
Seperti yang sudah direncakan sebelumnya, mereka Rian, Yuda, Putri dan Mega pergi ke perpustakaan sekolah untuk belajar kelompok bersama.
"Gue mules, bisa ijin ke toilet bentar, gak?" tanya Mega, beralasan.
"Pergi aja gih! Ganggu aja." sahut Yuda sengenanya, membuat Mega menghentakan kakinya kesal lalu beranjak pergi.
Seperti yang kalian tahu, Mega tidak benar-benar ke toilet tapi melainkan datang pada kedua temannya itu, Desi dan Loli.
Sedangkan Yuda dan Rian masih bertahan untuk belajar.
"Akh." keluh Yuda, mengacak rambutnya, frustasi.
"Kenapa, kak?" tanya Putri.
"Ah, ini. Soal yang ini gue pusing banget! Gak tahu caranya." menunjuk soal halaman dibuku.
"Sini! Coba Putri lihat!"
Mereka berduapun duduk bersama, dan dengan kesabaran Putri membantu Yuda untuk mengerjakan soal-soal matematika yang dianggap sulit baginya.
Sedangkan Rian, merasa makin kesal saja. Ia memilih menepuk-nepukkan bukunya kedahinya sendiri, yang dia anggap sudah tak waras lagi.
"Gue juga gak bisa, bantuin dong!" pinta Rian kemudian, tak mau kalah.
"Yang mana, kak?" tanya Putri, dan ia beralih duduk di sebelahnya.
Rian langsung menunjuk asal soal yang dikatakannya susah, padahal ia mampu untuk mengerjakannya.
"Oh ini sih gampang kak." ucap Putri lalu menjelaskannya dengan rinci, memberikan penjelasan termudah agar Rian mengerti.
Tapi bukan soal yang ditunjuk yang ia pandang, tetapi ia malah tertarik dengan wajah Putri yang memusatkan perhatian lebih.
Rian begitu tak menyadari bahwa dirinya sendiri telah menyunggingkan senyum pada gadis itu, hingga membuat Yuda yang tak sengaja melihatnya jadi berpikiran aneh.
"Ekhem - Ekhem." Yuda mendehem dengan sengaja.
Membuat Rian jadi salah tingkah.
"Gimana? Udah ngerti?" tanya Putri.
__ADS_1
Rian mengangguk cepat. "Ngerti kok." memberikan senyuman lebar dan segera menarik bukunya kembali.
****
"Ha ha, ketahuan kan lo sekarang! Lo naksir si Putri, ya?" ledek Yuda pada temannya itu.
"Si..siapa? Ah, ngasal aja lo." sahut Rian, gugup.
Yuda jadi tertawa geli karenanya. "Ha ha, gak jujur amat sih."
Rian bersindakap, kali ini malas. "Beneran tahu! Putri itu bukan tipe gue banget, jadi gak mungkin banget kalo gue sampek suka sama cewek kayak dia."
"Wah, beneran? Gak akan nyesel lo, kan?" tanya Yuda memastikan.
Dengan Ragu Rian mengangguk. "Beneran." sahutnya lantang, meyakinkan. Padahal dirinya sendiri tidak tahu akan perasaannya sendiri.
"Asyik! Jadi gue ada kesempatan buat ngajakin dia kencan dong." ucap Yuda dengan entengnya.
"Kencan?" tanya Rian, menganga.
Yuda mengangguk. "Iya, gue akan ngajak kencan."
"Bodo amat lah! Yang penting dia mau sama gue, ya kan?" menepuk bahu Rian, lalu merangkul dan berjalan beriringan memasuki kelas.
Sedangkan disisi lain, Putri sedang berada dibalik pintu dan tak sengaja mendengar percakapan mereka berdua tadi.
Seketika Putri jadi meneteskan air matanya yang berharga, bukan karena Yuda yang tidak mampu membalas perasaannya tetapi karena Rian yang dengan lantang tidak mungkin menyukainya.
"Kenapa aku malah nangisin kak Rian, sih?" gumam Putri, tak mengerti akan diri sendiri.
Putri pun segera menghapus air matanya dan segera memasuki kelas kembali karena bel masuk sudah berdering.
Selama jam pelajaran, Putri tak hentinya menoleh pada Rian yang tengah memperhatikan kedepan.
Ia lebih tertarik melihat Rian ketimbang Yuda untuk sekarang. Tapi ketika ia ingat omongan Rian tadi, mendadak membuat hati Putri jadi sedikit merasakan nyeri.
"Putri, coba jelaskan soal ini!" pinta pak Alvin, sontak membuat Putri langsung menoleh.
Tapi karena dasarnya dia pintar, meskipun tak banyak memperhatikan. Ia masih mampu untuk menjawab semua soal yang diberikan gurunya itu.
__ADS_1
Dan kini jam pelajaran sudah berakhir, dan Yuda dengan sigap langsung mendekat kearah Putri yang masih menata bukunya untuk ia masukkan dalam tas.
"Put, besok kan akhir pekan. Gimana kalo kita pergi jalan-jalan." ajak Yuda pada Putri.
"Jalan - jalan?" tanya Putri lagi, tak percaya.
Yuda mengangguk. "Iya, jalan-jalan. Berdua." ia tekankan.
Putri tak langsung menjawab, ia malah melirik kearah Rian dan melihat lamat-lamat ekspresi wajah tak peduli pemuda itu. Lalu ia mengangguk. "Iya hayo! Besok sore kita pergi jalan-jalan." sahutnya lantang, sengaja agar Rian mendengar.
"Ah oke, besok malam aku jemput, ya." memberikan senyuman termanisnya. "Aku pulang duluan." pamit Yuda melambaikan tangan kemudian.
"Oke, sampai ketemu besok." balas Putri.
Sedangkan Rian bersikap tak peduli, dan langsung berjalan melewati Putri.
Segera Putri menyusul nya dan menghentikan langkahnya. "Kak Rian." panggilnya, mengejar.
Rian menoleh, menghentikan langkahnya. "Ada apa?"
"Kamu dengar gak tadi, aku akan pergi jalan-jalan berduaan?"
"Oh, iya aku dengar." sahutnya tenang.
"Aku akan berkencan." kali ini Putri berucap dengan kalimat menekan.
"Hm. Baguslah!" sahut Rian, sungguh responnya bukan yang Putri harapkan.
"Yaudahlah kalo gitu." Putri malah mendengus kesal, berbalik lalu pergi begitu saja. Membuat Rian semakin kebingungan saja.
"Lah, dia kenapa, sih? Bukannya dia seharusnya seneng banget karena akhirnya bisa sama Yuda?" Rian menggaruk kepalanya, bingung.
"Terserahlah."
****
Konflik sebenarnya bukan cinta segi tiga, lebih dari itu T_T
MOHON DUKUNGANNYA DAN MAMPIR KE SELINGKUH 2 DAN FOBIA PRIA TAMPAN.
__ADS_1