SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Cara Membenci


__ADS_3

Putri tengah gelisah, mondar-mandir sedari tadi. Membuat Nadin menggeleng kepala melihat tingkah aneh anaknya.


"Kenapa, Put?" tanya Nadin pada anaknya.


"Aduh! Putri lagi bingung ma, gak tahu harus mau ngomong apa."


"Ada apa sih? Kok mama gak tahu apa-apa."


Nadin lalu memegangi kedua sisi pundak anaknya, menuntunnya untuk duduk disebelahnya.


"Coba cerita sama mama!" pintanya.


"Hm. Gini ma, Putri hari ini kan diajak jalan sama temen Putri yang namanya Yuda. Orang yang nolongin Putri waktu dicegat segerombolan anak nakal itu loh ma."


"Oh, yang pernah Putri ceritain itu?" tanya Nadin memastikan, dan Putri mengangguk. "Terus? Masalahnya."


"Masalahnya, Putri kira, Putri suka sama kak Yuda dan minta di comblongin ke kak Rian tapi seiring berjalannya waktu, ternyata orang yang bener-bener Putri suka itu kak Rian." sahutnya perlahan, menjelaskan.


Seketika Nadin jadi menahan tawa, dan Putri jadi kesal karenanya.


"Aku serius ma." ucap Putri, menebalkan bibirnya.


"Iya iya, sorry." memaksa berhenti tertawa, menghela nafas untuk tenang. "Jadi Putri sukanya sama Rian? Tapi sekarang Putri harus jalan sama Yuda?"


Putri mengangguk. "Iya ma, terus gimana dong?"


Nadin membenarkan duduknya, memegang kedua sisi pundak anaknya. "Putri tenang aja! Karena Putri sudah janji ya Putri keluar aja, dan kalo Yuda misal mengatakan perasaannya, nanti Putri harus jawab dengan jujur."


"Kalau nanti kak Yuda kecewa gimana dong, ma?"


"Kecewa itu pasti, tapi namanya perasaan kan gak bisa dipaksa. Lebih baik jujur daripada menjalani kebohongan yang menyiksa." sahutnya, mengulas senyum. "Putri ngerti kan maksud mama?"


Putri mengangguk. "Iya ma, Putri ngerti."


"Gitu dong!" mengelus rambut anaknya.


****


Disisi lain, Yuda tengah bersiap diri untuk mengajak Putri pergi jalan-jalan.


Ketika dirinya menuruni anak tangga, tak sengaja dia mendengar percakapan orangtuanya, Angga dengan neneknya.


"Oh, jadi Yuda selama ini temenan sama anaknya Sefia?" tanya Lidia, khas dengan suara sinisnya.


"Iya ma, mereka akrab! Jadi mama gak usah ngeledek Yuda lagi kalo dia gak ada temen, karena Angga tahu kalo anak Sefi itu anak yang baik dan pantas berteman sama Yuda."


"Cih! Tentu anak baiklah, orangtuanya kaya raya beda sama anak haram itu, anak Lia." sahutnya, masih kental dengan kebenciannya.

__ADS_1


"Mama kok masih ngomong kayak gitu sih? Udahlah ma, sampai kapan mama akan bersikap kasar seperti ini? Kasihan Yuda loh ma, dia masih muda. Janganlah mama tanamkan rasa kebencian dihatinya, apalagi saat ini dia enggan banget ketemu sama mama. Gak baik ma."


"Terserahlah! Mama gak peduli soal anak itu." beranjak berdiri, untuk pergi. "Semoga aja anak Sefia itu sadar terus ogah berteman dengan Yuda."


"Astaga mama." teriak Angga frustasi, menghadapi mamanya sendiri.


Sedangkan Yuda yang tak sengaja mendengar itu jadi tampak sangat terpukul sekali. Ia jadi terduduk lemas dianak tangga, memegangi kepalanya yang mulai memanas akibat mengingat dimana dirinya berada diantara orang yang dibencinya, Sefia.


"Bagaimana mungkin? Kenapa harus Rian? Kenapa pula harus maminya yang selalu bersikap baik kepadaku? Kenapa?" gumamnya terisak. "Aku sangat membencinya, membencinya yang membuat mamaku meninggal."


****


Awalnya, Yuda hanya berniat mengajak Putri sekedar jalan-jalan saja karena dirinya hanya berniat untuk mengerjai Rian saja.


Yuda tahu betul bahwa temannya itu menyukai Putri, terlihat jelas dari sorot matanya saat Yuda ingin mengatakan kalau akan mengajak Putri keluar.


Tetapi jika sudah begini, apa yang akan terjadi?


