
Robi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, Ia merasa ingin segera tiba di rumah, tapi belum tahu bagaimana akan menghadapi Lila nanti. Pikirannya diliputi rasa bersalah yang mendalam. Lila istrinya harusnya sedang berbahagia karena kehamilan anak mereka, tapi keadaan membuat Robi merasa di selingkuhi dan menuduhnya yang tidak benar.
Tiba di rumah, Robi segera berlari ke pintu kamar. dengan ragu ia memegang handle pintu dan memutarnya. Terkunci.
Astaga. Aku menguncinya. Dia pasti belum makan sejak tadi. Apa yang telah aku lakukan?
Ia semkin cemas dengan keadaan Lila. Perasaan menyesal menyeretnya dalam jurang kegelisahan. Robi meraih kunci di dalam sakunya dan membuka pintunya perlahan. Ia melihat Lila terbaring menyamping menghadap jendela. Robi berjalan mendekati istrinya, tidak terdengar suara isak tangis lagi, sepertinya ia tertidur setelah lelah menangis. Robi menatap punggung itu dengan sendu. Ia merangkak naik ke ranjang lalu merebahkan tubuhnya di samping Lila, dan ia mendekap erat istrinya itu. Wajahnya terbenam di balik punggung Lila.
Entah apa yang bisa aku katakan padamu, aku sungguh merasa bersalah. Harusnya aku percaya padamu.
Penyesalan yang tak terperi, andai saja tadi ia lebih logis, tapi nyatanya kehamilan Lila yang mengejutkan dengan keadaan Robi yang mandul sangat tidak sinkron dan mengaduk aduk perasaannya. Semua ini karena Sabrina. Kebahagian Lila telah terkorbankan. Robi merasa dadanya sesak dan matanya menjadi panas. Tiba tiba seperti ingin menangis karena perasaannya itu hingga tanpa ia sadari air mata jatuh memenuhi kelopak matanya, membasahi punggung Lila. Lila menggeliat merasakan punggungnya yang basah dan hangat. Ia segera menyadari bahwa Robi suaminya sedang menangis di balik punggungnya. ia berbalik, namun Robi menahan nya.
" Kau.. kau menangis?"
"Jangan melihatku, aku tak sanggup melihatmu . Jangan melihatku seperti ini. Aku sungguh merasa menyesal telah menuduhmu, aku..."
"Robi.."
"Tidak. Jangan lihat aku. Harusnya kita bisa dengan bahagia menyambut kehamilan anak kita, tapi lihatlah aku, aku bahkan tidak percaya bahwa itu adalah anakku. Aku bahkan menuduhmu berselingkuh. Aku pasti sudah gila. Aku suami yang buruk. Aku suami yang bodoh."
Lila membalikkan tubuhnya menghadap ke Robi dan menyejajarkan wajahnya dengan wajah Robi. Ia menyapu Mata Robi yang tampak sedikit basah.
"Lihatlah dirimu. Aku yakin sekarang kau sudah tahu yang sebenarnya, jadi kau tidak perlu menyalahkan dirimu sayang, ini hanya salah paham saja." Lila mengusap pipi Robi dengan lembut. Robi menggenggam tangan Lila di wajahnya dan memejamkan matanya.
"Sabrina telah menipuku. Dia telah berbohong. Ia memanipulasi hasil tes dan membuat seolah-olah aku tidak bisa memiliki anak, padahal sebenarnya.."
"Itulah yang aku yakini saat aku melihat hasil tespack. Aku yakin bahwa hasil tesmu pasti keliru. Demi Tuhan aku tidak pernah tidur dengan pria lain setelah denganmu."
" Ia sayang, aku sepenuhnya percaya padamu. Maafkan aku Lila." Robi mendekap Lila, mengangkatnya hingga Lila terbaring di atas tubuhnya.
"Tidak apa-apa sayang, aku sungguh mengerti. Ayolah kita harus berbahagia dengan kehamilan ini. jangan merusak kebahagiaan ini,aku sudah memaafkanmu."
__ADS_1
"Terima kasih sayangku, Kau sungguh mengerti aku. Aku benar-benar merasa menyesal apalagi aku telah mengurungmu. Kau pasti belum makan."
"Iya jujur saja sebenarnya aku merasa lapar. Aku ingin makan sesuatu." Lila menyandarkan kepalanya di dada Robi.
" Ayo kita makan di luar." Robi bangkit dan duduk di tepi ranjang, Lila mngikutinya.
" Kita akan makan apa? dimana?" Tanya Lila bersemangat.
"Terserah kau saja." Robi berdiri dan menarik tangan Lila.
