
Dedi tengah membawa nampan berisi makanan untuk istrinya yang sedang duduk disofa dengan segala kesedihannya.
"Sayang, makan dulu yuk!" bujuknya sembari mengelus rambut istrinya. "Kamu belum makan dari semalam bahkan kamu juga gak tidur." ucapnya dengan nada penuh kelembutan.
"Gak! Aku gak laper." sahutnya menolak.
"Sayang, makan dulu dong biar kamu gak sakit." bujuknya lagi dan malah membuat Sefia memuncak.
Sefia beranjak berdiri dan memuncak. "Anak kita lagi berbaring sakit pi, bagaimana bisa aku makan dan tidur dengan tenang, hah?" teriaknya, menangis histeris. "Aku takut terjadi hal yang gak aku inginkan, rasanya seperti mimpi buruk. " ucapnya terisak dengan bibir bergetar.
"Tapi sayang, kalo kamu sakit nanti gimana?"
"Biarkan saja! Jika sampai Rian kenapa-napa, jika sampai Rian mati aku akan ikut mati bersamanya." tegasnya, dengan frustasi.
"Astaga mami! Bagaimana kamu bisa berbicara hal seperti itu? Tolong jangan seperti ini."
"Aku gak bisa pi." mengusap kasar wajahnya. "Aku gak bisa hidup tanpa Rian, jika Rian mati maka aku akan memilih mati bersamanya."
Seketika Dedi memeluk istrinya yang pikirannya sedang kacau. "Tolong jangan berkata seperti itu sayang! Ada nyawa yang juga berhak dan ingin hidup di dalam rahim mu, dia ingin melihat indahnya dunia dengan kita." mengeratkan pelukannya. "Kamu pikir jika kamu mati maka aku akan hidup dengan tenang? Kamu salah! Aku bahkan rela mati untukmu, jadi tolong.. Jangan mengatakan hal buruk seperti itu lagi!"
Sefia jadi menangis sejadi-jadinya, memeluk suaminya begitu eratnya. Sudah kacau segala pikirannya.
"Kita harus yakin kalau Rian nanti akan baik-baik saja, meskipun kemungkinannya kecil tetapi kita masih punya harapan. Mari kita berjuang bersama, sayang." ucapnya dengan suara serak nan pilu, mengelus penggung istrinya itu.
"Mari kita saling menguatkan."
****
Yuda sedari tadi melebarkan pandangannya tetapi tidak menemukan sosok Rian dibangku yang biasa ditempatinya.
Meskipun Yuda masih membenci anak itu, tetapi dirinya tetap ingin melihat Rian datang ke sekolah dengan aman.
Mereka sudah seperti keluarga, bersahabat saling berbagi tetapi ada pembatas. Kebencian dihati.
"Eh, lo udah denger tentang Rian gak?"
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa?"
"Dia katanya kemarin kecelakaan terus kondisinya parah."
"Lo serius?"
"Serius. Ah, malah gak percaya nih orang."
Yuda yang tak sengaja mendengar percakapan kedua temannya itu langsung menghampiri.
"Lo ngomong apa barusan?" tanyanya membuat temannya menoleh, kaget.
"Itu si Rian, katanya habis kecelakaan dan kondisinya lagi kritis." sahutnya enteng.
Yuda langsung mencengkram krah temannya itu lalu membanting tubuhnya ketembok. "Lo kalo ngomong jangan asal, ya! Jangan bercanda!" bentaknya, mengetatkan rahangnya.
Hingga temannya itu bergidik ngeri dan gementar. "Su.. sumpah! Gue gak bohong kok. Aku denger sendiri dari pak Alvin."
Mendengar itu, seketika Yuda mengambil tasnya lalu langsung pergi menuju rumah sakit dimana Rian dirawat inap.
Langkah demi langkah, dengan susah payah Yuda sudah berada tepat didepan kamar dimana Rian dirawat.
Melalui celah kaca yang membentang dipintu, Yuda sudah dapat melihat temannya itu. Penuh dengan berbagai kabel dan peralatan medis terpasang ditubuhnya, membuat Yuda yang melihatnya jadi tak tega.
Yuda mengepalkan tangannya, bahkan menangis seperti sedang menyalahkan diri sendiri.
"Aku ingin terus membenci dan menyalahkan mu, tapi bukan seperti ini. Kamu tidak boleh begini." gumamnya dalam tangis.
Ia kemudian memundurkan langkahnya, berbalik untuk pergi karena sudah tak kuat lagi.
****
Disisi lain, Aldy tengah mendapat panggilan telefon dari temannya, Dedi.
Dedi memberitahu Aldy bahwa ia telah mengalami musibah, bahwa anaknya Rian telah mengalami kecelakaan.
__ADS_1
Aldy yang mendengar kabar buruk itu jadi terhenyak kaget, tak percaya.
"Ya Tuhan, jadi gimana kondisinya sekarang?"
"Dia masih belum sadar, Al." sahutnya serak. "Rian mengalami koma."
"Ya Tuhan." Aldy mengelus dadanya. "Semoga Rian cepat pulih. Aku akan kerumah sakit nanti dengan istriku."
"Iya semoga, terimakasih." sahut Dedi kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Lalu Aldy melangkah mendekati istrinya yang berada didepan pintu kamar anaknya.
"Ma, aku denger kabar dari Dedi kalo Rian kecelakaan."
"Apa! Rian kecelakaan?" ulang Nadin, begitu kaget.
Tapi tidak dengan Putri, ketika ia mendengar nama Rian disebut seketika memori ingatannya terulang.
"Lihat, kan? Orangtuanya sudah membunuh mamaku dan sekarang gara-gara dia kamu mengalami nasib buruk seperti ini." ucap Yuda pada Putri kala itu.
Mengingat itu, seketika Putri jadi menangis histeris. "Tidak!" teriaknya, menutup kedua sisi pendengarannya.
Sontak Nadin dan Aldy langsung berlari masuk kedalam kamar anaknya. "Ada apa, Nak?"
"Ini semua gara-gara Rian, aku seperti ini gara-gara Rian." teriaknya dengan histeris, membuat Nadin dan Aldy bingung.
"Maksudmu apa, sayang?" tanya Aldy memastikan.
"Gara-gara Rian pa! Gara-gara Rian! Dia memperkosaku! Rian memperkosaku." tuduhnya dengan tegas.
"Apa!"
****
Mampir ke SELINGKUH 2, Udah 18 Episode. Bantuin Like dan Komen.
__ADS_1
Kamsamida :* Sikap orangtua ketika menghadapi permasalahan anaknya. Perjuangan!!