
"Yuda." sapa Angga memasuki kamar anaknya, duduk disebelah anaknya. "Ada apa kamu memanggil papa?"
"Gini pa, hm.." Yuda ragu.
Lalu Angga melirik kertas yang ada ada ditangan Yuda. "Itu apa?" tanyanya.
Memberikan kertas putih itu pada papanya. "Papa baca aja!"
"Ini dari sekolah, ya?" tebaknya.
Yuda mengangguk. "Maaf pa? Beneran Maafin aku pa. Aku janji gak akan membuat keributan lagi." sahutnya memohon, menyatukan jemarinya didada.
Angga tersenyum meski ia kecewa. "Ya sudah gak apa-apa kok, lain kali jangan begini lagi ya!" pintanya, dengan nada kelembutan.
"Makasih pa." memeluk papanya yang baik.
****
Seperti biasa di pagi hari Sefia membangunkan Rian untuk bangun dan bersiap sekolahnya.
"Rian sayang, bangun dong! Ntar kesiangan." ucap Sefia membangunkan Putranya.
Dengan berat, Rian mencoba bangun dan beranjak duduk, langsung memeluk maminya itu.
"Eh sayang, Jangan tidur lagi! Hayo bangun!" pinta Sefia, ingin melepas pelukan anaknya.
Rian mengeratkan pelukannya, menyandarkan kepalanya didada maminya. "Bentar mi, lima menit lagi deh." ucapnya memohon.
"Gak bisa sayang, lepasin mami!" pintanya.
"Ah mami, meluk doang pelit banget sih. Mentang-mentang udah ada yang baru." rengeknya.
Sefia jadi tertawa. "Bukan begitu, tapi mami udah gak sanggup kalo duduk lama-lama apalagi sambil kamu peluk kayak barusan."
"Oh gitu, sakit kah mi pinggingnya? Mau Rian pijetin?" tawaranya kemudian.
Sefia mengacak rambut anaknya, gemas. "Gak usah sayang, mami udah baik-baik aja." sahutnya. "Mending Rian langsung bangun deh! Soalnya mami kan harus kesana juga nanti."
"Oh iya, Rian lupa." langsung beranjak dari tempat tidurnya dan langsung mengecup pipi maminya. "Rian mandi dulu." pamitnya buru-buru memasuki kamar mandi.
Setelahnya Rian langsung pergi sarapan bersama papi maminya dan langsung berangkat buru-buru kesekolah.
"Hati-hati dijalan." ucap Dedi pada anaknya yang sudah berlalu pergi itu.
"Papi juga hati-hati dijalan." ucap Sefia, berdiri disebelah suaminya.
"Baiklah sayang, aku pergi dulu." pamitnya mencium kening istrinya berbalik untuk pergi, tetapi ia kemudian berbalik kembali.
"Ada apa?" tanya Sefia heran.
CUP
Mengecup bibir istrinya, lalu mencium perut istrinya juga dan tersenyum. "Tadi lupa." sahutnya. "Papi pamit berangkat dulu."
"Ih, mami kira apaan, hati-hati ya." melambaikan tangan.
"Iya." sahutnya lalu melaju pergi.
Setelahnya Sefia langsung bersiap diri untuk datang ke sekolahan anaknya.
****
__ADS_1
"Kak Rian." sapa Putri mendekati Rian yang tengah duduk dibangkunya, memberikan minuman untuknya. "Ini buat kakak."
Rian tertegun, kenapa bukan buat Yuda, pikirnya. "Makasih." ucapnya ketika menerima.
"Hm, kapan kak Rian ada waktu? Putri ingin mengatakan sesuatu."
Rian melirik Yuda, tapi anehnya Yuda bahkan tak peduli. Bukankah mereka sudah resmi berkencan, pikirnya penuh heran.
"Lo ingin ngomong soal apa?"
"Aku suka kakak." sahutnya berbisik malu-malu.
Rian tertegun, lalu menarik Putri agar menjauh dari keramaian. "Put, bukannya lo udah jadian ya sama Yuda?"
Putri menggelengkan kepala cepat. "Gak kok kak." sahutnya cepat. "Bahkan kak Yuda udah tahu kalo Putri sukanya sama kakak, malam itu kita gak pergi kencan."
Berarti malam itu Yuda tahu kalo gue ada disana.
Rian menepuk dahi. "Astaga! Dia itu kenapa sih." dengusnya kesal, membuat Putri heran.
"Kakak kenapa?"
"Gak apa-apa kok." memegang kedua sisi lengan Putri. "Tolong beri gue waktu buat jawab, ya! Setidaknya sampai besok." ucapnya penuh harap.
Putri tersenyum malu. "Baik kak."
"Terimakasih sudah menyukaiku." ucap Rian mengacak rambut Putri, gemas.
"Rian." panggil salah satu teman sekelasnya, memecah suasana. "Lo disuruh ke ruang kepala sekolah tuh."
Rian menoleh. "Oke! Makasih ya."
"Yoi." sahutnya, kemudian kembali ke kelas.
"Iya kak." sahut Putri penuh senyum senang, lalu menghembuskan nafas lega.
****
Disana sudah ada Yuda dan papanya menunggu, saat Rian mulai masuk ke dalam ruangan dan memberi salam, Sefia juga datang.
Sefia membungkuk hormat. "Maaf saya datang terlambat." sapa Sefia memasuki ruangan lalu duduk disebelah anaknya.
Angga tertegun, menoleh pada anaknya. "Yud, kamu berantem sama Rian?"
