SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Sebuah Artikel


__ADS_3

Nadin membawa nampan berisi beberapa menu makanan diatasnya unruk ia berikan pada anaknya yang tengah meringkuk ketakutan dipojok kamarnya.


"Sayang, sarapan dulu ya, Nak!" bujuknya, menyodorkan makanan dikedepan anaknya.


Putri tak menjawabnya, ia hanya duduk melamun, memberikan tatapan kosong.


Melihat itu, hati Nadin rasanya teriris sakit, begitu perih dia rasa tapi Nadin mencoba untuk tabah demi tidak memberatkan pikiran anaknya itu.


Nasib lalu mencoba menyendok makanan untuk menyuapi anaknya tetapi belum sampai menyentuh mulut, Putri dengan sigap menepisnya hingga sendok itu terjatuh. Ia pun kembali terisak dengan bibir yang gemetar.


Mendengar tangisan itu kembali, Aldy yang semula tertidur jadi kaget lalu berlari menghampiri kedua orang yang dikasihinya.


"Papa." ucap Nadin, menoleh pada suaminya lalu memeluknya. Menangis didadanya.


Aldypun tak sanggup menahan air matanya meskipun ia mencoba untuk tegar. "Ma, sebaiknya kita lapor polisi saja tentang kejadian ini." ucapnya kemudian.


Nadin mendongak, menatap suaminya. "Tapi pa, bagaimana bisa kita melaporkan hal ini pada polisi, sedangkan anak kita masih tidak mau memberitahu kita siapa yang telah merusak dirinya. Mama hanya takut hal ini malah semakin membuat Putri tertekan."


"Ya, mama ada benarnya. Lalu apa yang harus kita lakukan demi mengembalikan senyum anak kita lagi? Papa sudah mati akal rasanya." tanyanya sembari menghela nafas berat yang begitu sesak didadanya.


"Kita panggil psikiater aja pa, untuk memperbaiki mental anak kita. Jika Putri sudah mau bercerita, baru kita akan menghukum orang jahat itu."


Aldy mengangguk. "Iya, mama benar. Semoga anak kita bisa kembali lagi." menatap nanar pada anaknya, ingin sekali memeluknya.


****


Sedangkan Rian yang biasanya datang lebih lambat kini memilih untuk jalan kesekolahnya lebih pagi.


Tentu ia ingin segera bertemu dan berbicara dengan Putri, ingin meminta penjelasan kenapa gadis itu tidak datang bahkan tidak menemuinya.


Tapi bukan Putri yang ia temui ketika memasuki kelasnya yang masih sepi, tetapi ia langsung bertemu dengan Yuda yang kebetulan juga datang lebih pagi untuk bertemu dengan Putri.


"Cih." Yuda mendecih, menyunggingkan bibirnya ketika melihat Rian memasuki kelas.


Rian tak menghiraukan, ia memilih berjalan santai lalu menaruh tas di bangkunya.

__ADS_1


Mereka berdua memilih menyibukkan diri masing-masing. Enggan untuk berbicara.


Hingga tak lama kemudian murid lain datang dengan begitu hebohnya, membuat Rian penasaran.


Mereka saling menggunjing dan menebak satu sama lain. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Bro, ada apa? Kok anak-anak pada heboh?" tanya Rian pada salah satu teman sekelasnya.


"Lo gak masuk grup chat sekolah?"


Rian menggelengkan kepala. "Enggak, kenapa?"


"Hm. Lo ketinggalan banget sih." ledeknya. "Ini baca sendiri, ada yang nyebarin artikel kalo ada salah satu murid disekolah kita yang kena kasus pemerkosaan. Inisialnya 'P' anak-anak lagi nebak."


Seketika Yuda yang semula diam, langsung merampas ponsel milik teman sekelasnya itu dan membelalak kaget ketika membaca artikel tersebut.


"Lo apa-apaan, sih?" tanyanya kesal.


Yuda mengembalikan kembali ponsel itu, lalu kembali duduk dengan perasaan begitu kesal.


Sedangkan Rian malah jadi bingung, ia tak ada pikiran curiga sedikitpun pada Putri.


****


Kini semua mata pelajaran berakhir, dan Rian langsung pergi menuju toko kue.


"Tolong bungkus yang ini!" menunjuk kue coklat mini nan cantik.


"Baik mas." sahut pelayan toko, segera membungkus kue ulang tahu untuk Sefia.


Setelahnya Rian melakukan pembayaran dan segera berniat untuk pulang.


Belum naik ke motor, Rian mendapat panggilan telefon dari papinya, Dedi.


"Iya, pi." sahutnya.

__ADS_1


"Kamu udah beli kuenya?"


"Sudah kok pi, tenang." sahutnya dengan santai. "Ini Rian udah mau pulang."


"Oh oke, bagus! Bagus!" ucapnya bangga. "Soalnya papi sama mami udah disini, tinggal nungguin kuenya aja."


"Ha ha, kan gak surprise dong pi."


"Gak tahu nih mamimu! Papi tadi udah pura-pura lupa tapi mamimu malah ngambek, ya gini deh jadinya."


"Astaga! Mami kayak anak kecil ya." Rian tertawa senang.


Dedipun juga tertawa. "Yaitu, makanya cepetan pulang!"


"Oke pi, Rian pulang sekarang." sahutnya lalu mematikan sambungan telefonnya.


Rian menggelengkan kepala dan masih tertawa, membayangkan kelakuan maminya yang pasti sangat manja dan memaksa papinya untuk mengingat hari ulangtahunnya.


Kue ulang tahun maminya ia taruh didalam jok motornya yang luas, hingga ia bisa mengendarai motor dengan penuh kehati-hatian.


Ia mengendarai motor dengan kecepatan sedang, lalu ia berhenti tepat dilampu merah.


Disisi lain, ada sebuah mobil yang sedang melaju tak beraturan karena rem mobilnya blong. Hingga pada saat lampu hijau menyala, Rian melaju kembali dan ia langsung dihantam oleh mobil tak terkendali tersebut.


CRANG!!!


Foto masa kecil Rian jatuh dan pecah tiba-tiba, membuat Sefia kaget dan merasakan sesak didadanya.


"Rian kok belum pulang ya, pi?" tanya Sefia khawatir, memegangi bingkai foto yang pecah.


"Mungkin lagi dijalan mi, kan masih mampir beli kue." sahut Dedi tenang.


****


__ADS_1


Kamsamida :* Selamat menebak!


MAMPIR KE SELINGKUH 2 Karena udah UP Banyak.


__ADS_2