SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Kunci Saksi


__ADS_3

Kini Sefia dan Dedi telah kembali pulang, tetapi permasalahan yang mereka hadapi masihlah harus dituntaskan.


Belum lagi ketika Dedi mendapatkan informasi bahwa terdapat beberapa gang di sekitar lokasi yang bisa dilalui oleh pejalan kaki, tetapi sayangnya mereka tidak memasang CCTV.


Kenyataan itu membuat Sefia tak henti untuk melihat hasil rekaman CCTV, berharap ada petunjuk meski itu sangat kecil kemungkinannya.


Ia memasang penglihatannya, menajamkannya bahkan rasanya tak berkedip karena terlalu fokusnya.


Lalu kemudian ia benar-benar menemukan keanehan pada hasil rekaman CCTV sebuah toko yang tutup, hanya menampilkan area parkir pengunjung.


Disana terlihat sebuah mobil terparkir dan Sefia melihat mobil itu mengeluarkan cahaya merah, membuatnya sangat berharap. "Pi." teriak Sefia, memanggil suaminya. "Pi, cepat kemari!" desaknya.


Dedi melangkah menghampiri istrinya. "Ada apa, mi?"


"Lihat!" menunjuk mobil. "Bukankah ini sebuah kemera?"


Dedi menajamkan penglihatannya juga. "Iya, mami benar. Mereka memasang CCTV dimobilnya, dan ini lokasinya tepat disebelah salah satu gang yang hanya dilalui oleh pejalan kaki."


Merekapun saling bersitatap, penuh harap.


Setelahnya Dedi langsung menghubungi asistennya, meminta Erfan segera mengambil hasil rekaman CCTV pemilik mobil sekarang juga.


Dedi memeluk istrinya. "Semoga ini benar-benar petunjuk yang akan kita dapatkan."


"Semoga pi." sahut Sefia penuh harap.


Setelah lama mereka menunggu informasi dengan gelisah, mondar-mandir tidak tenang serta gelisah. Akhirnya Erfanpun menghubungi atasannya.


"Bagaimana? Kamu sudah mendapatkannya?" tanya Dedi pada asistennya itu.


"Sudah pak, saya bahkan sudah melihat hasilnya."


"Bagaimana?"


"Sebaiknya Anda menyaksikannya sendiri! Saya akan mengirimkannya pada Anda."


"Baiklah."


Segera Dedi memutus sambungan telefonnya.

__ADS_1


"Bagaimana pi? Apa memang ada petunjuknya?" tanya Sefia penasaran.


Dedi mengangguk, tersenyum lega. "Kita akan menyaksikannya sendiri."


Kemudian Erfan segera mengirim hasil rekamannya, Dedi dan Sefia menyaksikannya bersama.


"Astaga!" Sefia menutup mulutnya yang menganga karena terkejut.


Terlihat jelas dimana seorang pemuda memakai jaket tebal dan topi, telah membekap Putri dan menyeretnya masuk kedalam gang sepi. Tentu Sefia memegangi dadanya yang bergejolak hebat, mengerti akan kondisi Putri yang pasti sangat ketakutan waktu itu.


Sebagai orangtua, ia juga mampu merasakan penderitaan yang telah Putri rasakan.


Setelah itu beberapa saat kemudian, datang seorang pemuda lain yang tentu Sefia dan Dedi kenal.


"Pi, stop!" pinta Sefia, men-skip tayangan video. "Bukannya ini Yuda?"


"Iya, ini Yuda mi." sahut Dedi dengan pasti.


"Berarti Yuda juga berada di tempat kejadian waktu itu, tapi dia tidak mengatakannya karena terlalu membenciku." simpulnya, membuat dadanya sesak kembali.


Dedi mengelus lengan istrinya, merangkulnya. "Nanti kita meminta penjelasan dan kesaksian dari Yuda, karena hanya Yuda yang tahu jelas siapa pemuda yang telah melakukan pelecehan pada Putri. Bukan anak kita yang selama ini mereka tuduhkan."


"Tapi, kenapa Putri bisa berbohong?" tanya Sefia.


Sefia kemudian segera meraih mantel dan tasnya. Bersiap diri untuk keluar.


"Mami mau kemana?"


"Aku akan pergi menemui Putri, dia pasti salah paham sama Rian. Aku akan mencoba berbicara baik-baik dengannya. Aku tahu dia sangat tertekan, aku mampu mengerti dirinya." sahutnya sembari memasang mantel untuk menghangatkan badannya. "Mami pergi dulu!" pamitnya kemudian.


****


Disisi lain, Yuda tengah duduk tenang bersama dengan mamanya.


"Apa kamu tidak ingin tahu tentang ayah kandungmu?" tanya Lia, mengelus pipi putranya.


Yuda menggelengkan kepala. "Jangan katakan apapun ma! Cukuplah papa Angga yang menjadi orangtuaku, kasih sayangnya begitu tulus padaku. Aku tidak mungkin bisa menemukan orang tua sebaik dirinya meskipun itu adalah ayah kandungku sendiri."


Mendengar itu Lia jadi terharu, memeluk anaknya penuh syukur dan tidak salah sudah menyerahkan anaknya pada orang yang benar.

__ADS_1


Angga kemudian datang, menghampiri mereka yang sudah saling menerima satu dengan lainnya.


"Yuda." sapa Angga.


Yuda menoleh, beranjak dan langsung memeluk papanya penuh haru. "Terimakasih, terimakasih sudah mau membesarkan Yuda."


"Tidak Nak! Papa yang berterimakasih karena kamu sudah lahir dan mau menemani papa yang sendirian ini. Papa bersyukur memilikimu."


Yuda jadi meneteskan airmatanya, rasa syukur yang teramat dalam yang ia rasakan.


"Jangan pernah menganggap papa oranglain, ya! Jika kamu sudah tahu kenyataannya seperti ini." pinta Angga pada anaknya itu.


"Kenyataan ini memang terlalu pahit untuk Yuda, tapi Yuda bersyukur karena sudah bertemu dengan papa. Terimakasih untuk segalanya."


Mereka saling berpeluk peluk haru, sebelum kemudian Yuda pamit untuk segera kembali.


"Yuda harus kembali sekarang!" pamitnya kemudian, pada mamanya.


"Apa kamu tidak menginap disini saja, Nak?" tanya Lia penuh harap.


"Yuda akan berkunjung kesini lagi, tapi Yuda masih ada hal yang perlu Yuda beritahukan pada semua orang."


Lia menepuk lengan anaknya. "Baiklah! Anak mama yang tampan, mama akan menunggumu datang."


Yuda tersenyum dan memeluk mamanya kembali sebelum ia pergi.


"Aku akan menceritakan semuanya."


****


Tolong Kasih Rating 5 ya :) Tiba-tiba Ratingnya Turun.


Jangan Kendor POINNYA :*


Dengan Kalian menyumbangkan POIN KALIAN, Maka Kalian sudah mendukung Author dengan Penuh.


Author sangat bersyukur dan berterimakasih untuk itu.


Yang Belum tahu caranya, Tinggal ke BERANDA dan Klik PUSAT MISI.

__ADS_1


Bagi Noveltoon, Langsung Klik POINKU diberanda.


10,100,1000 terserah yang penting Ikhlas Lahir Batin.


__ADS_2