Yuda mengangguk. "Iya pa." sahutnya, enteng.
Sefia juga gak kalah tertegunnya. "Yuda ini anak mas?" tanya Sefia.
Angga mengangguk. "Iya dek." sahutnya.
Dan mulailah mereka bercakap, saling meminta maaf tetapi hanya kedua orangtua mereka, sedangkan Yuda dan Rian masih dengan egonya.
"Nak, bilang maaf gih sama Rian!" pinta Angga pada anaknya.
"Gak pa, Rian sendiri yang udah mukul Yuda duluan." sahutnya menyalahkan.
Sefia mengelus rambut anaknya. "Sayang, apa yang dikatakan Yuda itu benar?"
Rian mengangguk. "Iya mi." sahutnya.
"Oh, jadi kalau begitu Rian duluan yang harus minta maaf sama Yuda!" pintanya.
__ADS_1
"Gak mi." sahut Rian tegas. "Yuda emang pantas dapet itu kok."
"Rian, gak boleh gitu Nak." tegurnya, lalu menoleh pada Yuda. "Yud, maafin Rian ya?"
"Cih!" jawab Yuda memalingkan muka, bersikap malas. Membuat Rian geram dan kembali mencengkram krah seragam milik Yuda.
"Sikap lo ke nyokap gue keterlaluan ya! Nyokap gue salah apa sih sampek lo gak menghargai, hah?" bentaknya, kesal.
"Rian, Rian. Udah, tenang sayang! Kita bicarain baik-baik, ya?" pinta Sefia, dan segera Rian melepas cengkramannya.
"Yuda, kenapa sikapmu seperti ini sih, Nak? Cepat minta maaf!" desak Angga pada anaknya.
"Gak pa, jangan suruh Yuda minta maaf."
Kedua orangtua menghela nafas, merasa lelah dengan sikap kedua anaknya tidak ada yang mau mengalah.
"Rian, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa kamu sampai mukul anak Om?" tanya Angga, ingin menengahi.
"Sikap anak Om udah keterlaluan, dia buang bekal yang sudah mami buatin susah payah demi dia, padahal mami waktu itu lagi gak enak badan. Dan parahnya, Yuda bahkan merasa gak bersalah sama sekali." sahut Rian menjelaskan dengan geram.
Sontak Angga pias seketika, ia menunduk sedih mengingat kelakuan anaknya tak ada bedanya dengan dirinya yang dahulu.
"Yuda, minta maaf sama tante Sefia!" pinta Angga dengan tegas.
Yuda tetap diam, tidak menghiraukan.
"Yuda." bentak Angga, membuat Yuda terperangah. "Minta maaf sekarang juga! Kalo enggak, papa gak akan pernah maafin kamu." ancam Angga penuh penekanan.
"Papa." Yuda terkejut, ia kemudian menoleh pada dua orang di depannya lalu membungkuk memberi hormat. "Maaf." ucapnya, lalu pergi tiba-tiba.
Angga juga membungkuk memberi hormat. "Maaf ya, dek? Aku mau nyusul Yuda." pamitnya sebelum ia pergi menyusul anaknya.
"Iya mas, susul Yuda mumpung belum jauh." sahut Sefia, mendesaknya. Lalu menoleh pada anaknya. "Rian, apapun masalahnya, jangan sampai main pukul ya, Nak?"
Rian mengangguk. "Iya mi, maaf Rian terlalu emosi jika itu menyangkut mami." sahut Rian membuat terharu.
"Mami sayang Rian." memeluk anaknya penuh sayang.
Sedangkan Angga berlari mengejar anaknya. "Yud! Berhenti!" pinta Angga, berteriak.
Yuda akhirnya menghentikan langkahnya, duduk dibangku taman belakang gedung sekolah. Lalu Angga datang melangkah duduk bersamanya.
"Yud, kenapa sikapmu berubah seperti ini sama tante Sefia?" tanya Angga dengan nada kelembutan.
Yuda malah meneteskan airmatanya, tak tahan. "Yuda gak suka pa." sahutnya, berusaha tenang.
"Iya, gak suka karena apa? Tante Sefia kan orangnya baik, Nak."
"Yuda gak suka aja, pa." sahutnya menatap papanya. "Gak suka saat Yuda tahu kalau dia itu mantan istri papa, dia juga yang udah bikin papa pisah sama mama."
Angga menghela nafas mendengar anaknya ini hanya salah paham. Angga juga tidak mungkin sanggup menceritakan kebenaran pada anaknya ini karena sungguh akan menyakitkan bagi Yuda yang sudah menderita sejak kecil, apalagi dia akan tahu bahwa mamanya sendirilah yang sudah menghancurkan rumah tangganya, bahkan terburuknya adalah dia akan tahu bahwa dia bukan anak kandungnya.
Bagaimana mungkin Yuda sanggup mendengar kenyataan bahwa dirinya memang anak haram, sesuai dengan perkataan neneknya yang seringkali menyakitkan.
"Maafin tante Sefia, ya!" pintanya mengelus rambut anaknya. "Yuda hanya salah paham saja, suatu saat Yuda pasti mengerti."
"Maaf pa, aku masih belum bisa menerima." sahut Yuda tak tahan, menghapus airmatanya.
Angga kemudian memeluk anaknya penuh sayang. "Papa sayang kamu, Nak." ucapnya, membuat Yuda kembali menangis.
"Yuda juga."
__ADS_1
****
Konflik akan segera dimulai ya! Sesuai dengan sinopsis, sebentar lagi :* tolong maklumi.