
Tia dan Lila tiba di rumah. Kehadiran mereka membuat Pak Pandi dan Bi Tuti terkejut serta bertanya tanya. Apalagi melihat Tia seperti membantu Lila,yang sedang hamil berjalan perlahan dan hati hati. Bukankah itu sangat aneh sekali mengingat beberapa bulan yang lalu mereka serumah kerepotan karena wanita itu. Zaky sendiri sedang di kamar bersama Zoya, masih mengobrol agar anaknya lebih tenang.
Tia menyuruh Lila duduk di sofa, dan meminta Bi Tuti membawakan minuman. Bi Tuti menyajikan minuman dengan tatapan tidak senang, Lila dapat merasakannya.
" Lila, kau tunggulah di sini, aku akan mengatakan pada Zaky tentang keputusanku."
" Aku tidak mau, aku singgah sebentar saja dan akan pulang."
" Tidak Lila, siapa yang akan mengurusmu nanti? "
" Aku bisa mengurus diriku sendiri."
" Tidak, tunggu di sini, aku akan menemui Zaky." Tia meninggalkan Lila, berjalan menuju ke kamar.
Bi Tuti dan Pak Pandi ternyata menguping pembicaraan mereka dari dapur. Keduanya saling berpandangan, Pak Pandi mengedikan bahunya.
"Kau mendengar itu Pandi? Ia akan mengajak wanita itu tinggal di sini! Apa yang ada dalam pikirannya? Apa dia lupa konflik beberapa bulan lalu. Oh Tuhan..." Bi Tuti menepuk dahinya.
" Entahlah tapi aku setuju." kata Pak Pandi sambil meminum air. Mendengar itu Bi Tuti terbelalak.
" Apa maksudmu! Kau senang mereka bertengkar lagi?"
"Kau tahu bi, tinggal di sini akan membuatnya menderita, karena harus melihat kemesraan mereka berdua itu setiap hari. Aku saja menderita melihatnya, jadi ingin menikah lagi. Wanita itu akan tersiksa karena cemburu, jadi biarkan saja..." Pak Pandi menghabiskan minuman di gelasnya.
Bi Tuti berpikir sejenak.
Apa benar begitu? Mudah mudahan saja kehadirannya tidak membuat panas rumah ini.
Sementara itu, Langkah Tia berhenti saat melihat Zaky turun dari tangga. Ia menunggu di dasar tangga, Zaky turun sambil melihat Lila dengan alis yang mengernyit.
Mengapa dia di sini?
Tia menghampiri Zaky Lalu menarik tangan Zaky sedikit ke pojok, Ia ingin meminta ijin pada Zaky. Lila melihat mereka sebentar lalu mengalihkan pandangan ke tempat lain.
" Mengapa dia di sini?" Zaky menatap Tia, Tia meletakkan telunjuknya di depan bibir, tidak ingin pembicaraan mereka di dengar Lila. Padahal Lila dapat mendengar suara Zaky meski sedikit samar.
"Hush jangan keras keras sayang." Ujar Tia berbisik bisik.
" Kenapa tidak mengantarnya pulang? sudah ke rumah sakit kan?"
" Iya sudah, dokter bilang dia dan bayinya tidak cukup gizi. ia tinggal sendirian sekarang, Ibunya sudah meninggal. Kasihan sekali kan?"
" Bukan urusanku. Lalu mau apa? Aku akan menyuruh Pak Pandi mengantarnya pulang, lalu kembali dengan taksi."
" Eh tidak! Tidak. Aku ingin dia tinggal di sini."
" Apa?!"
__ADS_1
" Sampai bayinya lahir."
" Kau sudah gila?"
" Tidak. Aku kasihan padanya, sayang."
" Kau amnesia? dia itu akan menghancurkan kita. Itu cuma beberapa bulan yang lalu, bagaimana bisa tidak ingat! "
" Aku tahu sayang, aku tahu. Tapi lihatlah, dia akan melahirkan dan lihatlah badannya kurus begitu."
" Aku tidak peduli! Aku akan memanggil pak pandi!" Zaky hendak beranjak tapi Tia menahannya. Lila melihat mereka, wajahnya muram.
" Sayang, aku mohon. Jika saja aku yang hamil tapi keadaannya begitu, bagaimana? Lihatlah dari sisinya, Ibunya baru meninggal 2 minggu yang lalu saat kita pergi ke pernikahan dira, karyawanmu. Kita harus menolongnya, pikirkanlah bayinya. Mungkin kita membencinya tapi kita harus menolong bayinya."
Zaky diam kemudian menghela napas. Tangannya di saku celana, Ia menatap Tia seperti tidak habis pikir dengan kemauannya itu.
" Apa dia memintamu?" Ujar Zaky datar.
