
Dedi kini memilih pulang lebih awal untuk menemani serta memastikan istrinya tidak pergi kemanapun.
"Nyonya dimana?" tanya Dedi pada salah satu pelayannya, ketika ia melangkah masuk kedalam rumahnya.
"Berada di taman belakang rumah dengan Ratih dan Den Rian, Pak." sahutnya membungkuk, memberi hormat.
"Ah, syukurlah."
Ia kemudian meneruskan langkahnya memasuki kamar utama terlebih dahulu untuk membersihkan diri yang mengganti pakaiannya dengan baju santai.
Setelahnya, ia menyusul istri dan anaknya itu Ke taman yang terletak dibelakang rumahnya.
"Kalian ngapain?" sapa Dedi tiba-tiba dari arah belakang.
"Kami sedang bersantai saja, Pak." sahut Ratih ketika Sefia enggan menjawabnya. Bahkan, ia tidak mau menoleh pada suaminya itu.
Dengan rasa pengertian, Ratih membawa Rian untuk masuk kedalam rumah. Sedangkan di taman hanya menyisakan Dedi dan Sefia yang tengah cemberut saja.
"Ngapain kesini?" tanya Sefia ketus, bersindakap dibangku taman.
Dedi pun terkekeh melihat mimik wajah yang menggemaskan dari istrinya itu. "Dih, gitu aja ngambek." ledeknya.
"Biarin! Kamu tuh gak ngertiin, kalo aku hamil gimana? Aku kan belum siap." sahutnya menebalkan bibir.
"Aku siap kok." sahutnya enteng. Melingkarkan lengannya dipinggang istrinya.
"Kan, ngeselin deh! Yang hamil itu aku bukan kamu. Pokoknya aku belum siap, aku masih ingin ngerawat Rian sampai dia besar."
"Sampai kapan?"
Seketika Sefia terdiam, lalu berpikir. "Sampai Rian jadi anak mandiri."
"Ya janganlah!" Dedi membuat raut wajah tak suka. "Kelamaan."
"Hn, pokoknya kalo kali ini gagal. Keputusanku sudah bulat, aku akan terus ikut program KB sampai Rian gede." tegasnya, tak bisa dibantah.
"Oke, setuju. Yuk!" menarik tangan Sefia agar mengikutinya.
"Kemana?" tanya Sefia bingung.
"Buat adek lah." sahutnya setengah mendengus.
"Aaaa, tadi kan sudah."
"Biarin! Pokoknya sampai jadi."
"Dedi." geramnya kesal.
****
Disisi lain, Anggi Kini tengah menunduk sedih, memikirkan hal-hal yang telah dilaluinya.
__ADS_1
"Benar kata pak Dedi, mungkin aku akan hidup lebih baik dan tanpa beban jika aku pindah dan menetap disana." gumamnya, menatap langit-langit dirumahnya.
"Sungguh, aku sangat beruntung dan berhutang budi kepada pak Dedi dan istrinya. Begitu bodoh dan malunya aku ketika aku memikirkan keegoisanku dan memaksakan keinginan pada oranglain, semata karena aku iri dengan kebahagiaan mereka? Aku iri dengan perlakuan manis mereka? Aku ini hanya iri dan ingin kebahagiaan orang lain tanpa memikirkan bahwa mereka akan menjadi diriku yang lama, diriku yang hancur penuh kehampaan."
"Ya Tuhan, terimakasih sudah menyadarkanku lewat mereka yang menghargaiku."
****
"Sayang, bangun! Makan malam, yuk!" ajaknya pada istrinya yang sedang tidur memiringkan badannya.
"Gak, kamu aja sana!" sahutnya dengan nada kesal yang kental.
Dedi terkikik geli mendengarnya. "Emang kamu gak laper?"
Seketika Sefia terdiam, mulai ragu dan merasakan perutnya yang mulai berbunyi karena seharian berada didalam kamar. "Lapar." pekiknya.
"Yaudah, kita kebawah yuk! Makan." ajaknya lagi.
"Enggak, kamu duluan aja sana!" sahutnya masih marah.
"Oh, kamu masih belum cukup, ya? Yaudah kita coba sekali lagi." bisiknya menggoda.
Mendengar itu, sontak Sefia langsung menggulingkan dirinya. "Yuk ke bawah!" ajaknya cepat.
"Loh, katanya masih betah disini?"
