SELINGKUH

SELINGKUH
Malam Kelahiran


__ADS_3

"Katakan sayang, ada apa? mengapa menangis begini?"


" Anak laki laki...."


" Sayang, aku tidak memaksamu.."


" Hari itu.. "


" Hari itu? Apa kau ingin bercerita padaku tentang hari itu?" tanya Zaky sangat penasaran.


Tia mengangguk sambil terus menangis. Zaky segera bangkit, Ia menjadi serius kala Tia mengangguk. Inilah yang ia nantikan, kebenaran tentang apa yang terjadi hari itu.


Mereka duduk saling berhadapan. Zaky menggenggam kedua tangan istrinya.


"Ceritakan padaku.. bagaimana awalnya kau bisa di sana."


Tia menarik nafas dalam, menghentikan tangisnya sejenak dan mulai bercerita.


" Aku pergi mengambil cetak biru, dia menelepon, katanya ingin mengantar bagian penting itu padamu. Lalu katanya istrinya sakit, maka aku ke sana."


" Kenapa tidak bertanya padaku dulu?"


" Ponselmu rusak saat itu."


" Oh iya, aku ingat. Lalu?"


" Lalu kau tahukan? Dia berbohong. Katanya istrinya yang sakit berada di kamar. Maka aku kesana untuk melihatnya, ternyata tidak ada. Dia datang dari belakang dan menolakku masuk kedalam."


Tia menatap Zaky yang menggeretakkan giginya. Matanya kembali berkaca kaca. Zaky menggenggam tangan Tia dengan erat. Menguatkannya.


" Lalu dia mencoba memperkosaku. Dan saat itu sebenarnya aku..." kalimatnya terhenti. Ia menatap Zaky sambil menangis, ragu mengatakannya.


" Katakatan sayang..."


" Sayang.. Enghh.. sebenarnya waktu itu aku sedang -"


Tok tok!


Terdengar suara pintu di ketok dengan kuat.


" Tuan, Nyonya, kumohon buka pintunya!"


Suara Bi tuti berteriak dari balik pintu, kelihatannya panik sekali. Tidak pernah sekalipun bi Tuti mengetuk pintu seperti itu, apalagi malam malam begini.


Tia dan Zaky saling bertatapan. Mereka menyadari bahwa tak sehelai baju pun mereka kenakan. Zaky mengambil pakaian di lemari dan segera mengenakannya. Ia membuka pintu.


" Ada apa bi?"


" Nona Lila tuan, Nona Lila pecah ketuban!"

__ADS_1


" Apa maksudmu?" Zaky tidak mengerti.


Tia yang sedang berpakaian, selesai dan berlari ke pintu mendengar ucapan Bi tuti.


" Pecah ketuban bi? kita harus membawanya ke rumah sakit! Jagalah anak anak bi. Kami akan mengantarnya. Sayang ayo!"


Tia menarik tangan Zaky yang masih kebingungan dengan pernyataan bi tuti. Selama ini, Tia tidak pernah mengalami pecah ketuban saat akan melahirkan. Malah saat proses mengedanlah baru ketubannya pecah sekaligus dengan lahirnya bayi.


Tia dan Zaki masuk ke kamar Lila. Mereka melihat Lila menopang tubuhnya dengan tangan di dinding, perutnya sedang kontraksi.


Zaky panik melihat Air ketuban bercampur darah di lantai. Ia menatap Tia bertanya tanya.


" Bagaimana ini?"


" Tenang sayang, saat kontraksinya berhenti nanti, gendong Lila ke mobil." kata Tia sambil mengusap usap punggung Lila.


" Ekhh.. huft huft.. ini sakit sekali."


"Tenang Lila, tarik nafas yang dalam dan lepaskan."


Akhirnya Zaky menggendong Lila ke mobil dan mereka bertiga dalam perjalanan ke rumah sakit. Tiba di IGD, dokter mengatakan bahwa Lila harus segera di operasi, Tia mewakili keluarga segera menandatangani surat pernyataan izin operasi. Zaky dan Tia menghampiri Lila yang sedang bersiap untuk operasi. Dia masih terus mengalami kontraksi. Namun Lila terlihat sangat lemah dan pucat. Ia mungkin tidak akan bertahan jika harus menunggu pembukaan lengkap untuk persalinan normal.


" Ini sakit sekali.. huft.. apa aku akan mati?"


" Tidak Lila, ini memang begitu. Kuatkan dirimu sayang, kau pasti bisa melalui ini. Aku akan menemanimu di ruang operasi." kata Tia.


" Robi.. tolong katakan pada Robi bahwa aku mencintainya. Jika saja aku mati."


Tia menepuk lengan Zaky memintanya menelepon Robi. Zaky segera meraih ponselnya. Ternyata Robi berada di rumah sakit yang sama. Tidak lama kemudian Ia sudah muncul di sana.


