SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Mulai Merasa


__ADS_3

Lidia tengah berbaring diatas ranjang kamarnya. Tubuhnya yang sudah tua renta tentu kini sangat lemah ketika ia dihadapi penyakit yang membuat sesak dadanya.


"Kamu Yud, papamu mana?" tanya Lidia ketika melihat Yuda masuk kedalam kamarnya.


"Papa katanya ada urusan penting." sahutnya dingin.


"Oh, bisa tolong ambilin obat di laci? Aku pusing." pintanya masih dengan nada tak suka.


"Papa menyuruhku untuk mengantar nenek kerumah sakit, kita langsung periksa langsung aja ke rumah sakit. Sukur-sukur diopname biar rumah ini jadi lebih tenang." ucap Yuda, membuat Lidia jengkel.


"Dasar anak gak tahu diuntung." umpatnya.


"Yah, terserahlah. Kalo gak mau juga gak apa-apa." hendak Yuda ingin berbalik pergi tapi Lidia memanggilnya kembali.


"Jangan pergi! Mari antar aku kerumah sakit." ucapnya malu-malu.


Yuda hanya berdecak, memutar bola matanya jengah. Tapi ia harus memenuhi permintaan papanya yang sangat berbakti pada ibunya.


Yuda membantu Lidia berdiri, memapahnya memasuki taxi yang sudah ia pesan sebelumnya.


"Bibik, kata papa akan datang menjelang sore, jadi rumah kita kunci." ucap Yuda memberitahu agar Lidia tidak khawatir pada rumahnya yang tampak sepi.


"Oh ya udah, kalo begitu kita langsung kerumah sakit saja pak." ucap Lidia memberitahu, menoleh pada supir.


"Baik Nyonya." sahut supir taxi, langsung melakukan kendaraannya.


Sesampainya dirumah sakit, Lidia langsung di bawa ke UGD. Karena penyakitnya sesak dan pusing akibat telat makan, menyebabkan ia kekurangan cairan dan harus diopname.


Yuda juga dengan sabar mengantar neneknya masuk ke ruang inap, meskipun dia sangat benci tetapi juga merasa iba karena dia hanyalah seorang wanita tua yang lemah, lebih lagi papanya sangat menyayanginya.


Bukan juga sebuah kebetulan, Yuda mengantar neneknya dirumah sakit yang sama dengan Rian. Sehingga jika neneknya diopname, Yuda dengan mudah mempunyai alasan mengapa dirinya berada dirumah sakit, untuk berpura-pura tak peduli pada temannya itu.


Saat makanan dari rumah sakit datang, Yuda juga dengan sabar menyuapi neneknya yang kejam, Lidia.


"Makan yang banyak!" ucap Yuda ketika mulai menyuapi neneknya itu.


Lidia hanya mampu terdiam atas sikap cucunya yang tak dianggap itu, ia merasa telah melakukan salah tapi ia masih belum yakin akan hal itu. Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya, bukan?


Itulah yang ditakutkan oleh Lidia, ibunya yang licik pasti akan menurun pada watak anaknya.

__ADS_1


"Aku sudah kenyang." ucap Lidia ketika merasa perutnya sudah terisi penuh.


Yuda menghela nafas, karena hanya tiga sendok saja neneknya sudah berhenti makan. "Baiklah." sahutnya tak bisa memaksakan.


"Aku akan pergi dulu! Jika perlu sesuatu, pencel tombol hijau diatas nakas maka suster akan segera datang membantu." ucap Yuda berpamitan, sebelum ia berlalu pergi.


"Baiklah." sahut Lidia, mulai ragu.


****


Disisi lain, Sefia dan Dedi menuruni mobil. Mencari tempat-tempat sekitar yang terdapat CCTV mengarah pada taman.


Karena arah menuju taman bisa dilalui oleh tiga arah, maka itu akan membuat mereka kesusahan.


Disana mereka juga bertemu dengan Erfan serta anak buahnya untuk menyelidiki sendiri kasus yang dialami anaknya, Rian.