Sefia jadi salah tingkah lalu memasang senyum lebarnya. "Aku lapar, yuk makan malam bareng!"
Dedi jadi tersenyum, lalu beranjak. "Yuk!"
"Aa. buka mulutmu!" pinta Dedi pada istrinya.
Sefia menggelengkan kepalanya. "Gak, aku udah kenyang."
"Makan! Tinggal beberapa sendok lagi kok."
Sefia mendengus, mau tak mau dia harus membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang disuapi suaminya itu.
"Kenapa serba sayuran, sih?" tanya Sefia kemudian.
"Sayuran kan bagus untuk kesuburan, kamu harus perbanyak makan sayuran dan buah-buahan setiap hari. Aku akan mengawasimu."
Sefia hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, tak dapat membantah apa yang suaminya inginkan.
"Buka lagi mulutnya!"
"Mulutku masih penuh tahu." sahutnya, menutup mulutnya. "Aku makan sendiri aja sini!"
"Gak, biar aku aja! Kamu cukup tinggal ngunyah dan nelen."
"Huh." dengus Sefia kesal. "Pemaksaan."
__ADS_1
Selang beberapa saat kemudian, pelayan datang menghampiri Dedi dan Sefia. "Pak di depan ada tamu, katanya ingin bertemu dengan Nyonya."
"Siapa ya?" gumam Sefia penasaran.
"Cewek apa cowok, Bik?" tanya Dedi.
"Perempuan pak, badannya tinggi dan cantik." sahutnya.
"Ah, iya Bik. Suruh dia menunggu diruang tamu. Aku akan kesana sebentar lagi." sahut Sefia, meminta.
"Baik, Nyonya."
Pelayan itu pun segera memberitahu perempuan itu untuk menunggu Sefia diruang tamu.
Sedangkan Sefia harus menyelesaikan suapan terakhirnya, kemudian buru-buru menemui tamu yang datang ingin bertemu dengannya.
"Anggi." sapa Sefia, heran.
Anggipun menoleh. "Apa kabar?" sapanya dengan senyum.
"Kabarku baik, bagaimana denganmu?"
Anggi mengehela nafas. "Aku juga sama baiknya kok." sahutnya, lalu menyodorkan sebuah tas pembungkus pada Sefia. "Ini adalah mantel milikmu, terimakasih sudah mau meminjamkannya untukku."
"Ah, bukan hal besar kok."
Dan Anggi mulai menunduk dengan tatapan nanar. "Aku besok akan pindah, aku datang kemari untuk meminta maaf atas segala hal yang sudah aku lakukan padamu. Aku pasti terlihat hina dimatamu." ucapnya terisak, dengan bibir bergetar.
Sefia memeluk Anggi, mengelus punggungnya. "Aku sudah memaafkanmu kok, yang penting kamu sudah menyesali perbuatanmu selama ini, itu udah cukup untukku."
"Terimakasih banyak atas kebaikan dan pertolonganmu, kamu memang perempuan yang sangat baik. Pak Dedi tak salah jika memilih setia kepadamu."
Sefia jadi tersenyum. "Kamu hanya tidak tahu perjuangan kita bersama, selalu hidup dipisahkan dengan berbagai cobaan." sahutnya ketika melepas pelukannya. "Semoga kamu menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia dan hiduplah menjalani hari-harimu dengan gembira."
Anggi mengangguk cepat, mengusap air matanya. "Semoga, terima kasih banyak Sefia." memeluk Sefia sekali lagi, sebelum ia pamit untuk pergi.
****
Dia yang datang memuja kesuksesanmu, tanpa tahu sulitnya pencapaian itu. Dia hanya tahu bagaimana sinar terang itu mengagumkan. Tanpa tahu aku yang mendukungmu penuh dibalik layar.
****
Sisa beberapa BAB lagi untuk menuju Season 2.
Terimakasih untuk Kalian yang telah dengan Setia mendukung Novel ini.
Terimakasih juga yang telah memberikan POIN, KOMEN, LIKE DAN RATING.
Terimakasih juga yang sudah dengan tulus mendukung karya Author dan menjadikan Author penulis Favirite Kalian.
Maaf Jika Author salah dalam menyampaikan kata atau arti dalam setiap bacaan.
__ADS_1
Selamat berjuang untuk setiap hati yang pernah mencintai, dicintai dan disakiti sampai tak ingin hidup lagi. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya tak akan pernah salah pada tempatnya.
SALAM PRIMADONA :*