
"Sefia, kamu kenapa?" tanya Nadin pada Sefia yang baru saja kembali dengan wajah sedikit pucat. "Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja kok." sahutnya lemah tanpa senyum diwajahnya yang pasi.
Sungguh, Sefia merasa tidak tenang. Memikirkan apa yang telah dikatakan Sherly padanya. Bukan karena ia ragu tentang suaminya itu, tetapi ia takut kisahnya akan terulang kembali. Dimana suatu pengkhianatan muncul ketika ia memberi suatu kepercayaan penuh.
"Sayang." sapa Dedi tiba-tiba, mengagetkannya. "Wajahmu kenapa pucat sekali?" tanya Dedi kemudian, duduk di sebelah istrinya.
"Aku gak apa-apa kok." sahutnya tersenyum pasi. "Apa pestanya masih lama?"
"Belum, tapi kalo kamu ingin pulang, mari kita pulang."
"Sopan kah?" tanya Sefia ragu.
"Tidak apa-apa." sahut Dedi mengelus pipi istrinya, dan tersenyum. "Mari kita pulang!"
Sefiapun mengangguk, lalu mereka beranjak dari duduknya.
"Pamit pulang dulu, ya." pamit Dedi Sefia pada Aldy serta Nadin yang masih betah dipesta.
"Iya hati-hati dijalan, besok kita telfonan ya!"
"Oke."
Merekapun meninggalkan pesta, dan Sefia hanya terdiam saja tidak seperti biasanya. Membuat Dedi begitu khawatir padanya.
"Sayang, kamu beneran gak apa-apa kan?" tanya Dedi memastikan.
"Iya, aku gak apa-apa kok." sahutnya tersenyum, mencoba untuk tenang.
Dedi menarik tubuh istrinya agar lebih dekat. "Sini peluk!"
Lalu Sefia mendongak pada suaminya itu. "Ded, kalo suatu saat nanti aku jelek. Apa kamu masih mau sama aku?"
Dedi menyernyitkan dahi dan terkikik geli, membuat Sefia memukul dada bidangnya karena kesal.
"Jawab!" desaknya.
"Bagiamanapun dirimu, aku tetap mencintaimu. Entah kamu menjadi jelek atau apapun itu, aku tetap mencintaimu." Dedi lalu memegang kedua sisi pundak Sefia. "Kamu ragu lagi padaku? Aku tidak suka."
"Aku tidak ragu kok, cuma yaa biasalah, aku hanya khawatir saja." sahutnya.
Dedi mencubit kedua sisi pipi istrinya, gemas. "Dih, khawatir apaan sih."
Sefia tersenyum lepas, memeluk suaminya dengan lega. "Jangan kemana-mana ya!"
__ADS_1
"Iya sayang." sahutnya, memeluk istrinya erat. "Kamu aneh banget hari ini."
"He he." Sefia hanya tertawa kikuk. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa Sherly baru saja mengatakan hal yang akan merendahkannya, bagaimanapun Sefia harus percaya bahwa Dedi akan selalu bersamanya.
Dan Kini mereka sudah sampai dirumah, dan mereka langsung disambut oleh Ratih yang menunggu kedatangan mereka.
"Rat, kamu belum tidur?" tanya Sefia ketika Ratih menyambutnya datang.
"Belum Nyonya, saya memang biasa tidur larut malam." sahutnya.
"Rian udah tidur juga?"
"Sudah kok daritadi." sahutnya, dan Sefia Dedi datang ke kamar anaknya untuk memastikannya. "Ah, syukurlah dia sudah tidur nyenyak."
Sefia lalu menoleh pada Ratih. "Kamu istirahat aja! Biar Rian tidur sama kita."
"Biarkan dengan saya saja Nyonya." sahutnya. "Nyonya sama Bapak kan habis dari pesta, pasti capek."
"Enggak kok, lagian Rian kalo butuh susu malem-malam cuma dua kali. Setelah itu tidur sampai pagi."
"Baiklah jika begitu, saya akan kembali ke kamar dulu Nyonya."
"Iya."
"Iya baiklah, sayang."
Kemudian pelan-pelan Dedi mengambil Rian dan memindahkannya ke ranjang khususnya dikamar utama.
