
Zaky sedang mandi di dalam kamar mandi. Lila yang baru saja bangun duduk sambil mengecek ponselnya.
Di pinggir jalan, Pak pandi dan supir derek selesai dengan mobil Zaky. Mereka pun meninggalkan Pak pandi. Pak pandi segera menuju ke motel. Mencari kamar nomer 11. Sampai di depan pintu Ia mengetuk. Agak lama seorang wanita membuka pintu. Pak pandi terhenyak. Dalam hatinya berkata :
" Siapa ini? berpakaian seperti ini. Apa aku salah kamar? Ini nomer 11 kan?"
Dia celingak celinguk. Lila merasa ada yang aneh segera bicara. " Maaf mungkin bapak salah kamar.
" Ehh iya, mungkin salah kamar. Maaf non."
Pak pandi pun membalikkan badan. Pintu di tutup. Terlihat lagi angka 11 di pintu itu.
" Aku yakin Nyonya bilang Tuan di kamar nomer 11. Tapi siapa Nona tadi. Astaga! Apa tuan berselingkuh?"
Pak pandi duduk di sebuah kursi di lorong. Menunggu siapapun keluar dari kamar no. 11. Ia ingin memastikan pertanyaan di kepalanya.
Di dalam kamar Zaky selesai mandi bergantian Lila yang kini mandi. Lila melempar kemeja Zaky dengan mengintip dari kamar mandi. Lalu mereka berdua tertawa. Selesai berkemas Ia menelepon pak Pandi.
" Halo pak sudah dimana?"
" Saya sudah di motel tuan. Mobil sudah di derek. Baiklah, Saya keluar sekarang."
Zaky mengambil charger milik resepsionis. Ia mengetuk pintu kamar mandi.
" Aku keluar duluan ya."
"Iya!"
Zaky harus keluar lebih dulu pikirnya. Jika Pak Pandi tau mereka sekamar, Keadaan bisa menjadi runyam nantinya. Meskipun mereka semobil nanti, tapi kalau Zaky keluar duluan pak pandi tidak akan tahu mereka sekamar. Pak Pandi hanya akan tahu bahwa Lila ikut dengannya dalam urusan kantor dan tidur di kamar yang lain.
Di luar Pak Pandi menatap daun pintu. Cekrek! Pintu terbuka dan Zaky keluar. Pak Pandi memegang dadanya. " Nyonya." Katanya Lirih. Terbayang olehnya wajah Tia yang cemas sekali kemarin saat hujan badai dan belum ada kabar dari Zaky. Tapi suaminya malah sekamar dengan wanita lain. Zaky dan Tia bagi Pandi sudah seperti anak sendiri. Sejak mereka menikah Pak Pandi menjadi supir di rumah itu untuk mengantar Tia dan Bi tuti bepergian. " Ya Tuhan.. Kenapa?" katanya dalam hati.
Zaky menghampiri Pak Pandi.
" Uda sarapan pak? pagi sekali sudah datang."
" Nyonya khawatir sekali Pak.."
" Dia memang begitu. padahal saya sudah mengabarinya. Ayo kita tunggu di mobil pak." Zaky mengajak pak Pandi menunggu temannya di mobil. supaya tidak ketahuan mereka sekamar.
Setenhah jam kemudian Lila keluar. Ia menyerahkan kunci ke resepsionis dan berpamitan. Ia mencari - cari Zaky dan melihatnya melambai lambai dari dalam mobil. Lila menuju ke mobil. Alangkah terkejutnya Lila saat melihat supir Zaky.
" Ini kan bapak yang tadi. Apa dia tahu kami sekamar? Biarlah. Siapa peduli. Mungkin dia akan memberi tahu Nyonya nya dan mereka jadi ribut." Ujarnya dalam hati.
Lila masuk ke mobil. Pak pandi pun memacu mobilnya. Sesekali di lihatnya Lila dari spion depan. Hatinya terasa sakit. Seperti mendapati anaknya sendiri sedang di selingkuhi. Ia melihat Zaky. Zaky sibuk dengan Ponselnya.
" Mereka sengaja diam atau apa. Mau membodohiku seolah aku tidak tahu. Duh, Nyonya.." katanya dalam hati.
__ADS_1
" Mau sarapan dulu tuan?"
" Tidak pak saya sarapan di rumah saja. Kita antarkan Nona Lila dulu ke Apartementnya ya pak."
"Baik tuan."
" Tia masak apa hari ini?" Tanya Zaky sambil bermain Ponsel.
"Saya cuma melihat Nyonya mencincang cumi. Saya sendiri beum sempat sarapan tadi. Nyonya sangat khawatir."
