
Selepas pergimu, aku tak lagi mengenali diriku.
Tubuhku masih utuh. Jantungku masih baik, masih berdegup, tetapi tak lagi terasa hidup.
Aku tak lagi merasakan cinta, sedalam rasa cinta yang ku punya untukmu. Sehebat yang pernah ku berikan padamu.
Aku mencintaimu dengan keseluruhan aku.
Iri, aku benar-benar iri padamu. Padamu yang dengan mudah meninggalkanku, tanpa sedikitpun kabar untukku. Tak sekalipun memberi niat untuk mengetahui kabarku.
Bukannya aku tidak bisa memberikan hatiku pada selainmu, tetapi hatiku masih dimiliki oleh orang yang menyakitinya, menyayatnya tanpa perasaan. Yaitu kamu.
Kini sudah bertahun-tahun berlalu, dan aku sungguh sangat marah pada hatiku yang begitu lemah.
Aku masih menangis untukmu, aku masih meridukanmu, yang sudah jelas-jelas melukaiku.
Aku ingin sedetik saja, sedetik saja memelukmu lagi. Aku benar-benar merindukan senyummu yang ku sukai itu.
Diwaktu hatiku patah, kamu lukai dengan parah. Aku mendapatkan kebahagiaan, kebahagiaan tentang kelahiran adikku didunia.
Aku tersenyum, mengecup pipinya dengan lembut. Tetapi airmataku masih terus menetes.
Luka dan Kebahagiaan, kudapati dihari yang sama.
Mungkinkah kita bisa bertemu kembali? Aku ingin kamu mencintaiku sekali lagi.
****
__ADS_1
Untukmu, semua hati yang pernah mencintai dan dicintai. Yang pernah di khianati sampai tak ingin hidup lagi. Baca kisah ini dengan hati hati.
****
"Kakak."
Agista Atmadja, berlari kearah kamar kakaknya, menerobos masuk begitu saja adalah kebiasaannya.
"Kakak, bangun!" pintanya sembari berteriak, pada kakaknya yang masih tidur nyenyak diatas kasur. "Bangun kakak! Anterin Agis sekolah." pintanya lagi, sudah merengek.
Agista menarik selimut yang menutupi tubuh kakaknya, tetapi Rian malah hanya menggeliat dan mengambil selimut itu kembali dan memakainya, membuat Agista jadi geram saja.
"Aku hitung sampek sepuluh ya! Kakak harus bangun." geramnya dengan nada ancaman. "Satu, dua, sepuluh."
Seketika Agista meloncat pada tubuh kakaknya, yang tengah tengkurap dengan nyaman itu. Sontak Rian jadi kaget serta mengaduh kesakitan dibuatnya.
"Agis! Apa apaan sih." bentaknya sembari mengaduh kesakitan. "Sakit tau! Sakit." mengelus punggungnya.
Agista malah jadi melebarkan senyumnya, segera beranjak berdiri sambil bersindakap. "Siapa suruh dibangunin tetep aja molor." sahutnya enteng, membuat Rian jadi kesal. "Cepet bangun! Anterin Agis sekolah."
"Apa! Kamu mau mati ya? Bangunin kakak cuma buat anter kamu sekolah." geramnya.
"Tapi kan kakak udah janji mau anterin Agis, ini hari pertama Agis."
"Gak mau, berangkat sama mang Ujang aja sana!" dengusnya, menidurkan tubuhnya lagi.
"Wah, nantangin kayaknya." ucapnya dengan nada khas penuh ancaman pada kakaknya, membuat Rian yang semula ingin tidur kembali jadi bergidik ngeri.
__ADS_1
Agista pun memudurkan langkahnya,mengambil ancang-ancang untuk melompat lebih tinggi kearah kakaknya.
Ketika hendak ia melompat, seketika itu pula Rian keluar dari dalam selimutnya dengan kesal. "Iya iya, kakak anterin." ucapnya dengan berat hati karena tidak punya pilihan lain.
"Nah, gitu dong!" sahutnya tersenyum dengan penuh kemenangan.
Ketika Rian sudah sadar penuh atas dirinya, ia memandangi lamat-lamat pakaian yang dikenakan adiknya itu. "Kamu kenapa masih pakai baju tidur?" tanyanya meninggi.
"Ya karena Agis baru bangun." sahutnya enteng. "Emang kenapa? Ada yang aneh?"
"Emang bener-bener ya." Seketika Rian langsung beranjak berdiri, hendak melempar adiknya itu dengan bantal tapi sayangnya Agis yang peka sudah berlari duluan.
Agista berlari kencang hingga Rian tak mampu mengejarnya.
Bagaimana tidak kesal, Rian yang semula tidur lelap kini harus bangun dengan berat hati. Lebih lagi sang adik yang membangunkannya dengan heboh seakan ia sudah telat untuk pergi kesekolah, ternyata masih santai saja dengan baju tidurnya.
Dan ketika Rian sudah Rapi pun, Agista, adiknya itu masih belum dari dalam kamarnya membuat Rian jadi menuggu.
"Kebiasaan! Benar - benar kebiasaan yang menyebalkan." dengusnya dengan kesal nan gusar. "Dia membangunkanku pagi-pagi sekali hanya untuk menunggunya begini?! Bukankah seharusnya dia yang menungguku?"
Rian benar-benar sebal, kebiasaan adiknya yang lelet namun suka tergesa-gesa itu membuatnya heboh sendiri.
"Oh Tuhan! Bagaimana mungkin aku memiliki adik dengan sifat galak, cerewet dan menyebalkan seperti itu."
****
Halo maaf update lama ya :)
__ADS_1
Kisahnya sebenarnya akan dimulai dan mohon dukungannya :*