
Segera Anggi bersiap diri, menata meja kerjanya sebelum ia pulang lebih awal mengikuti atasannya. Berhubung ini adalah hari pertamanya bekerja, jadi Angga tidak ingin terlalu membebaninya dengan banyak pekerjaan.
"Apa bapak akan langsung pulang sekarang?" tanya Anggi pada atasannya, saat baru keluar dari ruangannya membawa tas kerjanya.
Angga mengangguk. "Iya, saya harus pulang lebih awal untuk menemani anak saya terlebih dahulu sebelum pergi ke acara dengan teman."
"Ah, begitu." Anggi mengangguk, penuh canggung dan kecewa.
Ternyata dia sudah punya anak.
Terlihat jelas raut kecewa tergambar di wajah Anggi, entah saat pertamakali bertemu sudah merasakan perasaan penuh harap akan atasannya tersebut.
Anggi berjalan menunduk, mengikuti atasannya dibelakang sampai ke pintu utama perusahaaan.
Entah, cuaca mulai tak beraturan. Kondisi langit cerah tapi tiba-tiba hujan turun begitu saja membasahi bumi.
Angga yang tahu itu, ia diam sejenak. Menatap tetesan hujan yang mengalir dari atap perusahaan. Ia juga tak sengaja mengarahkan pandangannya pada Anggi yang tengah berdiri, menatap sedih pada guyuran hujan yang membasahi.
Seketika Angga teringat pada mantan istrinya, dimana Sefia dahulu meminta dirinya untuk menjemput dihalte, ketika ia meng-iyakan permintaan mantannya itu, betapa senang Sefia waktu itu tapi Angga malah mengecewakannya.
Dan kini tanpa ragu, Angga kembali ke ruang kerjanya mengambil payung yang terletak dilemari kecil dekat dengan meja kerjanya.
Segera Angga melangkah cepat, lalu membuka payungnya kehadapan Anggi.
__ADS_1
Anggi menoleh, tercengang. "Pak Angga."
"Kamu mau pulang juga, kan? Kebetulan kita searah. Jadi saya tidak keberatan memberimu tumpangan."
Anggipun tak menyia-nyiakan ajakan itu, langsung saja Anggi mengangguk cepat dengan senyum mengembang. "Mau pak, mau." sahutnya antusias, membuat Angga terkekeh karenanya.
Merekapun berjalan penuh kehati-hatian kearah parkiran.
Dengan suka rela, Angga memberikan payungnya penuh pada sekretarisnya. Sedangkan dirinya terlihat sedikit kebasahan pada bahunya yang tak tertutup payung karena Anggi lebih mendominasi.
Anggi yang melihat pengorbanan kecil itu, lantas merasa sangat senang. Merasa sangat diperhatikan.
Hingga tiba didepan mobil, Angga dengan baik membukakan pintu untuk Anggi masuk terlebih dahulu, sedangkan ia menyusul kemudian.
"Ah iya, tidak masalah." sahutnya, lalu menyalan mobil dan berlaju pergi.
Sepanjang jalan, Anggi melihat malu-malu pada pria tampan itu. Meliriknya dengan senyum lalu menunduk malu ketika ingin menyembunyikan senyuman senangnya.
"Oh ya, apa masih jauh?" tanya Angga fokus kedepan.
"Didepan pak, belok kiri." sahutnya, dan Anggapun membelokkan laju mobilnya. "Saya turun disini saja, pak." pintanya.
"Beneran mau turun disini?" tanya Angga meyakinkan.
__ADS_1
Anggi mengangguk. "Iya pak, cuma didepan kok. Tinggal jalan kaki."
"Ah iya."
"Terimakasih banyak, pak. Hati-hati dijalan." ucapnya ketika sudah turun dari mobil, sambil melambaikan tangan pada atasannya yang sudah berlaju pergi.
Angga melajukan kendali mobilnya, menghela nafasnya dengan puas. Lalu ia menghentikan mobilnya tiba-tiba ditepi jalan.
'Yaudah, peluk aku gitu mas biar gak kena hujan dan anget.' pinta Sefia dikala itu, tergambar dengan jelas diingatan Angga.
"Dek, maafin aku yang dulu." ucapnya menahan tangis, menyesali perbuatannya yang keterlaluan dahulu.
Dia ingat dengan jelas, bagaimana inginnya Sefia ia peluk dalam kehangatan satu payung dengannya.
Padahal hanya hal kecil saja, tapi ia tidak mampu memberinya.
"Hari-hariku kini tak sama, dan tak pernah sama. Tak akan ada lagi kehangatan kamu yang dulu. Aku tidak bisa memaafkan diriku."
"Aku merindukanmu."
****
Mohon dukungannya dengan CARA LIKE, KOMEN, RATING 5, POIN SE-IKLASNYA.
__ADS_1