
Hari demi hari kesehatan Rian semakin membaik, bahkan Rian sekarang sudah dapat berjalan dengan sangat baik. Bahkan bekas luka di dahi sudah tertutup sempurna.
"Yuda, Rian. Hayo makan!" panggil Sefia pada mereka yang tengah asyik bermain game didalam kamar.
"Iya mi." sahutnya, berteriak.
Segera mereka berdua keluar kamar dan langsung melangkuh duduk di meja makan.
Sefia mengambilkan beberapa lauk yang dimasaknya diatas piring Rian dan Yuda. "Oh ya, Yuda gimana sekolahnya?" tanya Sefia.
"Lancar kok, Tan." sahutnya sembari mengunyah makanan.
"Besok gue juga mulai sekolah." ucap Rian memberitahu.
"Rian yakin besok udah mau mulai masuk sekolah? Gak istirahat dulu? Kan baru sembuh." tanya Sefia khawatir.
Rian menggelengkan kepalanya. "Gak mi, bosen tiaphari liat mukanya Yuda mulu, sekali-kali cuci mata lah mi biar gak sakit." sahutnya meledek.
"Sialan lo!" umpat Yuda, dan mereka malah jadi tertawa.
"Oh ya, papi kemana? Bukannya tadi masih dirumah, ya?" tanya Rian ketika mengedarkan penglihatannya.
Sejenak Sefia jadi terdiam, bingung harus mulai memberitahu darimana. "Hm itu, papimu dia nganterin temennya ke bandara." sahutnya.
"Temen? Siapa, mi?"
"Keluarga Putri." sahut Sefia berterus terang. "Mereka hari ini akan pergi keluar negeri dan gak akan kembali lagi."
Sontak Rian menghentikan kunyahannya. "Kok mami gak pernah cerita sama Rian sih, mi?! Emang Rian gak boleh tahu, ya?" protesnya dengan kecewa.
"Bukan begitu sayang." Sefia bingung.
"Ada hal yang gak lo tahu saat lo ngalamin koma, ini juga karena gue." sahut Yuda menjelaskan.
"Kenapa elo, sih?" Rian makin bingung.
__ADS_1
"Ah, gue jelasin diperjalanan aja deh!" beranjak berdiri. "Yuk!" ajaknya.
"Kemana?"
"Lo pasti pengen ketemu Putri untuk terakhir kalinya, kan?" Rian mengangguk. "Yaudah, hayuk buruan!"
Rianpun ikut beranjak. "Mi, aku pergi dulu!" pamitnya.
"Pergi dulu, tante."
"Yaudah, kalian hati-hati!" Sefia hanya bisa menghela nafas menatap dua pemuda yang sudah berjalanan memunggunginya.
Segera Yuda dan Rian pergi menyusul ke bandara dengan supir, sepanjang perjalanan Yuda menceritakan semua kejadian yang telah mereka lewati.
Tapi tak sedikitpun membuat Rian benci terhadap Putri.
"Gue tahu, dia pasti sangat menderita selama ini." simpul Rian, menunduk setelah mendengarkan semuanya.
"Ya, lo bener. Maafin gue juga yang udah gak jujur dari awal."
Yuda jadi tersenyum, begitu bersyukur karena mereka sangat baik dan pemaaf.
****
Kini mereka sudah memasuki terminal bandara, dan mereka mengedarkan penglihatannya.
Dan untunglah mereka datang pada waktu yang tepat, dimana sebelum Putri benar-benar pergi.
"Kalian, ngapain kesini?" tanya Dedi bingung, ketika mereka melangkah cepat mendekati.
"Rian pengen ngucapin salam perpisahan ke Putri, pi." sahutnya.
Dedi yang mengerti itu, lantas ia berpamit pergi bersamaan dengan Yuda. Nadin dan Aldypun sama, mereka memilih masuk terlebih dahulu dan meninggalkan anaknya untuk bisa berdua.
"Kak Rian." sapa Putri dengan terisak.
__ADS_1
Rian mengacak gemas rambut gadis itu. "Kenapa perginya gak bilang-bilang? Kalo gue kangen gimana?" tanyanya memprotes.
Putri menggelengkan kepalanya. "Putri gak pantas dikangenin." sahutnya pilu.
Seketika Rian memeluk gadis itu. "Siapa bilang?! Lo itu tetep Putri yang gue kenal, entah sampai kapanpun, gak ada yang berubah. Gue tetep suka sama lo."
"Kakak." Putri tertegun.
Rian melepas pelukannya, mengusap air mata yang mengalir dipipinya. "Tersenyum! Lo cantik kalo lagi senyum. Jangan pernah sedih lagi!"
Putripun mengangguk cepat, terasa pilu dan sesak didadanya.
"Semoga suatu saat kita bisa ketemu lagi." ucap Rian penuh harap.
"Ya, semoga." sahutnya.
Kemudian terdengar suara pengumuman keberangkatan bagi para penumpang untuk segera naik ke pesawat udara.
"Kak, Putri harus pergi." pamitnya. "Terimakasih untuk segelas hal, udah baik dan mau maafin kesalahan Putri."
Dengan berat hati, Rian harus mengangguk. "Iya! Gue udah maafin lo kok, jadi gak perlu terbebani."
Putri tersenyum lega. "Selamat tinggal." ucapnya, sebelum kemudian berbalik untuk pergi.
"Tunggu!" pinta Rian, menarik lengan gadis itu hingga berputar.
Seketika Rian menangkup kedua sisi wajah gadis itu, lalu mendaratkan bibirnya ke bibir Putri dan melumatnyaa penuh dengan kelembutan untuk salam perpisahan.
"Untuk mengajarimu cara ciuman yang benar." ucap Rian ketika melepas pagutannya.
Mereka saling tertawa, sebelum kemudian benar-benar saling melambaikan tangan dan berpisah untuk selamanya.
"Selamat tinggal."
****
__ADS_1
KAMSAMIDA :*