" Yasudah nanti kita sarapan bersama."
Lila hanya melirik mereka saja saat bicara. Ia takut Zaky marah kalau Dia ikut mengobrol. Akhirnya mereka tiba di Apartemen lila. Pak Pandi langsung tahu arahnya ketika Zaky menyebut nama Apartemen yang juga milik perusahaan Zaky. Lila turun dari mobil dan berpamitan.
" Ganti baju dan sarapan, Lalu kembalilah ke kantor."
" Baik pak." Sahut Lila.
Mobil pun melaju kembali. Sepanjang Jalan Pak Pandi tidak bertanya apa apa. Ia hanya bertanya tanya sendiri.
" Aku tidak akan memberitahu Nyonya. Aku tidak sanggup melihatnya terluka. Semoga Tuan berhenti bermain main." Katanya dalam hati.
---
Pukul 9.00 Lila tiba di kantor. Robi sudah menunggunya. Ada banyak pertanyaan di benak Robi dan Ia ingin meluruskannya dengan Lila. Lila masuk ke ruangan dan menyalakan laptopnya. Roby menghampirinya dan duduk di hadapan Lila.
" Kenapa terlambat?"
" Hmm.."
"Jujurlah. Aku melihatmu keluar dengan Pak Zaky kemarin. Apa kalian ke desa?"
" Iya."
" Lila. Jangan bermain main dengan pak Zaky. Dia punya keluarga yang bahagia."
" Apa maksud bapak?"
" Seluruh kantor membicarakanmu dan pak Zaky. Perlakuannya yg istimewa padamu membuat orang curiga."
"Hahaha"
" Kenapa tertawa? Dy punya istri yang baik dan empat orang putri."
" Saya tahu. Jadi?"
" Jadi berhentilah menggodanya."
__ADS_1
" Saya tidak menggodanya. Dia sendiri yang datang pada saya."
" Kau ini!"
" Jika benar dia bahagia, Ia tidak akan meladeni saya kan? Tapi lihatlah."
" Cukup Lila! Aku tidak akan membiarkanmu!"
" Lalu bapak mau apa? menasehati pak Zaky?" Lila tersenyum. Bagaimana mungkin Robi menasehati bosnya sendiri. Apalagi dia belum menikah. Mana dia tahu soal kesetiaan dan kepercayaan dalam pernikahan.
" Yang pasti aku tidak akan membiarkanmu!"
Mengetok meja lalu pergi. Lila hanya tersenyum saja.
Zaky tidak masuk kantor hari ini. Ia merasa tidak enak badan. Lila makan siang sendiri di Cafe depan kantor. Ketika Lila masuk Ia melihat beberapa rekannya di kantor. Mereka menyapanya. Ia tersenyum. Dari sudut matanya Ia melihat mereka berbisik bisik. Tapi Lila justru senang mereka bergosip tentangnya. Ia merasa hebat karena dekat dengan Zaky. Apalagi kalau sampai di nikahi Zaky. Dia menghayal sendiri.
Tiba tiba Dira datang dan menarik kursi. Ia duduk menghadap Lila.
"Lila. semua orang membicarakanmu."
" Aku tahu."
" Aku tidak suka, karena kau kan sepupuku."
" Biarkan saja."
" Biarkan apa? Apa kau benar benar menjalin hubungan dengan Presdir?"
" Kalau Iya kenapa?"
" Lila, berhentilah. Ini tidak akan berjalan baik bagimu. Semua orang tahu Pak Zaky punya Istri yans sempurna."
" Kalau sempurna Ia tidak akan mendekatiku."
" Lila.. Paman pasti kecewa jika Ia tahu."
" Peduli apa dia! Jangan berani mengaturku. Aku sekolah dan kuliah dengan perjuangan ibuku. Dia sibuk dengan Istrinya itu. Mau melarangku jadi selingkuhan? Dia sendiri berselingkuh!"
" Lila.."
" Sudahlah. Aku mau makan"
Makanan datang dan Lila mulai makan. Dira kembali ke sisi teman temannya.
Nafsu makan Lila jadi hilang mengingat nama Ayahnya di sebut. Kalau ada orang yang di bencinya lebih dari apapun itu sudah pasti ayahnya.
Ayahnya memilih menikahi wanita lain dan meninggalkan lila dan ibunya. Saat itu Ia masih kelas dua SMA. Lila membantu ibunya di toko Alat tulis kantor dan photocopy. Hingga akhirnya Ia selesai kuliah, Lila baru bertemu ayahnya lagi saat bermain ke tempat Dira. Ayah lila dan Ayah dira adalah saudara. Ia kesal sekali jika mengingat Ayahnya.
__ADS_1
---