SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Makanan Pedas


__ADS_3

Dedi mengerut kening kesal, pasalnya sedari tadi istrinya memaksa untuk makan makanan yang sangat pedas.


"Gak boleh mami!" ucapnya tegas, mengambil semangkuk makanan pedas ditangan sang istri.


"Boleh kok pi." dengusnya tak kalah kesal. "Sini kasiin mami lagi!" rengeknya.


"Enggak!" tegasnya. "Mami ini lagi hamil besar, gerak aja mami susah. Bahaya banget tahu, makanan pedas bisa memicu asam lambung."


"Tapi gak apa-apa sekali-kali papi." rengeknya memohon. "Mami pengen banget."


"Kalo gak boleh ya tetep gak boleh! Ini tuh pedes banget, kalo pedes biasa sih masih wajar. Nah, ini? Coba mami lihat!" ucapnya, sambil memperlihatkan warna merah dan irisan cabai yang mengapung. "Papi itu khawatir sama kesehatannya mami, tapi mami kok bandel banget sih." omelnya.


"Maaf sayang, tapi mami mohon. Kali ini saja ya!" memberi senyum termanisnya untuk merayu sang suami.


Melihat senyuman yang diberikan istrinya membuat dirinya menghela nafas, menaruh mangkuk berisi makanan pedas di atas meja. Lalu ia menangkup kedua sisi wajah istrinya, dan mengecup bibirnya dengan sayang.


"Jadi, boleh kan mami makan itu dikit aja, pi?" rayunya, melihat suaminya telah luluh hatinya.


Dedi hanya tersenyum, mengusap rambut istrinya. "Pelayan!" teriaknya tak terduga, membuat Sefia tercengang. "Panggilkan Juru masak yang sudah membuat memasakan ini untuk Nyonya!"


Segera pelayan itu langsung berlari kearah Tuannya. "Baik Pak." sahutnya menunduk, dan kemudian berbalik untuk memanggil juru masak yang sudah membuat makanan pedas untuk Sefia.


Sefia memegangi jemari sang suami. "Papi, ini tuh permintaan mami! Ini salah mami." ucap Sefia begitu khawatir, baru kali ini suaminya sangat marah seperti ini.


"Semuanya salah." sahutnya penuh emosi. "Seharusnya dia akan tahu kalau akan seperti ini. Semua yang boleh atau tidak boleh mami makan mereka sudah tahu sangat jelas, dari bahan, menu masakan tiap harinya, bahkan minuman sudah diatur dan dijadwalkan khusus untuk mami dari dokter ahli."


Sefia hanya bisa menunduk dengan kemarahan sang suami, ia tahu bahwa dia seperti itu demi kesehatan dirinya dan bayinya juga.


"Mami itu hamil di usia yang sangat rentan, mami mengandung dengan susah payah. Kalo terjadi apa-apa dengan mami dan bayi kita gimana?" omelnya lagi. "Udah deh! Gak usah bandel."

__ADS_1


"Iya sayang." mangayunkan jemari suaminya, agar ia mau duduk kembali disampingnya. "Maafin mami ya! Mami janji bakal jaga kesehatan mami."


"Janji ya?!" tanyanya.


Sefia mengangguk cepat. "Iya, mami janji kok." sahutnya tersenyum.


Dedi menghela nafas lega, lalu mengecup kening istrinya. "Baguslah kalo mami udah ngerti."


"Se..selamat malam Pak." sapa juru masak yang membuat hidangan untuk Sefia, dan terlihat jelas ketakutan diraut wajahnya. "Saya yang..."


Belum selesai ia berbicara, Dedi langsung memberikan isyarat untuk ia pergi dari pendangannya dengan jemarinya.


"Baik pak." sahutnya menunduk, lalu berbalik pergi dengan lega, sembari mengelus-ngeluh dadanya. "Ah, syukurlah."


Dedi kembali memeluk istrinya dengan sayang, menciumi perutnya yang sudah sangat membesar. Saat itu juga Rian datang pada mereka berdua.


"Hai Mi, Pi." sapanya. "Wah, ada makanan nih."


"Oh." sahutnya, mengambil dan mulai mengunyah makanan pedas itu. "Emang kenapa kok gak boleh, Pi?"


"Ya karena makanan pedas seperti itu gak bagus untuk pencernaan dan lambung."


"Loh, tapi papi kok bolehin aku makan? Gak takut anaknya sakit?" tanyanya membuat Dedi mendecak.


"Udah siniin!" merebut mangkuk berisi makanan, padahal Rian tengah asik mengunyah. "Papi buang aja deh." ucapnya jadi kesal.


"Yah, kok dibuang sih pi? Rian bercanda doang kok." rengeknya. "Buang-buang makanan itu gak baik loh pi."


"Biarin!" dengusnya tak peduli, beranjak berdiri untuk membuang makanan yang menjadi permasalahan keluarga.

__ADS_1


"Gitu aja marah." ucap Rian lemah, membuat Sefia hanya menahan tawanya.


"Papimu lagi sensi sekarang." sahutnya. "Makanya dia gak bisa diajak bercanda."


"Lagian mami sih bandel, udah tahu gak boleh makan yang pedes-pedes tapi maksa. Papi sensi ke Rian juga kan jadinya." sahut Rian menebalkan pipinya.


"Ya maaf, ini kan juga permintaan adikmu."


Rian tersenyum, menelaah. "Rian sayang mami."


Rian kemudian memeluk maminya, dan Dedi yang selesai membuang mangkuk beserta makanannya kedalam bak sampah langsung menarik anaknya agar melepas pelukannya.


Ia kemudian duduk ditengah-tengah untuk menjadi penghalang. "Kamu ke kamar saja pergi istirahat!" pintanya pada anaknya, sembari merangkul istrinya.


"Yah malah di usir." Rian menebalkan bibirnya kembali.


"Udah sana, gak usah protes!" desaknya.


"Iya, iya." Rian pun beranjak dari duduknya dan segera menaiki anak tangga untuk pergi menuju kamarnya. "Tiap malam minggu pasti diusir, nasib nasib." gumamnya, mengacak rambutnya frustasi.


Rian membanting tubuhnya diatas kasur, meraih ponselnya untuk menghubungi Desi yang sudah dirindukannya meski baru beberapa saat tidak bertemu.


Rian Atmadja : Selamat malam.


"Kok belum dibaca sih?" gumamnya lagi-lagi penuh curiga. "Sekarang kan malam minggu."


****


Maaf jarang Update, nanti tgl satu bakal update setiap hari dan bakal crazy UP :*

__ADS_1


Author janji akan membuat mereka cepet dewasa dan akan bertemu kembali dengan Putri.


pasti kalian pada kangen Putri kan? he he


__ADS_2