Setelahnya Dedi membantu Sefia untuk membuka gaunnya yang terdapat retsleting yang berada dipunggungnya, hingga memerlukan bantuan ketika membukanya.
"Besok aku berangkat keluar kota, kamu gak apa-apa kan jaga Rian sendirian?"
"Iya gak apa-apa kok." sahutnya lalu menatap suaminya. "Apa kamu kesana sama sekretarismu itu?"
"Iya, aku akan kerepotan kalo gak ada yang dampingin aku. Kenapa memangnya?"
"Aku hanya khawatir kamu kepincut dia aja." sahutnya seraya bercanda.
"Ah, kamu semakin posesif ya sekarang." ucapnya menggoda, sembari mengecup leher telanjang milik istrinya. "Tenang saja sayang, hanya kamu satu-satunya milikku, dan aku adalah milikmu jadi jangan berbicara seakan kamu meragukanku. Kamu ibu dari anakku, kamu berharga."
Sefia seketika memegangi kedua sisi pipi suaminya. "Terimakasih untuk segala hal, aku mempercayaimu." ucapnya ketika memberikan lumatan pada bibir suaminya penuh makna.
Walau Sefia mendengar langsung kepercayaan dari mulut Dedi, tetapi sungguh hatinya tidak tenang.
Bayangan akan hal buruk terjadi, bayangan akan hal masa lalu yang terjadi membuatnya begitu trauma dan terpukul.
__ADS_1
Ia sekarang menjadi tak percayadiri, tak percaya bahwa cinta suaminya akan bertahan ketika ada perempuan lain datang untuk menggoda.
Ketika suaminya tidur berbaring lelap dan masuk kedalam alam mimpinya, Sefia bahkan masih terjaga. Ia memiringkan badannya, memeluk suaminya erat bahkan meneteskan air matanya yang entah tak tahu keluar karena apa.
Mungkin perasaan sesak dan khawatir yang selalu datang menyelimutinya.
"Aku takut, aku benar-benar takut jika kehilanganmu. Bahkan, tidak akan ada artinya dunia jika kamulah yang menjatuhkan pengharapanku. Maafkan aku yang meragukanmu sampai saat ini."
****
Kini Sefia bangun dipagi hari, karena terdengar suara isak tangis dari anaknya, Rian.
Ia kemudian beranjak dari tidurnya, lalu menggapai anaknya untuk berada didekapannya. "Rian, sepertinya kamu demam Nak." ucapnya ketika mendapati suhu tubuh Rian hangat tak seperti biasanya.
Sefia menimang anaknya, mencoba menenangkannya. Kemudian Dedipun bangun karena isak tangis Rian mengganggu tidurnya.
"Ada apa, sayang?" tanyanya serak. "Mau dibuatkan susu?"
"Enggak. Aku udah bikinin." sahutnya. "Kayanya Rian demam deh."
Sontak Dedi membelalak kaget, dan langsung beranjak dari tidurnya. "Yaudah kita langsung ke rumah saja sekarang." ajaknya dengan panik.
"Iya, aku ambil jaket dulu."
Dedi berganti mendekap Rian, sedangkan Sefia sibuk mengambil jaketnya agar menutupi tubuhnya yang dingin di pagi hari.
Setelahnya, mereka buru-buru keluar dan menemukan Ratih sudah berada didapur.
"Ratih, kita akan ke rumah sakit sekarang. Kamu jaga rumah aja sampai pelayan datang untuk beres-beres." ucap Sefia.
"Loh, memangnya siapa yang sakit Nyonya?" Ratih heran.
"Rian, badannya tiba-tiba panas." sahutnya cepat. "Ya udah, kamu tunggu disini aja gak usah ikut! Aku berangkat sekarang."
"Ya Tuhan." Ratih kaget, tak menyangka. "Baik Nyonya, semoga den Riah baik-baik saja."
"Iya semoga, aku pamit!"
"Hati-hati."
****
TOLONG VOTE POIN, LIKE DAN KOMEN.
Yang belum tahu caranya vote bisa klik VOTE disebelah nama Author, lalu Klik jumlah poin yang ingin kamu berikan 10,100,1000.
__ADS_1