SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Harus Kuat


__ADS_3

Seperti biasa di akhir pekan Angga selalu membangunkan anaknya untuk melakukan olahraga bersama, tetapi kali ini Yuda bahkan belum bisa tidur sama sekali.


"Yud, kamu gak tidur ya?" tebak Angga ketika memasuki kamar anaknya, dan menemukan Yuda duduk ditepi ranjang sambil mengacak kasar rambutnya penuh frustasi.


Yuda menoleh. "Eh! Papa. Gak bisa tidur aja pa."


Angga duduk sebelah putranya, menepuk bahunya. "Apa ada masalah? Kepikiran Rian, ya?" tebaknya.


"Kok papa bisa tahu? Tapi lebih dari itu sih pa."


"Papa udah baca artikel mengenai Rian, papa juga gak percaya kalo anak baik seperti dia melakukan hal buruk terhadap seorang gadis."


Yuda hanya bisa menundukkan kepalanya, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia juga bingung harus bagaimana.


Angga mengacak rambut anaknya, gemas. "Kalau kamu kepikiran, jenguk aja Rian!"


"Enggak deh pa! Yuda mau tidur aja." sahutnya, membaringkan diri lalu mengambil guling untuk ia peluk.


"Oh, yaudah. Papa mau keluar olahraga duluan." pamitnya.


"Iya, hati-hati jangan sampai ke goda ibu-ibu tukang gosip ya pa!"


Angga jadi tertawa. "Apaan sih! Papa keluar dulu." pamitnya lagi langsung keluar dari kemar Yuda.


Yuda juga semakin kepikiran, ingin tidur tapi tidak bisa. Pikirannya tidak tenang. Memegang sebuah rahasia itu memang tidak mengenakkan.


"Ah, terserahlah." ia kemudian langsung beranjak, mengambil sebuah buku kegemarannya dan segera pergi kerumah sakit menjenguk Rian.


Karena ini pagi hari, Yuda bersyukur bahwa orangtua Rian belum datang dan Yuda bisa punya banyak waktu untuk temannya yang sedang berbaring lemah itu.

__ADS_1


"Hei." sapa Yuda sedikit canggung, meskipun Rian tak menjawab tapi Yuda berbicara seakan Rian mendengarkannya.


"Gue juga kesini bawa sebuah buku buat lo, ini buku yang pernah gue ceritain ke lo waktu itu. Berhubung lo sakit jadi gue bacain ya! Per-bab doang ya tiap hari, tapi lo harus buruan sadar biar bisa baca sendiri. Buku ini cukup tebel tapi asyik." Yuda malah terkekeh geli sendiri.


Ia kemudian mulai membaca untuk Rian dengarkan, secara perlahan dan tegas.


Setelah selesai membacakan buku yang ia bawa, Yuda jadi menatap sedih penuh bersalah pada teman dihadapannya.


"Gue mungkin masih benci sama orangtua lo, bahkan lo sendiri. Entah ini yang dinamakan benci atau bukan tapi gue harap lo bisa sembuh, dan maafin gue yang gak bisa berbuat apa-apa." ucap Yuda dengan tatapan nanar. "Gue pamit pulang! Sampai ketemu lagi besok." ucapnya kemudian berlalu pergi.


****


Disisi lain, Dedi tengah membawa nampan berisi makanan untuk sarapan.


Ia duduk ditepi ranjang, mengelus rambut istrinya. "Sayang, bangun!"


Mulai perlahan Sefia membuka matanya yang masih berat lalu menggeliat untuk merenggangkan ototnya.


Biasanya Sefia enggan untuk makan, tetapi kini tidak. Ia langsung mengambil nempan itu, menaruhnya dipangkuannya lalu makan dengan begitu lahapnya.


Entah, meskipun rasanya dia ingin mual tapi dia tetap melahap makanannya sampai habis.


"Papi juga udah sarapan?" tanyanya.


Dedi mengangguk. "Udah kok mi."


"Kita harus banyak makan biar punya tenaga! Kita harus cek lokasi kejadian, cctv dan segalanya. Aku tidak akan membiarkan pelakunya berkeliaran dengan baik diluar sana." ucap Sefia meluap-meluap dengan segala emosinya.


Dedi jadi tersenyum melihat semangat istrinya. "Iya sayang, kita juga harus kuat untuk menghadapi apapun." sahutnya. Lalu mengambilkan gelas berisi air untuk istrinya teguk.

__ADS_1


"Makasih pi." ucapnya ketika mengambil gelas lalu meminumnya sampai habis dengan susah payah.


"Mami sebaiknya mandi dulu, stelah itu kita pergi menemui Rian. Soal cctv, aku sudah menyuruh Erfan dan kita akan memastikannya sendiri."


Sefia mengangguk. "Iya." sahutnya lalu bergegas pergi ke kamar mandi.


Setelahnya Dedi masih dengan setia membantu mengeringkan rambut istrinya yang masih basah lalu tak lupa mengecup pipinya.


"Yuk, kita ke Rian."


Sefia mengangguk. "Yuk."


****


Putri berdiam diri, ia mulai begitu tenang sembari menatap bunga-bunga di taman belakang rumahnya.


Nadin datang duduk disampingnya sembari mengelus rambutnya. "Put! Kita sarapan yuk!"


"Sebentar lagi, ma." sahutnya tanpa menoleh, masih memandangi bunga-bunga. "Bagaimana, Rian?" tanyanya kemudian.


"Mama sudah mengurusnya, tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa karena Rian masih koma."


Seketika Putri menoleh dengan tatapan nanar pada mamanya, Nadin kembali lagi mengelus rambutnya.


"Jangan memikirkan manusia yang tidak memiliki hati nurani seperti dia! Berpura-puralah seakan tidak terjadi apa-apa, pasti semua akan baik-baik saja."


Putri jadi meneteskan airmatanya tanpa berkata apa-apa, lalu Nadin memeluknya untuk memberikan ketenangan pada dirinya.


****

__ADS_1


Kamsamida :*


__ADS_2