SELINGKUH

SELINGKUH
Angga part 1


__ADS_3

Kini seperti biasa, Angga bangun pagi dan makan sarapannya sebelum ia masuk kantor untuk bekerja.


"Ga, nanti bisa gak kamu pulangnya lebih awal?" pinta Lidia, yang sedang duduk didepan anaknya.


"Maaf Ma, sepertinya Angga bakal pulang malam lagi. Kenapa memangnya?"


"Ah itu." Lidia menyodorkan foto seorang gadis kedepan Angga. "Ini adalah anak teman mama, dia seorang dokter. Dia gak kalah cantik kan dari Sefia?"


Angga mengernyitkan dahinya, memutar bola matanya jengah. Pasalnya ini adalah kesekian kalinya Lidia ingin mencoba menjodohkan Angga dengan anak dari teman-temannya. "Aku masih gak kepikiran buat gantiin Sefi Ma." tegasnya.


"Tapi sayang, kamu kan udah lama sendiri. Masa kamu mau terus-terusan seperti ini, sih?" memegang lengan anaknya dan sedikit mengguncangnya. "Mama mohon kali ini kamu coba temuin perempuan ini, ya! Siapa tahu nanti kami bisa berubah pikiran setelah bertemu dia."


"Iya Ma, Angga usahain. Tapi kali ini aja." sahutnya enggan.


Seketika Lidia lega, tersenyum penuh harap pada anaknya. "Iya gak masalah, kali ini aja. Setelah itu Mama gak akan maksa kamu lagi."


"Baiklah Ma."


****


Setelah selesai sarapan, Angga buru-buru berangkat ke kantornya untuk bekerja.


Sesampainya disana, Angga sudah disambut oleh sekretaris barunya yang sudah selesai menata barang pribadinya di meja tempat ia akan bekerja.


"Selama pagi, Pak." sapanya menunduk.


"Pagi, silahkan langsung ke ruangan saya!" pintanya kemudian, meneruskan langkahnya.


Dengan sigap, Anggi mengikuti atasannya dan langsung tercengang ketika dapat menatap wajah atasannya yang baru dengan jelasnya.


"Silahkan duduk!" ucap Angga, dan Anggipun duduk lebih canggung dari biasanya. "Apa Presdir sendiri yang memintamu untuk menjadi sekretaris pribadi saya?"

__ADS_1


"Iya pak, benar." sahutnya, setengah menunduk. "Mohon bantuannya dan kerjasamanya." ucapnya lantang, kemudian langsung gugup salah tingkah.


Angga jadi terkekeh melihat kegugupan sekretaris barunya itu. "Sama, saya mohon bantuannya juga."


Anggipun tersenyum malu sembari menggigit bibir bawahnya. "Terimakasih, pak."


"Ya sudah kembalilah kemeja kerjamu, dan tolong atur ulang jadwal rapat dan janji temu dengan para Client, nanti saya harus pulang lebih awal."


"Baik pak, siap." sahutnya antusias, menundukkan kepala dengan cepat lalu langsung berbalik dengan buru-buru.


Angga hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Dia kenapa bisa selucu itu sih." gumamnya.


Sedangkan Anggi memegangi dadanya yang berdetak dengan kencangnya. "Astaga, ada apa denganku?" gumamnya memukul kepalanya sendiri. "Kenapa aku bisa segugup ini? Gak mungkin kan aku dengan mudahnya berganti perasaan kepada oranglain?!" Yakinnya pada dirinya sendiri.


"Tapi dia begitu tampan. Aaaa." teriaknya tak sengaja dan langsung menutup mulutnya.


****


"Pak, makan siangnya sudah saya siapkan." ucap Anggi memberitahu pada atasannya itu.


"Baik." Angga langsung beranjak dari tempat kerjanya, dan langsung masuk ke ruang khusus dimana hanya ia yang bisa memasukinya untuk sekedar beristirahat dan menyantap makan siangnya.


Setelah Angga duduk di meja makannya untuk bersiap, Angga masih melihat sekretarisnya itu berdiri mematung tak jauh darinya.


"Kamu ngapain masih berdiri disitu? Duduklah! Makan bersama dengan saya." pintanya.


"A.. apa boleh, pak? Bukankah tidak sopan jika saya dengan lancang duduk bersebelahan dengan bapak."


"Siapa yang mengatakan itu? Apa si Dedi menjengkelkan itu?" tebaknya dengan nada kesal yang kental. Anggi hanya menunduk tak menjawab. "Duduklah! Saya sendiri yang minta."


"Baik pak." dengan antusias Anggi segera duduk, tapi ia juga menghindari tatapan langsung dengan atasannya karena tak tahan jika menatap matanya.

__ADS_1


"Makanlah yang banyak!"


"Ba..baik pak." lagi-lagi Anggi gugup dan bahkan ia tersedak karena saking gugupnya. "Uhuk Uhuk." segera Anggi meneguk gelas berisi minuman dan menghabiskannya.


"Hn. pelan-pelan makannya!"


"Iya pak, maaf." sahutnya menunduk.


Aaa. Kenapa harus sampai tersedak segala sih.


Saking malunya, Anggi bahkan ingin menangis saja rasanya.


Sedangkan Angga tengah menatap kosong, tersenyum miris ketika mengingat sesuatu yang dia ingat dalam sekilas.


Kenapa dia terlihat sangat sedih, ya? Apa aku melakukan suatu yang salah padanya.


****


TERIMAKASIH DUKUNGANNYA :*


Note : Jujur Author pengen banget mempertahankan cerita awal/Asli waktu Dedi sama Sefia selingkuh sampek tidur bareng, selingkuhnya macam perselingkuhan asli waktu suaminya lagi kerja. Lebih suka baca komen readers yang saling bentrok wkwk.


Tapi sayangnya, pihak MT nyuruh rubah. Padahal lebih seru yang awal T_T


Yang kangen mas Angga, Author kasih Bonus karena dia masih muda.


Netijen : Kenapa ganteng banget, thor?


Author : Saya kan pengen di BUCININ orang ganteng hehe


__ADS_1


__ADS_2