
Desi kini tengah berjalan melewati lorong rumah sakit, gejolak gang semula ia tahan kini runtuh.
Air matanya mengalir begitu saja, bersamaan dengan sesak didadanya.
Sejak kecil ia hidup seorang diri, hanya ditemani beberapa pelayan yang kini sudah menjadi keluarganya sendiri.
Ia selalu hidup menyendiri, dan seperti yang pernah Desi katakan sebelumnya pada Rian bahwa dirinya dahulu adalah seorang kutu buku. Meskipun begitu ia tak berhati lemah, walau banyak teman yang menggunjingnya bahkan membully dirinya. Sampai akhirnya perlahan ia berubah dan bertemu dengan kedua sahabatnya, Loli dan Mega.
Desi selalu tak ingin menampakkan kesedihannya yang begitu dalam, tapi ketika ia melihat sosok kedua orangtua Rian yang teramat sangat berhati lembut. Sungguh, Desi merindukan kehangatan dari orangtuanya itu.
Ia memang manusia biasa, terkadang marah ketika orangtuanya tidak pernah menanyakan kabarnya. Tapi seiring waktu itu sudah menjadi hal biasa baginya.
"Mama sama papa jauh juga untuk bekerja, untuk mencukupi kebutuhanku agar aku bisa hidup layak dan berkecukupan." ucapnya mencoba mengerti meski dalam tangis. "Bisakah, bisakah aku tidak keberatan jika mereka jauh dariku? Salahkah jika aku ingin mereka selalu disisiku, menyayangiku seperti layaknya keluarga yang lain?"
Ia kemudian terduduk, memukul dadanya yang sesak. "Mama, papa. Maafkan Aku ingin egois."
****
Disisi lain Yuda tengah duduk memesan minuman dengan Mega.
"Kalo Rian udah sadar, kenapa kamu nyusulin aku?" tanya Mega heran.
"Ya kan, aku gak mau ganggu." sahutnya, membuat Mega bingung.
"Desi udah dateng, ya?" tebaknya.
Yuda mengangguk. "Iya, makanya aku nyusulin kamu." sahut, namun kemudian ia tertawa membuat Mega mengerut kening bingung.
"Kenapa? Ada hal lucu?"
"Iya, lucu banget malah." sahutnya tertawa. "Temenmu yang satu itu tadi heboh banget, entah dia akan membuat Rian nyaman atau malah semakin membuatnya kesal."
"Iya, kamu bener juga sih. Seharusnya tadi aku tidak memberitahunya."
"Ya itu juga tidak apa-apa, dia kayaknya memang tulus banget sama Rian."
"Lah, kamu dari dulu mikirnya kalo Desi itu gak tulus dan gak serius?"
Yuda mengangguk, ragu. "Ya sebenernya sih iya, soalnya dia anaknya suka secara gamblang mengatakan perasaannya. Ya, semacam cuma sekedar perasaan kagum begitu."
"Kamu salah besar! Dia itu tidak mudah mengatakan perasaannya pada siapapun, bahkan ketika dia sangat sedih dan ingin menangis." sahutnya menjelaskan. "Rian itu cinta pertamanya, Desi begitu menyukainya. Hanya saja sikapnya seperti itu."
Seketika Yuda tertegun. "Kamu serius?"
Mega mengangguk cepat. "Serius! Kamu tidak boleh menilai seseorang hanya dari luarnya saja, karena belum tentu orang yang ceria luarnya, dalamnya begitu juga." sahutnya menjelaskan. "Desi sangat tahu kalau Rian masih belum bisa melupakan Putri, maka sikap tengilnya itulah semata hanya untuk menutupi kesedihannya."
"Apa Desi masih berpikir begitu?"
"Iya, hanya saja dia tidak mau berterus terang. Makanya dia tutupi dengan tingkah percayadirinya yang tinggi." sahut Mega, tertawa miris pada nasib temannya itu.
Yuda menghela nafas. "Hah, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Semoga Rian tidak mengecewakan gadis menyebalkan itu." ucapnya penuh harap, namun justru mendapat cubitan kecil diperutnya.
"Kamu lebih menyebalkan tahu." sahutnya, membuat Yuda jadi tertawa.
"Kita kembali ke Rian, yuk!" ajaknya kemudian.
"Yuk!"
Mereka berjalan bergandeng tangan, sesampai di pintu gedung. Mereka bertemu dengan Desi yang baru saja keluar.
"Des, lo udah mau pulang?" tanya Mega.
__ADS_1
Desi mengangguk. "Iya, gue masih ada perlu." sahutnya buru-buru. "Gue duluan ya!" pamitnya, melangkah pergi.
"Loh." Mega heran.
"Udah ah! Dia mungkin memang lagi ada perlu." ajak Yuda kembali.
Kini mereka sudah memasuki ruang kamar perawatan, lalu memberi salam pada Dedi dan Sefia yang berada disana.
"Malam om, malam tante." sapanya.
"Malam." sahut mereka bergantian.
"Rian udah mau pulang?" tanya Yuda ketika Perawat sudah mencopot selang infus dipunggung tangannya.
Sefia mengangguk. "Iya, katanya dia udah baik-baik aja. Tante udah minta dia istirahat disini tapi dianya gak mau."
