SELINGKUH

SELINGKUH
Menjemput Cinta


__ADS_3

Malam tiba, Zaky di apartemennya, mengambil barang barang yang belum sempat Ia bereskan. Begitu melangkah masuk, kejadian pagi itu seperti tergambar di hadapannya.


Ia berjalan ke kamar. Ada pecahan vas di sana. Zaky melihat benda kecil berkilau di lantai. Ia memungutnya di antara serpihan kaca. Kalung Tia, dengan liontin z kecil, mungkin terlepas saat Ia syok pagi itu.


Kamar itu masih sama seperti saat Ia meninggalkannya. Maklum , hari itu cukup banyak pikiran yang membebaninya hingga kamar pun tidak sempat di bereskan.


Zaki melihat boxer yang ia pakai di hari naas itu, tergeletak di lantai. Ia memungutnya.


Aku memakai ini saat aku mengejar Tia sampai ke pintu. Bukankah harusnya aku telanjang? atau Lila cukup baik untuk sekedar memakaikan ini lagi? rasanya tidak mungkin. Dia baru saja di perkosakan?


Entah kenapa tiba tiba Ia ragu bahwa Ia memperkosa Lila saat mabuk. Bagaimana mungkin Lila pergi dengan mudah setelah beberapa bulan ini sangat agresif padanya, apalagi pergi setelah di perkosa. Bukankah harusnya Lila senang? Dan ngotot minta tanggung jawab? begitu pikirnya.


Zaky meraba boxer itu, seluruh bagiannya.


Cairan itu, bukankah mengeras jika sudah kering? Mengapa tidak ada? Jika aku memakainya setelah itu, bukankah harusnya menempel di sini?


Zaky semakin curiga. Ia meraba sepreinya, seluruhnya hingga ketepi. tidak ada tanda cairan yang mengering di sana. Noda darah itu satu satunya yang terlihat.


Jika memang benar? bagaimana mungkin tidak ada bekasnya sama sekali? noda darah ini, dia bisa saja memanipulasinya kan?


Zaky berhenti dan duduk di pinggir kasur.


Jika ia memang berbohong, untuk apa? ia menyukaiku, apa ia tidak ingin tidur denganku? hingga aku harus memperkosanya segala? Apa ia sedang membuat aku merasa bersalah. Apa ia ingin tia merasa hanya aku saja yang mengejar Lila? sedangkan Lila tidak? aku bingung sekali.


Hampir sejam Ia duduk dan berpikir. menjawab sendiri pertanyaan, tapi tidak semua terjawab. Setelah dengan serius memeriksa seluruh kamar, Ia yakin Ia tidak memperkosa Lila. Tapi Ia tidak tahu alasan Lila berbohong.


Aku tidak memperkosanya. Aku yakin. Tapi aku tidak tahu kenapa dia begitu. sudahlah... dia sudah pergi. Yang terpenting bagiku saat ini adalah Tia dan anak anak. Aku akan berangkat ke sana besok.


---


" Bu, apa ibu marah aku berhenti bekerja?"


" Tidak Lila, Ibu senang kau melepaskan dia untuk kembali bersama istrinya."


" Tidak bu.."


" Apa?"


" Aku tidak akan melepaskannya."


" Mengapa Lila? Lihatlah kita, bertahan dengan Luka di sisa hidup kita. Kau mau mereka merasakan ini hah?"


" Aku hamil bu."


" Astaga Lila... huhu." Ibu menangis.


" Jadi aku Tidak akan pernah melepaskannya...."


---


"Sayang, Apa ada masalah?" Mamanya Tia bertanya pada anaknya yamg sedang sibuk memasak.


" Tidak, aku baik baik saja ma."


" Aneh sekali tiba tiba kesini, minta di jemput. Biasanya selalu mengabari jika akan berkunjung. Zaky juga tidak ikut, kenapa?"


" Aku cuma Rindu pada kalian bertiga saja. Anak anak juga pasti Rindu pada Oma opa dan om nya. Zaky sedang ada proyek baru ma, membangun hotel."


"Hotel lagi? Menantuku itu ambisius sekali. Dia itu tipe pria yang talkless do more kan ya?"


Sekarang dia tipe talk more do more mah.


" Iyaa.. "


Papanya Tia masuk ke dapur mengusap kepala anaknya.


" Kalau kakak datang pasti makan malamnya enak. " Katanya sambil melirik istrinya.


