SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Rencana Licik


__ADS_3

"Ini pak semua data mengenai tunangan Nyonya Desi." ucap Irfan memberi tahu sembari menyodorkan sebuah berkas kehadapan bosnya.


Dengan segera Rian membaca berkas tersebut. "Namanya Daren, lahir di Albany New York, umur 32 tahun. Tapi-." Rian menajamkan penglihatannya. "Bukan kah perusahaannya ini berada dibawah naungan kita?"


Irfan mengangguk. "Benar pak. Perusahaan yang dipimpin pak Daren tersebut memang dibawah naungan kita karena kita adalah pemegang saham terbesar disana."


Mendengar itu Rian jadi tersenyum licik. "Ah, kalau begini segalanya jadi mudah."


"Dan juga besok pak Daren akan tiba di negara ini untuk segera menemui bapak." lanjut Irfan memberi tahu.


"Kalau begitu, batalkan semua kegiatan untuk besok. Karena aku akan membicarakan hal yang sangat penting dengan dia."


"Baik pak." sahut Irfan, lalu membalikkan badan untuk keluar dari ruangan.


Rian membayangkan bahwa segala rencananya akan berjalan dengan mulus, Daren yang baru saja merintis perusahaannya untuk menjadi besar adalah rencana terbaik untuk seorang Rian. Ia akan menghancurkannya.


"Desi, lihat saja apa yang akan aku lakukan." ancamnya sambil tertawa sinis.


****


Untukmu, semua hati yang pernah mencintai dan dicintai. Yang pernah di khianati sampai tak ingin hidup lagi. Baca kisah ini dengan hati hati.


****


"Daren." panggil Desi, menyambut lelaki itu ketika ia akan keluar dari bandara.


Daren kemudian menoleh pada asal suara, dan langsung menemui Desi yang sudah menyambutnya dengan gembira.


"Hai Babe, aku rindu sekali." ucap Daren sambil memeluk tunangannya. "Kamu sangat cantik hari ini." pujinya ketika ia melihat Desi mengenakan dress dan berhias untuk menyambutnya.


"Thanks pujiannya, aku juga rindu." balasanya. "Oh ya, kamu kan baru sampai disini jadi untuk sementara kamu bisa menginap di apartemen ku."


"Hm, apa kamu berniat menggodaku?" rayu Daren sambil mendekatkan wajahnya pada wajah tunangannya.


Desi jadi tertawa, ia menggelengkan kepalanya. "Sudah jangan genit, banyak orang melihat!"


"Apa kamu malu, babe? Bukan kah wajar seorang kekasih bermesraan?" protesnya.

__ADS_1


"Iya aku tahu, tapi tidak disini." bisiknya malu-malu.


Daren yang mengerti lantas menarik Desi dan melingkarkan sebelah tangannya di pinggang langsing milik tunangannya itu. "Baiklah, kalau begitu aku tidak sabar ingin segera sampai apartemen milikmu."


"Kau bisa saja." Desi memukul dadanya gemas.


Namun seketika suasana intim itu menjadi berantakan ketika terdengar suara dalam milik seorang lelaki terdengar.


"Ekkhem! Maaf mengganggu."


Merekapun menoleh pada Irfan yang sudah berdiri dibelakang mereka sedaritadi. "Iya, maaf Anda siapa ya?" tanya Desi keheranan.


"Perkenalkan saya Irfan, saya adalah asisten pribadi pak Rian. Saya disini di tugaskan untuk menjemput pak Daren."


"Rian?" ulangnya berpikir, tak mungkin Rian yang ia kenal.


"Iya benar, pak Rian yang Nyonya kenal." sahutnya menebak pikiran Desi.


"Baiklah kalau begitu, saya ikut dengan Anda karena saya sangat ingin bertemu dengan pak Rian." sahut Daren menyela pembicaraan.


"Jangan khawatir babe, pak Rian bukan orang jahat, dia rekan bisnisku!" sahutnya tegas, mengelus rambut Desi. "Aku akan segera menghubungi mu." pamitnya kemudian sembari mengecup dahi Desi.


Desi mengangguk, "Baiklah, ku tunggu kabar mu."


Sebenarnya Desi begitu cemas, melihat ancaman Rian yang tak main-main membuatnya kepikiran.


Tak mungkin kan Rian membunuh Daren?


Memikirkan hal yang bukan-bukan membuatnya menampar dirinya sendiri. "Ya ampun, kenapa pikiranku sampai sejauh itu?" Desi menjadi gusar sendiri.