Yuda berjalan menaiki taxi, datang memenuhi janji untuk jalan - jalan bersama dengan Putri.


Tok Tok Tok.


Yuda mengetuk pintu rumah Putri, dan segera Putri membuka pintu.


"Kak Yuda."


"Hai Put?" sapanya. "Jadi kan ikut gue jalan-jalan?"


"Ah, iya. Yuk kita jalan." ajaknya, dan Putri segera menutup pintu rumahnya lalu berjalan mengikuti Yuda.


"Kita mau kemana, kak?" tanya Putri, berjalan disamping Yuda.


"Kita?" Yuda sedikit bengong, pikirannya masih melayang entah kemana. "Kita jalan-jalan sekitar sini aja." sahutnya kemudian.


Putri hanya mengangguk, mengikuti langkah Yuda pergi. Ditemani cahaya bulan dan lampu jalan yang terang.


Sepanjang jalan, Yuda hanya terdiam tak banyak bicara seperti sebelumnya.


"Kita ke Caffe aja yuk sebentar, setelah itu kita pulang." ajaknya kemudian, setelah lama terdiam.


"Iya kak, yuk!"


Merekapun menyeberangi jalan, lalu masuk kedalam sebuah Caffe dan memesan kopi dan coklat hangat.


"Kak, ada yang ingin Putri katakan." ucapnya ragu.


"Ya, katakan saja!"

__ADS_1


"Begini, Putri ingin ngasih tahu kalau Putri suka sama kak Rian."


Sontak Yuda jadi tertawa layaknya menonton pertunjukan komedi. "Sorry! Sorry!" ucap Yuda, menahan tawa, tak enak pada gadis yang tengah menebalkan bibirnya.


"Ih, kok malah ketawa, sih?" dengusnya, sebal.


"Iya iya sorry! Gue udah tahu kalo lo suka sama Rian." sahutnya tak terduga.


"Oh, jadi udah tahu?" Yuda mengangguk. "Ah, kakak gitu aja udah tahu tapi kenapa kak Rian gak peka banget sih."


Yuda hanya memberikan senyuman pasi, setiap mendengar nama Rian, iya hanya terus memikirkan cara untuk membenci.


"Kita pulang!" ajaknya kemudian, tanpa menyentuh minuman yang ia pesan.


"Loh kok udah mau pulang sih, kak?"


"Gue ada urusan." sahutnya beranjak cepat, lalu berjalan mendahului dan Putri buru-buru mengikuti.


Putri berlari kecil, mengejar langkah Yuda yang berjalan tak peduli.


Jarak antara Caffe dan rumah Putri sangat dekat, jadi hanya memerlukan jalan kaki untuk sampai hanya dalam hitungan menit.


Disisi lain, Rian tengah memantapkan hati untuk menyatakan perasaannya pada Putri walau ia akan merasa bahwa Putri akan lebih memilih Yuda daripada dirinya.


Rian juga tak menuntut balas harus sama rasa, karena ia hanya berniat mengungkapkannya tanpa harus merusak persahabatan dirinya dengan Yuda.


Sebelum Menemui Putri, Rian sudah membeli setangkai bunga untuk ia berikan nanti.


"Kita udah sampai." ucap Yuda pada gadis yang berdiri kedepannya.


Putri tersenyum. "Makasih terakhiran minumannya, Putri masuk dulu." pamitnya.


Yuda mengangguk. "Iya, masuklah." sahutnya.


Namun kemudian, pikiran untuk membiarkan Putri masuk begitu saja itu langsung berubah, ketika Yuda melihat Rian berjalan mendekati kearah mereka.


Segera Yuda manarik lengan Putri hingga ia berbalik, dan tanpa permisi Yuda langsung menekuk leher Putri lalu melayangkan bibirnya agar saling bertemu dengan bibir merah gadis itu.


Putri hanya bisa membelalak kaget, atas sikap Yuda yang mendadak.


Sedangkan Rian yang melihat adegan menyesakkan hati itu, menjadi kaku dan jemarinya lunglai hingga menjatuhkan bunga yang ia genggam dan langsung berbalik badan tidak ingin melihat adegan yang menyesakkan.


"Maafkan aku." ucap Yuda, ketika melepas pagutannya.


Melirik kearah Rian tadi berdiri, yang sudah tidak ada. Tanpa menjelaskan apapun Yuda juga langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan Putri yang tengah mematung begitu saja.


"Hari ini, pertemanan kita berakhir. Aku akan membencimu." gumam Yuda, menahan sesak.

__ADS_1


****


Absen dong! Kalian dari Daerah mana aja, nih? Siapa tahu samaan sama Author he he


__ADS_2