" Terserah?" Wajah Lila berubah. Menepis tangan Robi.
" Kenapa?"
"Setelah semua yang kau lakukan hari ini, marah marah padaku dan berteriak, apa begitu sulit memikirkan tempat makan yang spesial untukku?" Lila cemberut.
Robi mengernyitkan dahinya, merasa heran dengan respon Lila.
"Kau tidak tahu makanan kesukaanku. Tidak pengertian sekali!" Lila meruncingkan bibirnya.
Robi tersenyum karena gemas dan Lila semakin kesal.
"Kau menertawakanku?" Lila menggertak sebal.
"Eh bukan, maksudku.."
"Sudahlah aku makan di rumah saja!" Lila kesal dan beranjak keluar kamar. Robi mengikutinya sambil membujuknya. Lila tidak mau mendengarkan.
Apa begini wanita yang sedang hamil? swing mood. Tadi dia baik sekali menenangkan aku. Sekarang malah marah marah.
---
__ADS_1
Petang menjelang, menyiratkan rona senja di awan. Tya sedang melihat anak anak berenang di kolam, kolam yang dangkal. Ada dua kolam di halaman belakang, yang agak dalam untuk dewasa dan yang dangkal untuk putri mereka. Sementara itu, Zaky masih di acara peresmian, meski petang ia belum juga pulang. Mungkin saja ada banyak tamu yang jarang sekali bertemu, jadi Zaky pasti memanfaatkan moment ini untuk mengobrol dengan mereka.
Tia sesekali tersenyum melihat tingkah polah putrinya yang sedang berendam di air. Ada yang sibuk menyelam dan sesekali tersedak, juga ada yang bertengkar memperebutkan ban karet kesukaan. Biasanya Tia ikut berenang bersama mereka, tapi mengingat persalinan yang tinggal menghitung hari, ia agak was was juga. Jadiah hari ini ia penonton yang setia, meskipun sesekali teriakan keluar juga dari mulutnya, mengingatkan para putrinya untuk berhati hati.
Bi Tuti datang menghampiri mereka membawakan beberapa gelas jus dan juga cemilan. Tia segera meraih gelas dan meneguknya, Ia selalu saja merasa kehausan akhir akhir ini.
" Masuklah ke dalam, Bibi akan menemani mereka. Kau pasti lelah duduk terlalu lama."
"Aku bosan sekali di dalam."
"Entahlah, jika tuan Zaky melihat kau di sini ia pasti akan marah sekali. Zaky tidak ingin kau dan bayimu terkena masalah. Kelahiran putramu tinggal sebentar lagi."
"Dia memang sangat overprotective sekarang, selalu saja melarangku ini dan itu. Yasudah, mungkin lebih baik aku masuk saja, nanti malah bibi yang terkena masalah karena aku."
Tya bangkit perlahan sambil memegang perutnya, ia merasa kesusahan untuk berdiri. Bibi Tuti membantunya hingga ia tegak sempurna. Bi tuti masih memegang lengan Tia hendak mengantarkannya hingga ke dalam tapi tia menahannya.
" Sudahla bi, aku akan masuk sendiri. Bibi tetaplah disini, kita tidak bisa membiarkan anak anak bermain sendiri di kolam."
"Tapi tia.."
"Bibi.." Tia segera memotong.
Akhirnya Bi Tuti meski khawatir melepaskan Tia untuk berjalan sendiri masuk ke rumah. Lagipula sangat tidak mungkin meninggalkan anak anak di dalam air seperti ini. Tya berjalan beberapa langkah meninggalkan kolam. Lalu Ia menoleh ke belakang melihat Bi Tuti yang masih menatapnya tanpa berkedip. Tya tersenyum, Bi Tuti menarik napas lega.
"Hati hati.." kata Bi Tuti lirih.
Tia mengangguk lalu menoleh ke depan untuk berjalan lagi. Merasa aman, Bi Tuti berbalik untuk melihat anak anak ketika bersamaan terdengar olehnya teriakan. "Akkhhh!!!... ". Serta merta ia berbalik melihat ke Tia. Alangkah terkejutnya Ia melihat Tia yang terpeleset lantai licin telah tergelincir, kepalanya terbentur pinggiran kolam dibagian yang dalam dan ia jatuh mengambang di air. Tampak sebagian air menjadi merah karena darah Tia. Suara anak anak bersahutan memanggil mama mereka. Rasa panas menjalar di seluruh tubuh bi tuti membuatnya seperti terkunci, dan dengan sisa kesadarannya ia berteriak." Pandiiiii!!!!..."
---
Maafkan aku yang uda lama ga up mentemen 🙂
__ADS_1