SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Masalalu


__ADS_3

"Rian." sapa Desi, mendekati Rian yang tengah berjalan pulang. "Pulang bareng, yuk! Aku bawak mobil."


"Sorry, gue pulangnya naik bus sama temen." sahutnya.


"Siapa?"


Lalu Yuda muncul dari balik punggung Rian. "Gue, mau bareng?"


"Gak!" memalingkan muka. "Kok temenan sama preman sih?" ledeknya.


Rian menghentikan langkahnya, menatap Desi. "Bukan urusan lo. Udah ah, lo pulang aja sana! Supir lo udah nungguin tuh."


"Eh, iya. Yaudah kalo gitu." mencium jemarinya, dan melambai. "Sampai ketemu besok Tampan."


Rian hanya menyunggingkan bibirnya, lalu kembali berjalan bersama dengan Yuda ke halte bus dan pulang bersama. Kebetulan rumah mereka satu arah pulang.


"Apa lo gak bakal nyesel nih temenan sama gue?" tanya Yuda pada pemuda yang duduk disebelahnya.


"Gak lah, ngapain juga."


"Ya, kayaknya cewek-cewek yang naksir lo akan kabur ketika lihat gue yang terkenal preman ini."


"Yaelah, santai kali. Aku gak peduli sama mereka, juga gak suka kalo diganggu. Risih banget." ucap Rian kemudian menoleh. "Tapi yang gue lihat, lo gak seburuk yang mereka pikir."


"Cih! Lo itu tahu apa, sih." Yuda jadi tertawa, mengacak rambut Rian. "


Rian juga membalas mengacak rambutnya. "Lo juga tahu apa tentang gue."


Mereka jadi tertawa bersama, menghiasi suasa bus dalam bus yang kebetulan sepi.


"Oh ya, lo turun dimana?" tanya Rian.


"Nih, halte depan udah nyampek." sahutnya. "Lo sendiri? Masih jauh gak?"


"Gak kok, jarak beberapa menit doang." sahutnya menepuk bahu Angga. "Kapan-kapan maen kerumah!" ajaknya.

__ADS_1


"Oke, gue bakalan main kerumah lo, asal banyak makanan aja."


"Ha ha, siap bos."


Bus berhenti, Yuda menepuk bahu milik Rian ketika beranjak dari duduknya. "Gue duluan, ya?"


"Oke, sampai ketemu besok."


"Oke."


****


Yuda pun kini melangkah menuju rumahnya, kebetulan papanya juga sudah pulang kerja lebih awal dari biasanya.


"Hei, anak papa udah pulang. Gimana sekolahnya?" tanya Angga menepuk bahu anaknya.


"Baik kok pa." sahutnya tersenyum.


Berbeda dengan Angga yang menyambut dengan senyum, Lidia malah menyunggingkan bibirnya dengan raut mengejek.


"Gak malu kah ketemu temen sekolah kamu? Secara kan kamu ketinggalan kelas." cibirnya, bersindakap.


Yuda mengangguk. "Baik pa." segera Yuda pergi ke kemarnya dengan mengepalkan tangannya, menahan emosi.


Seketika masuk kedalam ruangan kamarnya, Yuda langsung melempar tas sekolah miliknya kekasur dengan emosi.


"Aaaargh. Kenapa nenek selalu tak suka padaku, bahkan dia menganggapku hanya anak haram. Aku ini cucunya apa bukan, hah?" gumamya terisak, pada dirinya sendiri.


Sedangkan Angga masih berhadapan dengan ibunya yang masih dengan peringai egois.


"Mama kenapa sih selalu bersikap seperti itu sama Yuda?" tanya Angga heran.


"Mama itu gak suka liat dia, tiap liat dia mama selalu inget sama Sefia."


"Mama, udah dong ma. Itukan udah jadi masalalu."

__ADS_1


Lidia menoleh, menatap tajam mamanya. "Bagi mama itu enggak, karena sampai saat ini Sefia gak mau nemuin mama gara-gara wanita licik mamanya si Yuda itu."


"Ma." bentak Angga. "Aku harus berapa kali sih bilang ke mama. Lupakan semuanya ma, semuanya udah berakhir! Sefia juga udah bahagia dengan keluarga barunya. Tanpa mama minta maaf langsung pun, Sefia pasti udah maafin mama."


Lidia menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, pokoknya mama benci Lia sama Yuda itu." sahutnya berbalik, kemudian menaiki anak tangga untuk berlalu pergi.


"Mama." teriak Angga kesal, pada mamanya yang langsung berlalu pergi begitu saja.


Angga mengacak rambutnya penuh frustasi, disisi lain Yuda menguping percakapan orangtuanya barusan.


"Siapa sih Sefia itu? Aku benci dia. Mungkin karena dia mamaku sampai meninggal bunuh diri." gumam Yuda dibalik pintu, dengan tangan mengepal kesal.


Mengingat tahun lalu, dimana Yuda harus mengikuti ujian semester akhirnya. Ketika itu pagi hari Yuda sudah bersiap diri untuk berangkat sekolah menghadapi ujian.


Sementara Angga sudah lebih dulu berangkat ke kantornya karena ada meeting penting.


"Nek, aku berangkat dulu! Doain Yuda lancar ujiannya." ucap Yuda ingin menciumi jemari neneknya itu tapi malah ditepisnya dengan kasar.


"Najis! Heran deh anak kayak kamu gak tahu malu, masih aja pengen dibaikin."


"Maksud nenek, apa?"


Lidia mendekatkan wajahnya, menatap cucunya itu dengan sinis. "Kamu tahu gak? Mamamu mati karena apa?"


"Kata papa, mama meninggal saat melahirkanku."


Sontak Lidia tertawa sarkas. "Ha ha, kamu percaya itu? Dia sebenarnya mati, bunuh diri. Gara-gara dia gak sudi lahirin kamu didunia ini, dia pengen tetap terlihat cantik awet muda tapi karena kamu lahir, mamamu jadi tidak secantik dulu. Bahkan dia rela mengakhiri hidupnya karena ayahmu takut berpaling dengan perempuan lain." ucapnya berbohong.


Mendengar itu, Yuda membelalak tak percaya. "Enggak! Nenek pasti bohong." teriaknya.


"Aduh, gak usah teriak-teriak deh." dengusnya kesal. "Kalo kamu gak percaya, ya udah terserah." Lidia pun berbalik untuk pergi tapi lagi-lagi dia berbalik, menatap Yuda. "Oh ya satu lagi, mamamu bukan perempuan baik-baik."


Seketika Yuda mengambil vas bunga lalu memecahkannya ke lantai. "Gak mungkin! Nenek bohong." teriaknya terisak, lalu pergi begitu saja.


Dia bahkan tidak datang kesekolahnya pada hari itu, dia tidak mengikuti ujian sama sekali dan bahkan dia sering membuat rusuh disekolahnya ketika masuk.

__ADS_1


****


MOHON BANTUAN DENGAN DUKUNGAN VOTE, RATING 5, LIKE, KOMEN. YA :* KAMSAMIDA :*


__ADS_2