
Kini Sefia dan Dedi sudah didepan gedung pesta, dan sudah seperti yang Sefia duga bahwa pesta ini bukanlah pesta biasa karena banyak tamu penting juga datang.
Dan ketika Sefia dan Dedi memasuki gedung, mereka langsung jadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, semua orang mengagumi kesuksesan yang diraih suami Sefia itu.
"Selamat malam, selamat datang."
Mereka langsung disambut dan kemudian diarahkan pada meja khusus untuk para tamu yang hadir.
Disisi lain, Sherly tengah bermimik wajah kesal melihat Dedi datang dengan istrinya.
"Ngapain sih Dedi ngajak perempuan rendah itu kemari." dengusnya kesal.
"Ya jelaslah, kan istrinya." jawab Jovan teman Sherly.
"Aku gak nanyak." sahut Sherly kesal, dan Jovan terkikik geli karenanya.
"Udah, lupain aja! Dia udah bahagia tuh sama istrinya."
"Buat cowok kayak Dedi, itu sulit banget dilupain. Iya kalo kayak kamu, bikin ogah."
"Eits, gak boleh ngomong kayak gitu! Ntar naksir aku baru tahu rasa."
"Dih! Sorry." sahutnya memalingkan muka.
Setelah Dedi duduk disalah satu meja yang disediakan, kemudian mereka memesan minuman dingin untuk penyejuknya. Meskipun mereka yang datang meminum anggur tapi Sefia dan Dedi tetap memilih jus sebagai minumannya.
"Terimakasih Bas, sudah mengundangku dan istriku kemari." ucap Dedi kepada temannya itu, ketika ia datang menyambut dirinya dengan istrinya.
"Aku yang justru sangat berterimakasih padamu karena sudah mau datang kepesta yang aku adakan, sekaligus reuni bersama dengan teman lama." sahut Abas.
"Oh ya, kenalin! Dia ini istriku namanya Sefia."
Sefiapun menunduk. "Sefia."
"Abas." jawabnya. "Sungguh, kamu pandai mencari seorang istri yang begitu cantik." pujinya pada temannya itu.
"Terimakasih banyak pujiannya." sahut Dedi, memeluk pinggang istrinya.
Setelahnya seseorang datang dan langsung menghampiri Sefia.
"Sefia." sapa seseorang yang baru saja datang, tidak asing.
Sefiapun menoleh. "Nadin, apa kabar?" mencium pipi kanan kirinya.
"Aku baik-baik aja, kamu sendiri gimana? Aku udah lama gak nengokin ponakan."
"Seperti yang kamu lihat, aku baik. Kamu juga gak ngabarin kalo balik kesini."
__ADS_1
"Sorry, aku dadakan kesini karena temenin suami. Besok pagi balik lagi."
Sefia lalu mengelus perut Nadin yang sudah membesar. "Ini cewek apa cowok kata dokter?"
"Menurut perkiraan sih cewek, moga aja deh."
"Semoga, pasti gemesin."
Setelahnya Aldy datang menyapa. "Hei, gimana kabarnya?"
"Sama baiknya."
Merekapun duduk bersama, dan Sefia merasa bersyukur karena ia tidak sendirian.
Setelah banyak berbincang, akhirnya mereka masuk kedalam inti pesta. Dimana tuan rumah berdiri diatas pentas untuk menyambut para tamu.
"Terimakasih untuk kalian, teman-teman yang telah hadir dan malam ini kita harus bersyukur karena kedatangan tamu spesial Tuan Dedi Atmaja yang selalu sibuk, kini dapat menghadiri pesta kecil ini bersama dengan istrinya." Abas menunduk memberi hormat. "Terimakasih banyak."
Seketika tepuk tangan dari tamu yang hadir, lalu mengalihkan pandangannya pada Dedi dan Sefia, merekapun menunduk memberi salam pada mata yang melihatnya dengan kagum.
Abas mengangkat gelas anggurnya. "Mari kita bersulang bersama dan nikmati pestanya."
Kini pesta berjalan sesuai yang diinginkan, Dedi dan Aldypun banyak berbincang karena mereka lama tidak berjumpa, hanya sesekali bertemu untuk rapat serta melaporkan perkembangan perusahaan saja.
Sefiapun sama, ia asik berbincang dengan Nadin walau masih banyak mata iri tertuju padanya.
"Iya, gak apa-apa kok." sahutnya, lalu Dedi dan Aldypun berlalu pergi untuk berkumpul dengan teman lainnya.
"Oh ya Sef, kamu udah pernah ketemu belum sama sekretaris barunya pak Dedi?" tanya Nadin.
"Udah kok, kenapa emangnya?"
"Aduh, gimana ya." Nadin menggaruk tengkuknya, salah tingkah.
"Kenapa? Dia aneh kan?" desak Sefia, penasaran.
"Sebenarnya, dia tuh adiknya Sherly. Mantan tunangannya pak Dedi."