Melihat kedatangan Robi, Secercah harapan muncul dari wajah Lila. Mereka berpelukan, Robi menemani Lila memasuki ruang operasi. Sementara Tia dan Zaky menunggu di luar. Tiba tiba Tia teringat sesuatu.


Mengapa tidak ada yang ingat untuk membeli perlengkapan bayi? Lila bahkan tidak punya persiapan apa apa!


Tia bertanya pada perawat yang melintas dimana Ia bisa mendapatkan perlengkapan bayi di dekat sini. Ternyata memang ada toko perlengkapan bayi di depan rumah sakit. Tia menarik lengan Zaky, mengajaknya membeli beberapa perlengkapan bayi sambil menunggu Lila. Zaky setuju.


Sampai di toko itu, Tia melihat counter perlengkapan babyboy. Ia pun memilih beberapa pakaian bayi, juga topi hangat dan kaus kaki. Melihat perlengkapan babyboy membuatnya teringat pada calon bayi laki lakinya. Ia pun menangis sambil memegang jumsuit babyboy di tangannya.


Andai saja kau punya kesempatan untuk lahir nak. Mama pasti sedang sibuk membeli perlengkapan yang seperti ini untukmu.


Zaky melihat Tia menangis. Dia agak heran tapi tidak menebak apapun.


" Kau baik baik saja? Jangan menangis, Lila akan baik baik saja." kata Zaky. Ia berpikir Tia menangis karena khawatir pada Lila.


Tia mengangguk. Ingin rasanya mengatakan sekarang, tapi ini waktu yang sangat tidak tepat. Setelah persalinan Lila selesai, aku akan mengatakan semuanya, pikir Tia.


---


Lila merasakan tubuhnya sedingin es, seperti membeku. Efek dari anastesi yang di lakukan pada saparuh tubuh bagian bawahnya. Robi berada di sisinya, wajahnya sangat khawatir melihat Lila yang pucat pasi kedinginan. Tubuh Lila kemudian bergetar, Ia menggigil. Bahkan meja operasi sedikit bergetar karenanya.

__ADS_1


" Dok, apa ini tidak apa apa? Dia sampai menggigil." tanya Robi pada dokter."


" Bapak tenang ya, kami akan melakukan yang terbaik untuk istri bapak. Jika ia tidak kuat kita akan melakukan bius total nantinya.


" Baik dok." Robi mengerti.


Dan kemudian terdengar suara tangisan bayi. Robi tersentak. Dokter mengangkat bayi itu melewati tirai.


" Pak, bu, Bayinya sudah lahir. Bayinya laki laki."


Robi melihat sekilas bayi itu. Ada persaan yang membuncah di hatinya. Ia tersenyum mendengar tangisan bayi itu menggelegar di ruang oprasi. Ia menatap Lila dan mengusap dahinya. Robi mendekatkan bibirnya ke telinga Lila.


" Sayang, kau telah menjadi seorang ibu, dengarlah suara putramu itu." bisik Robi. Lila hanya tersenyum, matanya layu kian tertutup. Dokter terpaksa membius total Lila karena kondisinya.


---


Perawat membersihkan bayi itu dan memasukkannya kedalam inkubator untuk di bawa ke ruang bayi. Ia membawanya keluar dari ruang operasi sementara doter menjahit sayatan di perut Lila.


Tya dan Zaky yang sudah kembali ke rumah sakit, melihat perawat membawa bayi keluar dari sana. Ia mengabari mereka bahwa sang bayi berjenis kelamin laki laki. Sebentar kemudian perawat berlalu menuju ke ruang bayi.


Tia menutup mulutnya, takjub. Perasaannya campur aduk. Senang karena Lila selesai bersalin, khawatir karena Lila dan Robi belum keluar dan juga sangat sedih mengingat kenyataan Ia telah kehilangan bayi laki lakinya. Ia kembali terisak dan Zaky segera memeluknya.


" Sayang, kau lihat bayi mungil Lila?" tanya Tia.


" Iya, dia bayi laki laki."


"Bayi laki laki. Apa kau menginginkannya?"


" Hem? Babyboy? Iya, dan kita pasti mendapatkannya. Percayalah." Zaky mengusap rambut istrinya dalam pelukannya.


Kita nyaris mendapatkannya. Mungkin saja 5 bulan kedepan ia akan lahir. Tapi dia kini sudah kembali ke sisi Tuhan.


---


Semoga suka ya 😊


Show your love ya pembaca yang baik.


❤❤❤


☺Like


☺Commet


☺Share


☺Rate


☺Vote

__ADS_1


☺Favorite


Makasi buat kalian yang selalu dukung aku.


__ADS_2