" Tidak sayang, ini murni keinginanku. Lila bahkan tidak mau tapi aku memaksanya. Ini demi bayinya." Tia menatap Zaky penuh harap. Ia meraih kedua tangan Zaky dan menggenggamnya.
" Aku mohon, setelah bayinya lahir kita akan membiarkannya pergi. Dia sudah menyelamatkan anak kita, kita harus menyelamatkan anaknya."
Zaky beralih melihat Lila yang sedang menunduk sambil meremas remas tangannya. Sebenarnya Ia kesal sekali melihat wajah itu. Ia teringat saat Lila menciumnya dan Tia pergi bersama Farel. Tapi benar kata Tia, Ia sangat kurus terlebih untuk ukuran wanita hamil, Lila juga sudah menolong Zoya, mungkin ia harus memberi Tia kesempatan. Tapi Ia tidak akan membiarkan Lila sekali lagi menghancurkan pernikahannya. Bagaimanapun caranya.
Zaky menatap Tia lagi.
" Tapi aku memberimu kesempatan..."
"Benarkah?" seketika matanya membulat.
" Dan ingat, jangan paksa aku untuk bersikap baik padanya. Dia urusanmu. Aku tidak peduli."
"Iya sayang aku mengerti." Tia refleks memeluk Zaky. Zaky juga mendekapnya serta mengecup kepalanya, menunjukkan pada Lila tentang posisinya. Beberapa saat kemudian pelukan itu terlepas dan Zaky berlalu ke kamar. Tia kembali menghampiri Lila.
" Ayo aku tunjukkan kamarmu."
Tia mengantar Lila ke kamar tidur di lantai dasar, Ia tidak ingin Lila di kamar atas karena tidak ingin Lila naik turun tangga, Lagi pula kamar tidurnya juga di lantai dua, Zaky bisa protes nanti. Kamar yang akan di tempati Lila itu cukup nyaman, jendelanya persis menghadap ke kolam renang.
" Kau istirahatlah, nanti aku akan meminta Pak Pandi untuk mengantarmu mengambil pakaian di kontrakan."
Lila mengangguk. Ia juga merasa cukup lelah sebenarnya. Ia pun merebahkan diri di atas kasur sementara Tia keluar kamar. Namun beberapa saat kemudian Tia kembali. Ia membawa bantal hamil miliknya dulu untuk di pakai Lila.
" Kau punya ini di rumah?" tanya Tia pada Lila. Lila menggeleng.
" Pakailah ini, Ini akan membuat tidurmu lebih nyaman." Tia memberikannya pada Lila. Lila pun meraihnya Lalu tidur dengan bantal itu. Tia pun keluar kamar.
Lila merenung sejenak.
__ADS_1
Beberapa bulan yang lalu aku sangat jahat padanya. Dia masih bisa seperti ini padaku. Ada apa dengannya? mungkin aku menyelamatkan Zoya,tapi perhatian ini? sampai tinggal di sini? apa tidak terlalu berlebihan? yasudahlah... setidaknya aku bisa melihat Zaky setiap hari. Aku tidak perlu menunggu dan membuntuti Zaky lagi.
Lila pun akhirnya tertidur.
---
Malam harinya di kamar tidur, Tia dan Zaky sedang pillow talk, mengobrol sebelum tidur.
" Aku tidak habis pikir dengan keputusanmu itu!" Ujar Zaky melirik istrinya yang rebah bersandar dalam pelukannya.
" Aku hanya kasihan." jawab Tia sambil tangannya mengusap otot perut Zaky. Ia menengadah sebentar mengintip ekspresi Zaky lalu bersandar lagi.
" Apa kau hamil?"
" Hamil?"
" Iya, kau super sensitif saat hamil. Mungkin saja kau hamil."
Hamil? kenapa aku tidak pernah mengeceknya. Tunggu dulu, kapan ya terakhir aku datang bulan...
Tia tidak ingat kapan terakhir datang bulan. Mungkin beberapa bulan yang lalu. Ia tidak terlalu peduli karena memang biasanya siklus menstruasinya jadi tidak teratur karena menyusui. Ia sendiri tidak pernah menggunakan kontrasepsi. Dulu bahkan Ia tidak haid sama sekali sampai genap setahun, dan begitu haid selanjutnya ia segera hamil. Mungkin kali ini juga begitu pikirnya. Ia tidak haid karena menyusui.
Sementara Tia sibuk berpikir tentang hal itu Zaky sudah menindihnya.
" Kalau belum hamil biar aku menghamilimu." kata Zaky membuat mereka berdua tertawa.
---
Semoga suka ya 😊
Show your love ya pembaca yang baik.
❤❤❤
☺Like
☺Commet
☺Share
☺Rate
☺Vote
☺Favorite
Makasi buat kalian yang selalu dukung aku.
__ADS_1