SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION: Di marahi


__ADS_3

Rian saat ini mengacak rambutnya gusar, ia tak terfikir bahwa akan merusak acara pernikahan sahabatnya itu, namun ia tak menyesal ketika melakukan hal itu pada Desi.


Bayangan ketika ia mendekatkan bibirnya pada bibir Desi membuatnya terbayang, ia lalu menyentuh bibirnya bekas ciuman hangat itu.


"Ah tidak, aku kenapa jadi gila begini." Rian menggelengkan kepalanya, berharap menghapus bayangan ke haluannya. "Ah sial!"


Ketika Rian menunduk frustasi sembari membenturkan kepalanya ke meja, tiba-tiba seseorang dari belakang mengagetkannya.


"Astaga!" ucapnya kaget sambil menoleh. "Jantung ku hampir copot tahu." geramnya.


"Cih, bisa kaget juga." Yuda duduk disebelah Rian, mengambil segelas anggur milik Rian lalu meminumnya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat keributan di acara pernikahan kalian berdua." sesalnya.


"Tidak masalah, justru itu menguntungkan ku. Pernikahan ku jadi ramai di media, mungkin sebentar lagi aku akan mengikuti jejak Desi menjadi artis terkenal." sahutnya bercanda lalu menoleh pada temannya sambil menyisir rambutnya kebelakang. "Lihat! Bukan kah teman mu ini cukup tampan?"


Seketika Rian jadi tertawa, "Tentu kau tampan, tapi tidak akan lebih hebat dariku." sombongnya membuat Yuda jadi geram saja.


"Oh ya, kenapa kamu disini? Seharusnya kamu mendampingi istrimu menyambut tamu yang datang." lanjutnya, bertanya.


"Tenanglah, aku hanya beristirahat sejenak."


Sebenarnya Yuda mengkhawatirkan sahabatnya ini, karena tentu hati Rian sedang tidak menentu apalagi Desi yang selama ini ia cari dan ia tunggu telah terikat dengan orang lain.


"Kamu kan sudah tahu tentang status Desi yang sekarang, apa kamu tidak ingin melakukan konferensi pers untuk meluruskan semuanya?"


"Konferensi pers untuk apa?"


Yuda jadi mengernyitkan dahinya bingung. "Maksudku meluruskan ke salah pahaman kalian. Dia kan sudah bertunangan, jadi kamu harus menjelaskan bahwa diantara kalian tidak terjalin hubungan apapun."

__ADS_1


"Tidak mau!" jawab Rian tenang. "Aku yang akan menikah dengan Desi."


"Apa!! Kau gila?!" Yuda jadi kaget ketika sahabatnya ini berbicara enteng begitu.


"Ha ha ha, aku memang gila. Jadi aku memisahkan mereka, aku yang akan membuat Desi meninggalkannya, sama halnya dia meninggalkan ku dulu."


Rian berucap dengan nada tenang meyakinkan, entah apa yang ada dipikirannya sekarang.


Yuda jadi menghela nafasnya kasar, dia tidak bisa melakukan apapun. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


"Aku belum memikirkannya, tetapi yang pasti aku membuat mereka berpisah." tekannya, sembari meneguk minuman yang baru saja ia tuang.


****


Untukmu, semua hati yang pernah mencintai dan dicintai. Yang pernah di khianati sampai tak ingin hidup lagi. Baca kisah ini dengan hati hati.


****


"Itu, itu tidak seperti yang mama pikir. Meiza bisa menjelaskan itu semua." sahutnya panik, ketika mendengar kemarahan dari suara mamanya.


"Kamu tidak perlu menjelaskan itu semua pada mama, Daren akan segera menyusul mu. Jadi, kamu harus menjelaskan kesalahan pahaman ini padanya."


"Apa? Daren mau datang kesini?" Desi jadi panik ketika mengetahui tunangannya akan segera menyusul.


"Pikirkan alasannya dengan benar, mama akan menutup telfon."


"Ma, mama." panggil Desi ketika mamanya buru-buru memutus sambungan telfonnya.


Desi jadi panik sembari mondar mandir, berjalan kesana kemari untuk berpikir tapi tak kunjung mendapat ide untuk beralasan.

__ADS_1


"Aduh, gawat!" ia jadi membanting tubuhnya diatas kasur dan gusar. "Rian sialan!" teriaknya.


Disisi lain Rian tak kalah frustasi nya ketika ia pulang kerumah dan langsung disambut oleh beberapa pertanyaan oleh papinya.


"Jika kamu ingin bertindak seharusnya berpikir terlebih dahulu, kamu itu sudah dewasa bukan anak kecil lagi. Papi juga sudah beberapa kali mengingatkan mu agar menjaga sikap dan tidak bertidak gegabah."


Rian hanya menunduk pasrah tanpa menyahut, sepertinya ia sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Ketika Rian melakukan kesalahan, orangtuanya memarahinya layaknya anak kecil, karena se dewasanya anak, ia tetap anak kecil bagi kedua orangtuanya. Jadi, Rian hanya menunduk mendengarkan meski ia tetap akan melakukan kesalahan yang sama berulang.


Ketika Dedi tak berhenti mengomeli anaknya itu, tiba-tiba suara dering terdengar di ponsel Rian.


"Irfan."


Rian membaca nama assistennya itu lalu langsung mengangkatnya ketika Dedi lengah, menoleh pada sang istri.


"Pak, saya sudah mendapatkan semua informasi mengenai tunangan Nyonya Desi."


"Aku akan segera kesana."


Tanpa mempedulikan sang papi yang kini menoleh padanya kembali untuk memarahinya, Rian langsung saja berlari pergi untuk menemui sekertaris nya itu.


"Rian, kamu mau kemana papi belum selesai?" teriaknya, tapi Rian tak mempedulikannya.


"Dasar anak nakal." geramnya ketika Rian telah berlalu pergi dan langsung melajukan kendaraannya.


"Sudah, papi jangan marah-marah. Maklumi dia, anak muda jaman sekarang memang susah ditebak." Sefia mengelus dada suami, memberi ketenangan padanya.


Dedi jadi menghela nafas lalu mengangguk, "Lebih baik papi beristirahat saja dari pada memikirkan anak itu." ucapnya dengan kesalnya.


Sefia jadi tertawa. "Hayuk mami temenin."

__ADS_1


__ADS_2