Padahal yang sebenarnya adalah Irfan mengantarkan Daren ke sebuah apartemen untuk menjadi tempat untuk Daren tinggali, karena Rian sendiri tahu bahwa Daren membutuhkan tempat tinggal dan mencegah lelaki itu untuk menginap bersama dengan tunangannya. Dugaan Rian begitu tepat, dan untunglah iya cekatan untuk memerintahkan Irfan menjemput Daren.


"Untuk sementara bapak bisa menempati apartemen ini." ucap Irfan mempersilahkan.


Darean kemudian melangkah dan mengedarkan penglihatannya pada apartemen mewah, berletak dipusat kota dengan lokasi strategis dan pemandangan yang sangat indah. "Kenapa pak Rian sampai repot-repot begini?"


"Pak Rian orangnya terburu-buru dan bisa memanggilmu sewaktu-waktu, karena apartemen ini dekat dengan perusahaan maka akan mempermudah mu." sahutnya beralasan.

__ADS_1


"Ah begitu, aku harus berterimakasih kepada pak Rian. Dia begitu bijaksana dan berbaik hati kepadaku."


Irfan menunduk kembali memberi hormat. "Sebaiknya bapak lekas bersiap karena pak Rian sedang menunggu Anda."


"Baik, aku akan segera bersiap diri."


Daren pun segera pergi menuju kamarnya yang luas, lalu membuka koper dan mengambil beberapa pakaian yang akan ia kemanakan.


Karena ia merasa tubuhnya lengket, ia memutuskan membersihkan diri terlebih dahulu kemudian segera mengganti pakaiannya dengan setelan jas rapi. Daren sangat tidak sabar bertemu dengan rekan kerjanya itu.


Sesampainya di perusahaan, dengan gugup Daren memberanikan diri untuk memasuki ruangan. "Selamat siang pak, Rian." sapanya.


Rian pun membalikkan kursi yang sedaritadi memunggungi, dan betapa kagetnya bahwa rekan bisnisnya itu adalah seorang pemuda dan sangat tampan, ia kira sosok Rian itu adalah orangtua seperti pebisnis kebanyakan.


"Siang, silahkan duduk." sahut Rian mempersilahkan, dan Daren pun duduk dihadapannya.


Daren menunduk memberi hormat, "Terimakasih atas fasilitas yang bapak berikan, dan saya tidak menyangka bahwa bapak lebih muda daripada saya."


Rian tersenyum ramah, dengan mimik wajah susah ditebak. "Aku tidak akan basa basi disini, sebenarnya orangtua ku lah yang menanam saham dengan begitu besar diperusahaan mu, tapi aku harus berpikir ulang untuk itu."


Mendengar itu seketika Daren jadi gemetar, ia takut bahwa Rian akan menarik sahamnya dan akan menyebabkan kerugian besar. "Perusahaan kami tiap tahunnya bertumbuh dengan pesat, jadi bapak tidak perlu khawatir akan kerugian."


"Tapi bukan kah perusahaan mu akan mengeluarkan produk baru, dan itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Bagaimana kalau itu gagal?"


"Saya yakin akan berhasil." yakinnya penuh percaya diri.


Seketika Rian jadi tertawa. "Aku benar-benar menyukai kepercayaan dirimu, jadi aku tidak akan membuang-buang waktu dan berbohong pada mu."


Daren jadi mengernyitkan dahi mendengar penuturan Rian, ia tak mengerti sebelum Rian melemparkan sebuah majalah yang terdapat tunangannya terpampang disana sedang berciuman dengan lelaki lain.


Dengan lamat Daren melihat sosok lelaki itu dan menoleh pada rekan bisnis dihadapannya. "Tidak mungkin." gumamnya.


Rian jadi tersenyum sinis. "Kamu mengerti kan sekarang maksudku? Tinggalkan Meiza maka perusahaan mu akan tetap berdiri bahkan lebih baik dari dugaan mu!"


Dengan marah Daren membanting majalah itu dihadapan Rian. "Aku tidak akan pernah sekalipun memutus hubunganku dengan Meiza." teriaknya dengan kemarahan.


**** Oh ya kak, jangan lupa baca juga Novel ku yang lain berjudul PENYESALAN dan juga jangan lupa untuk vote karya aku ya. Tengkyu Kakak 🤗****

__ADS_1


__ADS_2