Ini semua kesalahan saya, harusnya saya tidak membawa Zoya keluar dari gerbang."


Tia menatap Lila.


Dia menyelamatkan anakku. Apa Zoya benar benar akan di culik? ini bukan jebakannya kan? dia saja sampai pucat begitu, ini pasti bukan rencananya.


" Ohh.. jadi begitu bu? baiklah, tidak apa apa yang penting Zoyanya selamat. Ibu kembali saja ke sekolah, kami juga akan pulang",


Bu guru mengangguk lalu menyeberang jalan, kembali ke sekolah. Kerumunan pun telah bubar, hanya mereka bertiga dan si kecil Zoya yang berdiri di pinggir jalan.


"Lila, ini mobilmu kan?" tanya Tia. Lila mengangguk.


" Sayang, kau pulanglah bersama Zoya, aku akan ke rumah sakit dengan Lila",


" Apa? untuk apa membawanya?",


" Apa kau tidak Lihat dia sedang hamil? dia mengangkat kursi itu untuk menyelamatkan anak kita. Aku hanya ingin memastikan Ia baik baik saja. Lila masuklah ke mobilmu, kita akan ke rumah sakit, lalu aku akan mengantarmu pulang",


Zaky dan Lila sama sama menggeleng.


" Kalian berdua! Sayang.. ayolah, dia sedang hamil tua, dan Lila, kau jangan bersikeras. Kau bahkan masih gemetar begitu, mana bisa menyetir. Kemarikan kuncinya."


Lila melirik Zaky yang menatapnya dengan sinis. Lalu beralih ke Tia yang menengadahkan tangan menunggu kunci.


" Ya sudah, aku akan pulang bersama zoya. segera pulang begitu selesai", kata Zaky.


" Iya", sahut Tia. Zaky pun memeluk bahu zoya untuk masuk ke mobil, tapi Zoya berlari ke Lila memeluknya.


" Terima kasih tante, mudah mudah adik bayinya sehat."


Lila tersenyum dan mengusap rambut Zoya. Zaky Lalu menarik lengan Zoya membawanya masuk ke mobil. Mobil pun melaju.


Melihat Zaky pergi, Lila memberikan kunci mobil pada Tia. Tia membukakan pintu dan membantu Lila masuk ke mobil, kemudian Ia masuk. Mereka menuju ke rumah sakit.


"Lila, kau baik baik saja?",


" Apa perutmu sakit?",


" sedikit",


" Bagaimana bisa kau mengangkat kursi tadi, kau sedang hamil besar, kendalikan dirimu...",


" Aku takut sekali dia akan membawa Zoya pergi."


" Jadi berapa usia kandunganmu? 8 atau 9?",


" 8 akan penuh minggu depan",


Tia mengangguk, sesekali menatap Lila.


Hamil tua tapi tubuhmu kurus sekali, bagaimana bisa seperti itu, apa dia tidak selera makan, perutnya saja kecil begitu.


Lila juga sesekali mencuri pandang ke Tia.


Bagaimana bisa dia masih peduli padaku setelah semua yang aku lakukan.


Setengah jam kemudian mereka tiba di rumah sakit, setelah mendaftar mereka segera menemui dokter spesialis obgyn. Dokter memeriksa Lila dan melakukan pemeriksaan USG.


" Janinnya tidak apa apa, hanya saja untuk usia kehamilan 36 minggu, ukuran bayinya masih terbilang kecil. Ibu harus makan makanan yang bergizi dan seimbang. Jika berat badan bayi cukup ia akan lebih siap jika saja ada masalah saat kelahiran nanti."


" Baik dok, saya akan pastikan Ia makan dengan baik mulai sekarang", kata Tia. Mereka pun pamit.


Lila dan Tia dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


" Apa kau masih tinggal di apartement itu?",


" Tidak, aku menjualnya dan mengontrak rumah yang lebih kecil",


" Kenapa?",


"Aku tidak bekerja, tidak akan mampu membiayai hidupku",


"Dengan siapa kau tinggal",


"Sendiri",


" Mengapa tidak mengajak ibumu?",


"Dia .. baru saja meninggal.. dua minggu yang lalu, karena itu aku kembali kesini",


"Maafkan aku..",


"Tidak apa",


"Itu sebabnya kau tidak hadir di pernikahan sepupumu, siapa ya namanya?",


"Dira, Iya.. sehari sebelum pernikahannya ibuku meninggal".


Tia diam sejenak.


Kasihan sekali. Dia sendirian. Pantas saja sampai kurus begitu. Dia pasti tertekan, apalagi baru kehilangan ibunya.


Tia memutar kemudi mobil menuju arah rumahnya, Lila menjadi heran.


" mau kemana kita?",


" ke rumah",


" kenapa? oh, aku mengantarmu dulu ya?",


" tidak, kau ikut bersamaku",


"untuk apa?",


Tia menatap Lila sesaat.


"Tinggallah bersamaku!".


Deg!


---


Semoga suka ya 😊


Show your love ya pembaca yang baik.


❤❤❤


☺Like


☺Commet


☺Share


☺Rate


☺Vote

__ADS_1


☺Favorite


Makasi buat kalian yang selalu dukung aku.


__ADS_2