
Rian kini gelisah, pasalnya Desi belum juga membaca pesannya. Lebih lagi ini adalah malam minggu.
"Tidak mungkin kan jam segini dia sudah tidur?" gumamnya, kemudian mengacak rambutnya lagi dengan gusar.
"Apa gue ke rumahnya saja, ya?" pikirnya sesaat. "Eh, tapi kan kita belum janjian. Lagian dia bilang sendiri kalo besok bakal ada acara lain. Jelas-jelas dia nolak gue."
"Aaaaa." berteriak gusar. "Kok gue jadi gila kayak gini sih."
Ia menatap langit-langit kamarnya, mencoba menenangkan dirinya yang saat ini gelisah, entah pikirannya kemana.
Kenapa menyukai Desi bisa segila ini, pikirnya.
"Ah, sudahlah. Gue ke rumahnya aja, lagian dia sibuknya kan besok." menggulingkan diri dan segera beranjak dari tidurnya, tak lupa mengambil mantel untuk menghangatkan tubuhnya dimalam hari.
"Rian, kamu mau kemana?" tanya Sefia ketika melihat anaknya menuruni anak tangga sambil memasang mantelnya.
"Aku mau keluar bentar, mi." sahutnya, berpamitan.
"Pake supir gak?" tanya sang papi.
"Gak perlu, Rian pake motor aja." sahutnya.
"Oh, yaudah pergi aja." ucap Dedi pada anaknya yang kini akan beranjak keluar rumah. "Jangan bentar-bentar ya! Yang lama." candanya.
"Dih papi, gak seneng banget anaknya dirumah." sahut Rian kesal. "Yaudah, aku keluar sekarang."
Dedi jadi tertawa, dan Sefia gemas mencubit perutnya. "Iya, hati-hati dijalan."
"Iya." sahutnya, sudah berjalan keluar.
__ADS_1
"Ih, papi ini gitu banget sama Rian." ucap Sefia, gemas dengan sang suami.
"Cuma bercanda doang mi." sahutnya, mengelus rambut istrinya yang terurai. "Biar Rian merasakan masa remaja seperti kita dulu, karena papi rasa dia masih merasa bersalah sama Putri."
Seketika Sefia menghela nafas dan tersenyum pasi. "Iya, anak kita terlalu baik untuk memikirkan dirinya sendiri. Semoga Rian bisa memilih kebahagiaannya sendiri, pi."
Dedi mengangguk. "Iya mi, semoga." sahutnya, kemudian mengecup lembut bibir istrinya, lalu menarik tubuh perempuan itu kedalam pelukan hangatnya.
Semoga
****
Kini Rian sudah tiba didepan rumah Desi, tapi ragu untuk masuk kedalam dan mengetuk pintu karena takut mengganggu karena datang tiba-tiba.
Ia memilih menunggu diluar diatas motor, sambil melihat kamar Desi di lantai atas yang lampunya masih menyala.
Rian jadi merasa kecewa, pasalnya dahulu Desi begitu antusias ketika mendapat Respon darinya. Apalagi sampai Rian mengirim pesan dulu padanya. Desi pasti begitu kegirangan luar biasa, tapi saat ini seakan Desi tak lagi peduli dan menyukainya seperti dulu.
Apakah ini rasanya jatuh cinta yang sebenarnya? Selalu merasa khawatir dia tak lagi menyukainya?
"Apa gara-gara gue belum sepenuhnya ngasih hati gue, ya? Jadi dia udah bosan sama gue." gumamnya lagi, aneh dengan pikirannya sendiri. "Enggak, enggak! Apaan sih gue." memukul kepalanya sendiri. "Dia kan udah bilang mau sabar nunggu gue. Dih! Gue mulai secemas ini."
Telah lama Rian menunggu, akhirnya Desi terlihat melalui siluet dibalik tirai kamarnya. Saat itu juga, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Menandakan ada sebuah pesan masuk.
Ia segera meraih ponselnya disaku mantelnya itu, Desi telah membalas pesannya.
Desi M. Meiza : Malam Bebeb, maaf Desi baru balas.
Rian jadi tersenyum lega, kemudian segera membalas pesan gadis itu.
__ADS_1
Rian Atmadja : Lo sibuk gak malam ini?
Desi M. Meiza : Kalo ditanya sibuk sih enggak, tapi Desi udah mau bobo soalnya harus bangun pagi pagi banget.
"Ah, begitu." gumamnya pelan ketika membaca balasan dari gadis itu. Ia berniat untuk menemuinya, mengobati kerinduannya tetapi jika sudah ditolak begini. "Yah, mau gimana lagi." Rian jadi kecewa.
Rian Atmadja : Yaudah bobok gih! Selamat tidur.
Rian menatap lampu kamar gadis itu yang masih menyala, lalu kemudian benar-benar mematikan lampu kamarnya dan akhirnya Rian mengehela nafas lega.
"Udah deh, pulang aja."
****
"Loh, kok udah pulang? Cepet banget." tanya Sefia heran, pada anaknya yang sudah berjalan di anak tangga menuju kamarnya.
"Iya, dia sibuk mi gak mau diganggu." sahutnya lemah, karena Desi pasti tahu tujuan pemuda itu adalah untuk menemuinya.
Sontak Dedi terkekeh geli. "Anak papi tertolak." ledeknya.
Seketika Rian menoleh. "Ya enggaklah, besok Rian bakal nemuin dia." sahutnya.
*****
Apa kabar? hehe
sorry, lagi sibuk cari uang buat ngelamar pacarnya Imah.
Otw Ngetik untuk Crazy UP :*
__ADS_1