
"Mela." sapa Gunawan pada anaknya yang tengah berjalan menghampiri lalu duduk di sofa ruang tengah. "Apa kamu sudah bertemu dengan anak dari relasi bisnis papa itu?"
Mela mengangguk. "Yah, Mela sudah menemuinya." sahutnya dengan senyum, dan gunawan menyukai respon anaknya itu.
"Bagaimana dia menurutmu?" tanyanya kemudian, agar lebih meyakinkan.
"Ya, kalau menurut Mela sih anaknya lumayan menarik. Dia itu tinggi dan tampan, pun juga sepertinya anak baik-baik."
"Bagus! Bagus! Papa senang jika kamu menyukainya." ucap Gunawan dengan senang. "Karena dia itu adalah anak dari pemilik perusahaan raksasa dan tentu dia adalah penerus tunggal perusahaan, jadi papa ingin kamu menjadi istrinya suatu saat nanti. Jangan pernah lengah!"
"Ah, kalau itu Mela sudah tahu. Dia adalah orang yang berharga, juga masa depan cerah bergelimang ada padanya. Mana mungkin Mela lengah dengan membiarkan dia dengan perempuan lain."
Gunawan menepuk pundak anaknya. "Ini baru anak papa." pujinya.
****
Selesai melihat pertunjukan musik yang mereka nantikan, mereka berlima mengadakan pesta bersama. Tentu pesta kumpulan wajar pada anak seusianya.
Saat mereka telah lama saling berbincang satu sama lainnya, Loli Desi Rian memilih untuk membiarkan Mega dengan Yuda tinggal berduaan karena kecanggunangan mereka.
"Gue pamit keluar duluan, mau nerusin nonton pertunjukan sama Erfan." pamit Loli memulai, mencari alasan.
"Gue juga pamit keluar! Mau nerusin nonton pertunjukan." pamit Desi kemudian.
Melihat Rian yang tidak peka dan diam saja, lantas Desi menarik lengannya. "Hayo!" ajaknya.
Rian mengerut kening, bingung. Tetapi setelah Desi memberi aba-aba untuk memberi mereka berdua untuk berbicara empat mata, Rian jadi mengerti maksudnya. "Ah, yuk!" sahutnya kemudian beranjak. "Gue pamit dulu!"
"Oke, ntar gue nyusul." sahut Yuda, dan kini mereka sedang duduk berhadapan berdua.
Mega tampak begitu canggung, meneguk minuman jus didepannya dengan susah payah. Tapi kemudian mereka berdua mencoba saling menghela nafas agar menjadi lega sebelum kemudian memulai untuk berbicara.
"Soal tadi..." mereka saling berucap bersamaan, membuat keduanya makin canggung saja.
"Kamu duluan!" pinta Mega.
"Enggak, kamu duluan."
"Ah, baiklah." Mega menghela nafas. "Soal tadi, aku benar-benar minta maaf. Aku terpaksa ngelakuinnya."
__ADS_1
Entah kenapa perkataan Mega malah membuat Yuda terasa sesak, tapi dirinya juga bingung ketika merasakannya. "Gak apa-apa kok, aku ngerti situasimu tadi."
"Jadi kamu gak marah sama aku?"
Yuda jadi terkekeh geli. "Untuk apa? Toh kamu kan hanya terpaksa saja. Lagian cowok tadi itu siapa sih?"
"Ah, tadi itu kak Rendi, dia mantan aku."
"Dih! Bagaimana bisa kamu pacaran dengan cowok macam dia, fuckk boy begitu. Gantengan juga aku." ucapnya dengan percaya diri, membuat Mega jadi tersenyum sendiri.
"Ya ya, kamu memang lebih ganteng kok." sahut Mega memuji, dan seketika Yuda jadi bersemu merah kembali. "Dia dulu sangat baik padaku, dia dulu banyak bantuin aku. Eh, gak taunya ya brengsekk juga." sahut Mega dengan pilu.
Melihat sinar matanya yang mulai berkaca-kaca, membuat Yuda jadi tak tega. Ia kemudian mencondongkan wajahnya kedepan, menatap wajah Mega lamat-lamat. "Kamu itu cantik, dan pantas dapetin cowok yang lebih baik dari dia."
Mendengar perkataan bahkan pujian tulus itu, membuat Mega jadi terharu, dan kini tatapan mata mereka saling bertemu. Ulasan senyum keduanya begitu tampak terukir indah, seakan saling memuji dalam hati satu sama lainnya.
"Apa tidak apa-apa jika kamu mengaku sebagai pacarku? Apa pacarmu tidak marah?" tanya Mega, yang niatnya ungin tahu Yuda masih sendiri atau tidak.
