
Rian berjalan sepanjang jalan, terlihat jelas diingatannya bahwa pupus sudah harapannya.
Meski ia tahu akhirnya, tapi perasaan sesak tetap menyelimuti Di dadanya.
"Rian, kamu darimana saja? Habis kencan kok pulangnya malem banget." sapa Dedi sembari meledek.
"Ah, papi. Gak gitu kok." sahutnya malas, membuat Dedi mengerut kening.
Dedi menaruh lengannya dibahu Rian. "Ada apa? Gagal kencannya, ya?"
Rian menoleh. "Papi kok tahu banget. sih?"
"Ya kan papi pernah muda, gimana sih kamu."
Rian menunduk. "Dia udah jadian pi, sama temenku sendiri."
Dedi tersenyum tipis. "Gak usah diambil pusing, siapa tahu bakal dapat yang lebih baik. Kamu kan ganteng kayak papi." sahutnya enteng.
"Papi dulu gini ya waktu pacaran sama mami? Emang mami ke berapa?" tanyanya telak, membuat Dedi jadi malu.
Seketika Dedi mendehem, terasa ada yang tersekat dikerongkongannya. "Dulu papi ya pacarannya cuma sama mamimu, tapi papi malah ditinggal nikah dulu."
"Apa! Jadi mami pernah nikah sebelum papi?"
Dedi mengangguk. "Iya, tapi akhirnya mamimu balik sama papi tuh."
Rian mengangguk, menelaah. "Yaudah Rian juga bakal tungguin dia putus." ucapnya, menyimpulkan membuat Dedi menganga.
"Gak gitu juga bodoh!" menjitak kepala anaknya. "Kamu kan masih muda, belajar yang bener dulu lah!"
"He he, iya pi. Rian cuma bercanda doang kok. Lagian dia jadiannya sama temen Rian sendiri jadi gak pantes kalo Rian juga ngarepin."
"Baguslah! Anak keren." pujinya.
"Papi juga keren." ucap Rian balas memuji dan mereka jadi tertawa.
****
"Rian."
__ADS_1
Seperti biasa, Sefia memanggil Rian untuk sarapan bersama sebelum memasuki sekolahnya.
"Iya mi." sahutnya, lalu melangkah cepat menuruni anak tangga.
"Cepet sarapan! Kamu telat banget, hampir kesiangan."
"Iya mi, sorry."
"Jangan banyak melamun makanya." sahut Dedi, meledek.
"Gak gitu pi! Jangan ledekin aku terus!" ucap Rian, kesal.
Dedi jadi tertawa. "Siapa tahu masih keinget semalem."
"Duh! Rian jadi inget lagi kan." sahutnya sebal, Dedi makin tertawa.
"Papi malah tertawain anaknya yang lagi patah hati, kayak gak pernah muda aja." sahut Sefia membela.
"Papi kan gak pernah ditolak, tapi sekali patah hati langsung ditinggal nikah." sahut Dedi asal, malah Rian kembali menertawakan.
Sefia malah melotot. "Kalian berdua ini ya! Hal seperti itu dibuat candaan."
"Bukan bercanda mi, tapi inget kesedihan dan berakhir menertawai diri sendiri. Seperti rasa malu yang gak bisa diungkapin." sahut Dedi.
"Rian, tunggu! Bekalnya bawak, punya Yuda juga." memberikan dua kotak makanan, seperti biasa.
"Oke mi, makasih." mengecup kembali pipi maminya lalu segera pergi.
****
Karena datang pas diwaktu jam pelajaran hampir dimulai.
Rian tak ada waktu untuk mengobrol terlebih dahulu bersama Yuda, sampai jam mata pelajaran berakhir.
Yuda langsung beranjak dari duduknya, tak peduli Rian sedari tadi memanggilnya. Hingga Rian melangkah cepat mengejar Yuda.
"Hei Yud! Dari tadi gue panggilin tapi lo kok gak noleh, sih?" tanya Rian heran, tapi Yuda tetap memasang wajah tak peduli. "Ini bekal dari mami, menu seperti biasa." ucapnya sembari menyodorkan kotak makanan.
Yuda langsung mengambilnya kasar, tetapi tak diduga karena kemudian Yuda melangkah mendekati kotak sampah lalu meletakkan bekal itu di dalamnya.
__ADS_1
Sontak Rian tercengang, mengejar temannya itu. "Lo apa-apaan sih, Yud? Lo ada masalah sama gue?"
Yuda tetap terdiam, memberikan tatapan malas sembari memasukkan kedua jemarinya disaku. Bersikap santai.
"Kalo gue ada salah, bicarain! Jangan kayak gini! Itu bekal, mami gue bikin susah payah apalagi mamiku lagi hamil."
"Cih! Gue gak pernah minta dibikinin bekal tuh." sahutnya sinis, membuat Rian geram dan langsung melayangkan pukulan pada Yuda.
Yudapun tak mau kalah dan balik memukul Rian hingga terjadilah keributan dan mereka dihentikan oleh pak Alvin yang kebetulan berjaga.
"Rian, Yuda. Ikut bapak sekarang!" bentaknya pada kedua muridnya itu.
Yuda dan Rianpun saling pandang penuh permusuhan dan berakhir memasuki ruang BP.
"Kenapa kalian sampai ribut? Bikin malu sekolah saja." tanya pak Alvin.
Yuda dan Rian tak menjawabnya, mereka hanya saling diam dan menatap penuh permusuhan.
Hingga pak Alvin menyodorkan dua surat dihadapan mereka. "Panggil orangtua kalian kemari! Dan untuk Yuda, kalau masih membuat keributan di sekolah ini, bapak akan men-skors kamu." ancamnya, membuat Yuda geram.
Yuda mengambil surat itu lalu beranjak pergi begitu saja, membuat Pak Alvin semakin marah pada ketidak sopanannya.
"Maaf pak, saya juga pamit pergi." ucap Rian, mengambil surat lalu beranjak pergi.
Pak Alvin hanya bisa menggelengkan kepala saja atas kelakuan dua pemuda itu.
Rian masih mencoba mengejar Yuda, ingin meminta penjelasan lebih pada temannya itu.
"Tunggu! Jawab gue! Gue ada salah apa sama lo?" tanya Rian masih heran.
"Kesalahan lo itu adalah karena lo anak dari orang yang gue benci." mendorong dada Rian.
"Maksud lo apaan sih, Yud? Lo ada masalah sama nyokap bokap gue?" Rian semakin bingung dan heran. "Mereka ada salah apa sama lo?"
Yuda tak menjawab, memalingkan muka. "Intinya, gue gak mau lagi berteman sama lo." sahutnya ketus, lalu pergi.
Rian hanya terdiam, masih bingung dan bisa mencerna apa yang Yuda katakan.
Hingga akhirnya segerombolan anak nakal datang mendekati Rian. "Wah, kayaknya kalian udah gak berteman lagi nih." menepuk bahu Rian, lalu berbisik. "Kita tunggu lo nanti pulang sekolah!" tantangnya menyeringai, lalu mereka berlalu pergi kembali ke kelas.
__ADS_1
****
Terimakasih untuk Kalian yang udah menyempatkan untuk Absen kemarin :*