"Apa kamu sudah mendapatkan semuanya?" tanya Dedi pada asistennya itu.


"Masih belum semua pak, ada beberapa yang belum karena pertokoan diseberang jalan sedang tutup jadi kita tidak memiliki ijin dapat menerobos masuk."


"Cari tahu siapa pemiliki toko dan katakan padanya bahwa aku memerlukan CCTV-nya." perintah Dedi dengan tegas.


Sedangkan Sefia memilih mengistirahatkan dirinya, duduk dibangku taman sembari menekan-nekan perutnya yang mulai kram.


"Mami, kamu kenapa?" tanya Dedi khawatir melihat istrinya mengaduh.


Sefia menggelengkan kepalanya. "Mami gak apa-apa." sahutnya mencoba bertahan. "Apa sudah menemukan petunjuk yang lain?"


"Erfan sudah mengumpulkannya, kita bisa memastikan sendiri nanti dirumah." sahut Dedi tenang. "Mari kita pulang dulu aja, mi! Wajahmu sudah pucat."


"Gak! Aku ingin melihat hasil CCTV itu sekarang saja." tolak Sefia, membuat Dedi menghela nafas.


"Tolong dong mami jangan keras kepala! Kalau mami kenapa-napa nanti gimana? Bukannya kita harus tetap sehat untuk bisa menghadapi semuanya?" Mengelus rambut istrinya, untuk menenangkannya. "Lagian, sampai dirumah kita bisa langsung meminta Erfan untuk mengirim hasil rekaman CCTV, mami bisa melihatnya sendiri."


Sefia jadi terdiam, menelaah perkataan suaminya. Lalu kemudian ia mengangguk. "Iya pi, mari kita pulang!"


Dedi jadi tersenyum, lalu memapah istrinya untuk memasuki mobil.


Sesampainya dirumah, Dedi langsung menuntun istrinya memasuki kamar lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang.

__ADS_1


"Apa perlu papi panggilin dokter?" tanya Dedi pada Sefia.


"Gak perlu, pi! Mami mau minum vitamin aja terus istirahat."


"Baiklah, papi akan ambilkan."


Segera Dedi mengambil gelas berisi air, serta obat vitamin untuk Sefia minum. Setelahnya Dedi mengelus rambut istrinya itu sembari duduk ditepi ranjang.


"Pi, bagaimana dengan media?" tanya Sefia mulai serak.


Dedi tersenyum. "Mami tidak perlu khawatir, papi besok akan melakukan konferensi pers untuk menanggapi isu tentang anak kita." sahutnya tenang. "Jangan terlalu khawatir ya!"


Sefia mengangguk. "Iya."


"Papi akan kerumah sakit, melihat kondisi Rian dulu! Setelah nya papi akan kembali." pamitnya ingin beranjak pergi.


"Lalu CCTVnya gimana, pi?" tanyanya.


"Kita akan melihatnya bersama-sama. Mudah-mudahan akan ada petunjuk."


"Baiklah." sahut Sefia kini mulai tenang.


Dan Dedi kembali mengecup bibir dan kening istrinya sebelum ia pergi.


****


Netijen : Rian segera sadar dong!


Author : Pasti, segera tapi bukan sekarang krn kalo sekarang dia pasti langsung diselidiki sama pihak kepolisian.


Perjuangan Dedi sama Sefia bakal Keren kok. Ntar juga bakal muncul lagi alur yang menguras emosi. Ditunggu ya :*


Makasih sudah dengan tulus mendukung Author, masih setia baca Novel ini karena ini bukan Novel Percintaan lagi untuk sekarang.


Semoga para orangtua bisa melihat pesan yang tersirat dalam Novel ini.


Oh ya, alasan Putri fitnah Rian ada di episode : Sebuah Kebohongan, ngasih tau kali aja ada yg belum paham hehe


Ohya, Covernya diubah sama pihak Mangatoon. Keren gak? lol

__ADS_1


__ADS_2