Sontak Sefia membelalak kaget. "Serius kamu?"
Nadin mengangguk cepat. "Iya, aku baru tahu itu. Aku sebelumnya curiga gitu karena pelamar yang lain tiba-tiba mundurin diri sedangkan pak Dedi butuh banget sekretaris waktu itu, dan aku kan harus segera ikut siamiku. Sedangkan pak Dedi ngasih kepercayaan penuh sama aku, jadi aku gak berpikir panjang dan langsung rekomendasiin dia ke pak Dedi." Nadin menggapai jemari Sefia. "Maaf ya? Aku beneran gak tahu waktu itu."
Sejenak Sefia jadi terdiam dan memutar otaknya untuk berpikir. "Bukan salahmu kok, meskipun dia sodara mantan tunangan suamiku tapi aku yakin Dedi gak akan tergoda sama perempuan lain."
"Hah? Jadi dia niat mau ngedeketin pak Dedi?"
Sefia mengangguk. "Iya, dia bahkan pernah berbicara kasar padaku."
__ADS_1
"Astaga, bener-bener." Nadin mengeram. "Kita langsung laporin aja sama pak Dedi biar dia langsung dipecat."
"Jangan! Sepertinya itu bukan ide yang bagus, meskipun dia sodara Sherly tapi kan dia juga punya hak untuk dapat pekerjaan dan aku yakin lambat laun Dedi pasti menyadarinya kalo si Anggi itu mencoba untuk mendekatinya."
Nadin mengangguk, menelaah. "Ya, kamu benar juga. Kita tidak boleh bersikap serampangan hanya karena perempuan seperti dia."
Sefia tersenyum. "Iya."
Setelah lama mereka berbincang, Sefia kemudian berpamitan ke toilet untuk membenarkan makeupnya.
"Aku ke toilet bentar ya!" pamitnya.
"Oke." sahut Nadin.
Ketika Sefia beranjak dari duduknya, perhatian itu tak luput dari sorot mata Sherly dan segera mengikutinya ke toilet.
Sesampainya ditolet, Sefia langsung mencuci tangannya dikran wastafel dan mengamati makeupnya yang sedikit luntur.
Tiba-tiba saja Sherly memasuki ruang toilet yang sepi, tersisa hanya ada mereka berdua.
Sefia yang tahu Sherly tengah berdiri disebelahnya, dengan dagu mendongak dengan sombongnya. Ia tak peduli akan hal itu.
Sefiapun buru-buru memakai makeupnya dan ingin berbalik pergi tapi Sherly menahannya.
"Aduh! Buru-buru banget sih." ucapnya khas suara ejekan.
Sefia berbalik, bersindakap. "Mau ngomong apa? Kayaknya aku gak ada urusan sama kamu."
"Cih!" Sherly tertawa sarkas. "Mentang-mentang udah bisa nikah sama bos besar sekarang bisa berbicara seperti itu padaku. Dengar ya! Sekalinya kamu rendahan, selamanya akan seperti itu. Tidak akan merubah apapun." ejeknya.
"Jaga ya kata-katamu! Meskipun aku hanya wanita miskin, tapi setidaknya aku masih memiliki harga diri. Tidak sepertimu yang akan melakukan segala cara untuk menghancurkan rumah tangga oranglain."
Sherly mengangkat alisnya, masih tertawa. "Jadi kamu udah tahu soal Anggi? Ha ha." tebaknya. "Apa kamu sekarang takut kalau akhirnya Dedi akan memilih meninggalkanmu karena perempuan lain?"
"Jangan bermimpi! Kamu saja tidak bisa mengambil hatinya dariku, apalagi hanya seorang Anggi." sahut Sefia tegas. "Berbahagialah! Miris sekali aku melihatmu karena masih mengharapkan orang yang jelas-jelas tidak mau denganmu." cibirnya lalu berbalik melangkah pergi.
Seketika mendengar penghinaan itu, membuat Sherly mengepalkan tangannya. Melangkah mengejar Sefia yang masih didepannya dan langsung mendorongnya hingga punggung Sefia membentur tembok.
"Dengar ya baik-baik!" Sherly mengeram, dengan tatapan tajam. "Kamu hanyalah barang bekas, yang dimana jika barang bekas itu tidak akan awet jika sudah terpakai. Kita lihat saja! Dedi pasti akan bosen jika lama-lama bermain dengan barang bekas sepertimu." mendekatkan diri ketelinga Sefia. "Dia akan membuangmu seperti sampah." ucapnya, membuat Sefia tertegun.
Sefia hanya bisa tertegun dan terdiam, ketika Sherly mengatakan hal kejam itu lalu pergi meninggalkannya.
"Kamu hanyalah barang bekas."
****
TOLONG VOTE POIN, LIKE DAN KOMEN.
__ADS_1
Yang belum tahu caranya vote bisa klik VOTE disebelah nama Author, lalu Klik jumlah poin yang ingin kamu berikan 10,100,1000.