" Papa mau menyidir mama ya?" Mama cemberut.


Mereka mulai lagi.


" Bagaimana bisa anak lebih pintar memasak dari pada ibunya?" Papanya Tia tertawa.

__ADS_1


Mama meruncingkan bibirnya. Tia hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.


---


Zaky tiba di bandara, akhirnya Ia ke australia. Meski ia ragu dengan respon Tia nanti, tapi dia ingin mencoba. Mudah mudahan saja ini benar yang diinginkan Tia, seperti kata Robi.


"Mama langsung tahu ada yang tidak beres saat Tia tiba tiba ingin berkunjung. Kau ini kenapa hah?" Mamanya Tia menjemput Zaky di bandara. Ia pergi bersama supir.


" Maafkan aku ma."


" Apa kau membuat kesalahan?


" Iya, dan ini sangat fatal.


" Apa kau berselingkuh?


Zaky diam saja


"Ha??" Mama menutup mulutnya. " Benar! kau selingku kan?


Zaky diam saja membuang wajah.


" Dengan siapa? sekretarismu? Astaga.. bagaimana mungkin pria pendiam sepertimu bisa selingkuh juga?"


Zaky memnghela napas.


" Aku tidak tidur dengannya, tapi Tia menyangka aku tidur dengannya.


" Tia pasti punya alasan kan?


Iya. Dia melihat aku berpelukan dengan perempuan lain tanpa pakaian. Tapi aku tidak akan bilang pada mama. Pasti mama tidak akan mengerti. Dan hanya akan membuat ini semua bertambah rumit.


" Mama sebenarnya mau membantu atau tidak?"


" Iya mau. Kau mencintai Tia kan, Zaky?"


" Tentu saja. Aku sudah tidak ada apa apa dengan wanita itu. Dia juga tidak bekerja lagi."


" Di hotel saja."


---


Malam itu mama mengajak Tia makan di luar. Mereka pergi berdua dan tidak memgajak anak anak. Mama sudah bilang pada bi tuti jadi bibi mengajak anak anak bermain lalu tidur. Mama meminta supir mengikuti mereka agar mama bisa pulang. Akhirnya mereka tiba di sebuah restaurant ternama di sana.


Tia dan mama turun dari mobil. Tia terpaku dengan siluet tubuh yang dikenalnya, berdiri hanya beberapa meter saja dari mereka.


Zaky?


" Tia, mama akan pulang, kalian berdua a


makan dan mengobrolah."


" Tapi ma?"


Mama naik ke mobil satunya dan pulang dengan supir ke rumah.


Zaky melangkah perlahan menghampiri Tia. kedua tangannya ia masukkan di dalam kantong baju hangatnya. Cuaca sangat dingin.


Suasana sunyi sejenak. Mereka hanya saling bertatapan. Ada banyak pertanyaan di benak mereka, tapi tidak ada satupun yang terucap. Dengan canggung akhirnya Zaky memulai bicara.


"Mau makan di dalam?"


Tidak ada jawaban. Tia mengangguk kecil beberapa kali. Kemudian Zaky berbalik berjalan ke dalam Resto di ikuti langkah Tia di belakangnya.


Setelah mendapat kursi mereka pun duduk. Masih sama sama diam. Pelayan datang dan mereka memesan makanan. Lalu suasana menjadi sunyi lagi.


" Anak anak.. apa mereka baik baik saja?"


" Iya." sahut Tia menatap Zaky sekilas lalu menunduk lagi.


" Apa kau baik baik saja?"


Tia mengangguk sambil menatap Zaky.

__ADS_1


Lalu balik bertanya.


" Bagaimana denganmu?"


Zaky menggeleng.


" Aku tidak baik baik saja.."


Pelayan datang menghidangkan makanan


Mereka mulai makan. Sesekali mereka menatap satu sama lain, ketika tatapan bertemu mereka sama sama menunduk. Waktu berjalan sangat lambat, hanya terdengar bunyi pisau dan garpu bergesek dengan piring di atas meja mereka.


Akhirnya mereka selesai makan.


Zaky memgelap bibirnya dengan serbet.


" Aku.. datang kesini untuk menjemputmu pulang."


Tia menatap Zaky datar.


" Aku tidak tahu kau ingin mendengarnya atau tidak, tapi aku harus mengatakannya. Aku sangat kehilanganmu dan juga anak anak. Baru beberapa hari saja tapi.. benar benar terasa sepi sekali. Aku mohon pulanglah."


