SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Nama Adik


__ADS_3

Kini Yuda sedang makan malam bersama papanya.


"Papa nanti akan kerumah Rian." ucap Angga memberitahu.


"Tumben, ada perlu apa kalau boleh tahu, pa?"


Angga ragu. "Sebenarnya papa ingin berbicara dengan tante Sefia, nenekmu ingin sekali bertemu dengannya."


"Oh, Yuda ngerti kok pa. Nanti Yuda temenin deh!"


Angga jadi tersenyum, penuh syukur. "Makan yang banyak." menaruh lauk diatas piring anaknya.


"Iya, papa juga." sahutnya tersenyum.


Setelah selesai makan malam, mereka segera bersiap untuk pergi kerumah Sefia.


****


Kebetulan Dedi dan Sefia tengah bersantai bersama, menonton siaran televisi dan duduk diatas sofa panjang.


Dedi memeluk pinggang istrinya, dan Sefia bersandar pada dada bidang suaminya.


Tiba-tiba Rian datang mengganggu, langsung duduk sebelah maminya lalu merebahkan kepalanya dipangkuan maminya itu, membuat Dedi mendengus.


"Eh, bocah! Kamu ngapain disini?" tanya Dedi pada anaknya yang tengah bermanja, sembari mengunyah camilan yang dibawanya.


"Lagi tiduran lah, pi." sahutnya santai. "Ngapain lagi."


Sefia hanya tersenyum, mengelus rambut anaknya yang hitam tebal itu.


"Ganggu aja!" dengusnya. "Cari pacar sana! Biar tiap malam gak ganggu papi sama maminya mulu."


"Kemarin sih hampir dapet pacar, eh kena sial." sahut Rian cekikikan.


"Cari lagi, masa anak papi yang ganteng gini gak bisa dapet gebetan sih." ledeknya.


"Gak deh, Rian cukup sayang sama mami aja!" sahutnya menenggelamkan wajahnya diperut maminya yang buncit. "Lagian Rian masih sekolah, mau fokus belajar aja."


Dedi menyunggingkan bibirnya. "Hallah! Itu sih karena belum nemu yang cocok, coba aja ada. Pasti jawabnya kan dapat bonus disekolah."


Mereka jadi cekikikan, Sefia sampai menepuk bahu suaminya itu. "Papi ada-ada aja, ih." ucap Sefia gemas.

__ADS_1


"Ya kan bener mi, kayak kita gak pernah muda aja." sahutnya. "Mami naksir papi duluan waktu itu."


Sefia jadi malu mendengar jawaban dari suaminya, teringat masa muda dulu. "Ah, udah ah mami jadi malu tahu."


Dedi jadi tertawa, dan hendak mengecup pipi sang istri tetapi Rian menahan papinya. "Stop! Inget ya masih ada Rian."


Seketika Dedi menjitak kepala anaknya itu, hingga Rian mengaduh dan beranjak duduk dari rebahan sang mami. "Aduh! Kok di jitak sih pi." gerutunya.


"Kamu sih ngeselin! Jangan ganggu sana! Udah gede juga."


"Gak boleh!" Rian menggelengkan kepalanya. "Selama ada Rian, papi gak boleh seenaknya mesra-mesraan sama mami! Rian masih jomblo."


"Cari pacar! Cari sana!" pinta Dedi kesal dengan tingkah anaknya.


"Papi kira, cari pacar semudah cari tukang bakso." dengusnya.


"Nah bener! Siapa tahu tukang baksonya cantik, ajak kencan gih!" sahut Dedi asal, membuat Sefia menepuk bahu suaminya itu.


"Ih, papi bercanda aja." ucap Sefia kesal.


"He he, bercanda doang mi." merangkul istrinya.


"Ya beberapa bulan lagi sayang, kenapa?"


"Rian udah siapin nama yang bagus buat adik Rian nanti." sahutnya dengan penuh percaya diri.


Dedi jadi antusias mendengar anaknya. "Emang kamu mau ngasih nama apa ke adikmu nanti?"


"Kalo cowok namanya Tono." sahutnya, sambil mengunyah camilannya.


Dedi mengerut kening. "Kalo cewek?"


"Tini." sahut Rian, sontak Dedi jadi emosi.


"Kamu ngajakin papi berantem, ya?" tanya Dedi kesal, seraya bercanda. Ia kemudian beranjak dan langsung menjewer kuping anaknya itu.


"Ha ha ampun pi! Ampun." ucap Rian, sembari mengaduh. "Bercanda doang pi!"


Dedi melepas jewerannya. "Dasar!" dengusnya. "Kasih nama jangan yang asal! Kalo kamu ngasih nama asal lagi, papi rubah namamu jadi Budi." ancamnya.


Sontak Sefia jadi tertawa. "Iya pi, rubah aja pi." sahut Sefia.

__ADS_1


"Mami kok malah dukung papi sih." keluhnya. "Yaudah kalo adik Rian cowok kasih nama Gio atau Jeffri aja!"


Dedi jadi mengangguk. "Bagus! Kalo cewek?"


Rian memutar otaknya untuk berpikir. "Agista, Gista Atmadja. Lebih cocok kayaknya."


"Ya, mami setuju." sahut Sefia, lalu menoleh pada suaminya. "Bagus kan, pi?"


"Ya, boleh lah." sahutnya. "Emang kamu dapat nama itu darimana?"


"Muncul aja dikepala! Agista kayaknya bakal jadi anak yang pendiam dan penurut, kalo adik cowok ya pasti gak ada bedanya sama Rian. Ganteng lah pasti."


"Iyalah! Anak Papi mana ada yang jelek." sahut Dedi dengan bangga. "Papinya aja ganteng gini."


"Iya deh, iya." sahut Rian enteng, membuat Dedi jadi kesal.


"Dasar!" menjewer anaknya lagi.


"Aduh! Aduh! Ampun pi." Rian mengaduh.


Seketika pula, terdengar suara bel pintu berbunyi dan Sefia segera membukakan pintu.


"Malam Tante."


"Malam Dek." sapa mereka ketika Sefia membuka pintu.


"Eh, mas Angga, Yuda, silahkan masuk!" Sefia mempersilahkan mereka berdua masuk.


Kemudian menoleh pada Dedi dan Rian yang masih bergurau saja. "Pi, Rian. Di depan ada tamu." ucap Sefia memberitahu.


Seketika mereka berhenti dan menoleh pada Sefia. "Siapa mi?" tanya Dedi kemudian.


"Mas Angga sama Yuda." sahut Sefia.


Seketika Rian langsung beranjak. "Yuk pi! Aku mau ngobrol sama Yuda." ajak Rian.


"Iya, kita temui mereka."


****


Maaf Author jarang Update! Jangan Lupa Klik Favorite agar dapat notifikasi dan Likenya ya :*

__ADS_1


__ADS_2