Rian menoleh pada sang mami. "Rian beneran baik-baik aja mi, tinggal oles salep doang pasti lebamnya hilang kok." sahutnya menenangkan.
"Yang dikatakan Rian bener mi, jadi mami gak perlu terlalu khawatir." sahut Dedi meyakinkan.
Sefia menghela nafas pasrah. "Baiklah."
"Oh ya mi, pi, kenalin ini Mega teman sekelas Rian sama Desi." ucap Rian, memperkenalkan gadis yang tengah menunduk malu didepannya. "Pacarnya Yuda." tambahnya kemudian, membuat keduanya jadi malu.
"Apa kabar tante." sapanya.
"Ah, iya baik. Kamu temennya Desi juga, ya?"
"Iya tan, Desi sahabat saya." sahutnya malu-malu.
"Oh ya Meg, kenalin juga ini papiku yang paling keren." ucap Rian memperkenalkan.
"Hallo Mega." sapa Dedi tersenyum.
"Ah, terimakasih pujiannya." sahut Sefia, dan Dedi merangkul istrinya.
"Sebaiknya kalian berdua langsung pulang, biar Rian pulang bersama kami." pinta Dedi pada Mega dan Yuda. "Kalian sepertinya belum pulang sama sekali."
"Baik, om." sahut Yuda. "Kalau begitu kita pamit pulang duluan, cepet sembuh ya Rian dan makasih."
"Ya, sampai jumpa."
"Sampai jumpa Rian."
****
Kini Desi tengah merebahkan tubuhnya diatas kasur seorang diri, karena Loli ada janji temu dengan Erfan jadi dirinya kini seorang diri.
Setelah lama menangis, ia jadi tertidur dan bangun ketika larut malam.
"Ya Tuhan, aku sampai ketiduran." gumamnya, beranjak duduk dari tidurnya. "Rian, gimana kabarnya sekarang ya? Aduh, kenapa tadi aku pulang dulu gak nemenin dia sih."
"Argh!" Desi mengacak rambutnya frustasi, lalu berpikir lagi. "Tapi, belum tentu juga dia mau aku temani." gumanya lagi dengan pilu.
Kemudian ia mendengar notif di ponselnya berbunyi.
Desi melihat isi percakapan kedua temannya itu, tapi tak disangka. Mereka berempat sudah masuk dalam group chat dan saling berbalas pesan. Loli, Mega, Yuda, Rian dan juga Erfan.
Yuda Pratama : Lukanya masih sakit gak?
Rian Atmadja**** : Udah enggak kok, cuma masih nyeri dikit. Besok gue mau masuk.
__ADS_1
Lova Lia : Coba kecup si Desi, auto langsung sembuh.
Yuda Pratama : 🤮🤮🤮
Lova Lia**** : 🗡️🗡️🗡️🗡️ sini!
Mega Nanda : Yuda keterlaluan deh.
Rian Atmadja : Putusin Meg!
Erfan Susanto : Gue siap nampung.
Yuda Pratama : Dasar teman lucknut kalian, becanda doang kok Beb.
Mega Nanda**** : Iya beb, aku ngerti kok.
Lova Lia**** : beb? 🤮🤮🤮🤮
Erfan Susanto : 🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮
Rian Atmadja**** : 🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮
Yuda Pratama**** : Iri tanda tak laku.
Lova Lia****: Si Erfan.
Erfan Susanto : Lo maemuneh.
Lova Lia : Gue bukan gak laku, tapi gue itu sukanya naksir orang yang gak naksir gue aja.
Mega Nanda : lol
Membaca isi percakapan mereka sontak Desi jadi tertawa. "Apaan sih mereka, gak jelas banget." gumamnya.
Desi M. Meiza : Syukurlah kalau Rian udah baik-baik aja.
Saat Desi membalas di group chat yang kini penghuninya sudah sepi, tiba-tiba ponselnya berbunyi kembali.
Rian Atmadja : Belum tidur?
Sontak Desi terlonjak kaget ketika Rian mengirimi ia pesan langsung. "Ini bukan mimpi kan?" mengucek matanya yang dirasa berhalusinasi. "Ya ampun, ini beneran dia."
Desi M. Meiza**** : Aku baru aja bangun, haus tadi. Kamu sendiri kok belum tidur?
Rian Atmadja : Tadi sih udah mau tidur, eh dapet notif pesan di group chat.
Desi M. Meiza****: Sorry ya aku ganggu.
Rian Atmadja : Gak kok, becanda doang. Gue juga bangun karena kehausan.
Desi M. Meiza : Ah, ya udah selamat malam ya! Banyak istirahat buat lekas sembuh dan sampai jumpa besok.
Rian Atmadja : Iya, sampai jumpa di sekolah.
Rian mengerut kening bingung. "Tumben Desi bicara layaknya orang normal." gumanya tersenyum, ketika mengingat gadis yang baru saja berbalas pesan dengannya itu.
****
Xie-Xie.
Jangan lupa sedekahin POIN kalian berdua!!
__ADS_1
Ini pembentukan karakter ya! Nanti akan saatnya ketegangan dimulai :) ikuti alur yah zeyeng :*