Hening sejenak.


"Maaf aku tidak bisa." Tia menjawab lalu menoleh ke arah lain. Takut lemah melihat Zaky.


Zaky menghela nafas.


" Aku tahu ini kesalahan besar, tolong beri aku kesempatan." Zaky mencondongkan tubuhnya ke depan, seperti menunjukkan keseriusannya.


" Aku sudah memberimu kesempatan. Satu bulan. Dan kau sama sekali tidak mengambil tindakan apapun. dan akhirnya kau malah... sudahlah... inilah akhirnya."


" Di malam pernikahan Robi aku baru saja ingin mengakhirinya, lalu kau muncul. Dan selama satu bulan ini juga aku berusaha menjauhinya. Terakhir dia akan resign lalu aku pergi ke pesta dan mabuk. Semua bertambah rumit. Keadaan memaksaku terlihat bermain main dengan semua ini tapi sebenarnya tidak. Aku sungguh mencintaimu. Kau tahu itu. Aku tidak pernah bicara sepanjang ini dalam hidupku, tapi jika aku harus memohon, aku akan menghabiskan malam ini dengan memohon padamu."


Benar. Dia tidak pernah bicara sepanjang ini, tidak pernah menjelaskan apapun. Tapi akhir akhir ini dia bahkan sering mengungkapkan perasaannya. Apa benar kau masih mencintai aku?


" Lalu bagaimana dengannya?"


" Dia sudah pergi. Aku bersumpah. Kau boleh menelepon Robi untuk memastikan. Dia bahkan mengembalikan kunci apartemen dan mobil, tapi aku menolaknya. Bukan karena peduli tapi dia banyak membantuku dalam beberapa proyek. Itu.. tanda terima kasih saja."


Tia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Ia bersidekap dan bersandar di kursinya.Tia menatap Zaky datar.


Zaky mengeluarkan sesuatu dari saku baju hangatnya. Dia menggenggamnya dan membuka telapaknya di atas meja.


" Aku mohon, biarkan aku terus berada di dekatmu."


Tia melihat benda kecil itu. Kalung berlian z miliknya. Pasti terjatuh di hari itu, pikirnya. Tia memandang kalung itu dengan tatapan nanar. Bagaimana pun hatinya masih terluka.


Perlahan Tia mengulurkan tangannya meraih kalung itu, ketika ia memegangnya, Zaki menahan jemari Tia dalam genggamannya. Mereka saling menatap. Merasakan hangatnya perasaan yang muncul tiba tiba saat jemari mereka bertautan. Jantung yang berdebar kian cepat. Dan sebuah rasa yang menyusup di balik hati, Rindu.


Tia tidak dapat membohongi perasaannya. Ia sangat mencintai Zaky, Ia sangat merindukannya beberapa hari ini. Dan ia melihat kesungguhan di mata Zaky mala ini. Kata kata Zaky di kamar sebelum kepergiannya terus membayangi. Zaky tidak pernah terang terangan mengungkapkan perasaannya. Dan sekarang Tia ingin menyerah dengan semua usaha Zaky.


Lama Ia membiarkan genggaman Zaky. Matanya berkaca kaca menahan perasaan yang bergejolak.


Aku lelah dengan semua ini. Lila sudah pergi, mungkin sudah saatnya semua ini berakhir.


Zaky menatap Tia penuh harap.


" Jangan tinggalkan aku, Aku menyesal."


Genggamannya perlahan merenggang. Seperti putus asa meliat Tia yang diam saja.


Kemudian Tia menggeleng, air matanya jatuh segaris.


" Aku tidak bisa meninggalkamu,meski aku ingin..." Lirih tapi terdengar oleh Zaky.


Dan meleburlah sebongkah beban di dada Zaky yang menyesakkannya selama beberapa hari. Zaky seperti mencair, Ia merasa teramat lega. Cepat cepat Ia berdiri ke sisi Tia dan memeluknya. Pelukan yang erat, erat sekali. Tia menumpahkan segala emosinya yang tertahan beberapa hari ini. Air matanya membasahi pundak Zaky.


"Aku mencintaimu, aku kesal sekali dengan cintaini..." Tia menepuk nepuk punggung Zaky bertubitubi dengan kepalan tangannya, dalam pelukan. Zaky mempererat Pelukannya.


" Maafkan aku sudah menyakitimu.."


---

__ADS_1


__ADS_2