"Aku tidak mempunyai pacar kok." sahutnya tenang.
"Oh ya? Kamu kan tampan, bagaimana mungkin kamu belum punya pacar." tanyanya pura-pura heran.
"Ah begitu." Mega jadi tersenyum malu, dan Yuda pun begitu.
"Jadi, gak apa-apa kok kalau kita pura-pura sedang berkencan. Asal kamu gak keberatan sih."
"Aku gak keberatan kok." sahut Mega menyela cepat, membuat Yuda jadi terkekeh geli dan Mega jadi malu sendiri.
****
Sedangkan Desi dengan Rian memilih duduk dibangku taman dan jauh dari keramaian, mereka duduk sembari meneguk dua cup kopi hangat bersama.
"Rian." sapa Desi seraya memanggil.
Rian menoleh. "Hm. Kenapa?"
"Aku boleh tanya sesuatu gak?" Desi ragu, Rian mengangguk untuk mengiyakannya. "Apa kamu masih belum bisa lupain Putri?"
Rian menghela nafas, menatap langit yang membentang. "Entahlah! Gue masih merasa ini terlalu cepat dan semua terlalu buruk untuk gadis sebaik dirinya."
__ADS_1
Desi agak kecewa. "Ya kamu benar, tidak seharusnya hal buruk menimpa dirinya."
Mendengar ucapan Desi, Rian jadi menoleh lalu tersenyum. "Tapi, kenapa lo dulu sangat kasar sama Putri?"
Desi menatap langit kemudian. "Dia mengingatkanku pada diriku yang dahulu."
"Maksud lo?" Rian bingung.
Mega jadi tersenyum. "Putri mirip kaya aku waktu SMP dulu, tidak pandai bergaul dan mudah untuk ditindas." sahutnya. "Aku dulunya adalah kutu buku, hari-hariku selalu aku sibukkan hanya dengan belajar dan terus belajar karena mama dan papaku selalu sibuk diluar negeri untuk mengurus bisnisnya. Aku pikir dengan aku menjadi anak baik, mendapat nilai baik, maka orangtuaku akan menyempatkan untuk pulang lalu bangga dan memujiku tapi ternyata.." tak terasa air mata Desi keluar dan ia segera menyekanya, ia kemudian tersenyum untuk menutupi kesedihan hatinya. "Aku selalu berharap ketika melakukan hal kasar pada Putri, dia bisa bangkit sepertiku untuk menjadi muak lalu melawan. Aku sangat bersalah padanya, tapi kemudian akhrinya harapanku terkabul berkat dirimu. Putri berubah karena kamu."
"Apa itu juga sebabnya semenjak perubahan Putri, lo gak pernah lagi sekalipun ganggu gue dan Putri?"
Sontak Desi jadi tertawa. "Kamu pikir aku cewek apaan? Aku masih tahu diri kali. Tapi sekarang kamu kan lagi sendiri, jadi gak apa-apa dong aku deketin."
Rian jadi mengacak rambut Desi gemas. "Dasar! Kenapa suka sama gue sih?"
"Kamu percaya cinta pandangan pertama gak?" tanya Desi tanpa mengharap jawaban. "Awalnya aku juga gak percaya cinta pada pandangan pertama itu ada, karena menurut pepatah adalah cinta akan tumbuh saat ketika sering bersama. Tapi aku sekarang sudah merasakannya, bahwa jatuh cinta pada pandangan pertama itu ada."
Mata mereka saling bersitatap bersama. "Rian, aku mencintaimu." ucapnya.
Seketika Rian tertegun, terlihat jelas ketulusan dari mata gadis itu. Bukan seperti Desi yang biasa ia kenal dengan kehebohannya sehari-sehari, kata-kata tulus serta senyuman indah dari gadis cantik itu seketika membuat jantung Rian ikut berdegup kencang.
"Des." panggil Mega memecah suasana tiba-tiba.
Desi menoleh, beranjak. "Udah ngobrolnya?" tanya Desi kemudian ketika Mega dan Yuda mendekat.
Mega mengangguk. "Udah kok." sahutnya. "Hayo kita pulang! Loli udah ngantuk katanya, dia nungguin di mobil."
"Oh oke." Desi menoleh pada Rian yang masih duduk mencerna perasaannya itu. "Rian aku pulang dulu! Sampai ketemu besok ya!" pemitnya.
"Ah, iya." sahut Rian masih tegang.
Merekapun berbalik untuk pergi, dan Yuda juga menghampiri. "Yuk kita juga pulang! Terusin maen game."
"Oke." sahut Rian, menyadarkan diri sejenak sebelum kemudian beranjak untuk pergi.
****
Kamsamida :* Give away ntar malem ya!!
__ADS_1