SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Rindu Pilu


__ADS_3

"Desi, kamu kenapa?" tanya Mega, segera menghampiri sahabatnya yang tengah duduk bersedih ditepi ranjang.


Desi menoleh, lalu memeluk sahabatnya itu sembari terisak. "Rian tadi menemuiku."


Mega membelalak kaget mendengarnya, kemudian membalas pelukan sahabatnya serta menepuk punggungnya, guna memberi ketenangan untuknya.


"Kamu tenangkan diri dulu!" pintanya, mengambil segelas air putih diatas nakas lalu menyodorkannya. "Ceritakan semuanya pelan-pelan!"


Desi segera meneguk air putih itu, kemudian menghela nafas pelan untuk menenangkan dirinya yang tak karuan. "Tadi aku langsung pergi menemui pemilik rumah lamaku, dan ternyata itu Rian."


Mega sudah menduga itu, tapi Mega juga tak pernah membicarakan soal pemuda itu karena Desi melarangnya.


"Aku berbohong padanya, aku lagi lagi menyakitinya." sambung Desi, terisak kembali.


Mega hanya bisa mengelus punggung sahabatnya yang kini rapuh. "Kamu juga selama ini menahan sakit."


Desi mengangguk, menghapus air matanya. "Aku tahu, ketika aku menahan rindu rasanya begitu berat dan pilu. Aku selalu berpikir bahwa aku tidak akan pernah kembali lagi ke negera ini, jadi aku tak sekalipun menghubunginya. Karena aku takut tidak bisa tahan, takut tidak bisa kuat menahan rindu padanya."


Desi menghela nafas berat kembali, menatap langit diding kamar guna menahan butiran air mata yang tak mau berhenti meski sudah diseka.

__ADS_1


Desi pun tersenyum sekilas ketika akhirnya bisa melihat pemuda itu kembali, pun mengingat wajahnya yang tampan. "Aku bersyukur bisa melihatnya lagi, meski akhirnya dia makin membenciku." ucapnya tersedu kembali, lalu menoleh pada sahabatnya yang tengah duduk disampingnya. "Aku harus bagaimana?"


"Apa tidak ada sedikitpun kesempatan untuk kalian bersama kembali?" tanya Mega meyakini. "Bukankah kalian masih saling menyukai meski sudah lama berpisah?"


Desi menggelengkan kepalanya, menuduk sedih. "Sudah tidak lagi Meg, aku akan segera bertunangan dan melangsungkan pernikahan."


****


Untukmu, semua hati yang pernah mencintai dan dicintai. Yang pernah di khianati sampai tak ingin hidup lagi. Baca kisah ini dengan hati hati.


****


Disisi lain, Agis tengah bersembunyi dibalik tembok. Mengendap-ngendap bersama dengan temannya, Kikan.


"Husss! Bentar lagi juga tau." sahutnya, lalu menoleh kembali pada seseorang yang berbincang dan berkumpul dengan teman-temannya itu.


Kikan pun juga melihat kearah Agis memandang, dan mampu menebaknya seketika. "Oh, kak Dimas."


Seketika Agista berbalik, menatap temannya. "Lo kenal sama cowok paling tampan itu?"

__ADS_1


Kikan bersindakap, lalu mengangguk. "Kenal lah, dia kan tetangga baru gue. Dia juga idola di sekolah ini."


"Wah!" Agis jadi berjingkrak senang. "Kenalin dong! Kenalin, please!" mohonnya, sedikit mengguncang lengan Kikan.


Kikan jadi memutar bola matanya jengah. "Oke oke, gue kenalin." sahutnya, membuat Kikan kembali heboh sendiri.


"Makasih Kikan, elo emang temen gue paling baik deh, gak ada duanya." pujinya dengan gembira.


Kikan hanya bisa mencibikkan bibirnya. Memuji kalau lagi ada maunya, pikirnya.


Agista kembali cekikan dengan gembira, menoleh pada pemuda yang disukainya. "Kak Dimas, aku padamu." teriak Agista dengan lantang, seketika itu pula Kikan langsung membekam mulut temannya yang serampangan itu.


"Jangan bar-bar begoook!" umpat Kikan, menarik temannya untuk segera pergi sebelum Dimas dan kawan-kawannya tahu.


"Perasaan, tadi kayak ada yang teriak manggil nama gue deh." gumam Dimas, ketika melihat dibalik tembok dan tak ada seorang pun.


****


OTW NGETIK LAGI ...

__ADS_1


CUKUP BAYAR LELAH DAN KEHALUAN INI DENGAN LIKE, KOMEN.


YANG PUNYA POIN/KOIN TOLONG BANTU VOTE DENGAN IKHLAS YAAA :) MAKASIH


__ADS_2