
Happy reading 🤗
Dalam ruangan tidak ada yang berbicara lagi. Famira terus memalingkan wajahnya ke arah samping kiri. Setiap Kevin bertanya pasti Famira menjawabnya dengan singkat dan judes. Baru kali ini Kevin tau sikap Famira jika sedang marah, apalagi saat ini ia sedang berbadan dua. Emosinya sulit untuk dikendalikan jika Kevin tak peka dengan kondisi Famira saat ini.
Hingga satu jam lamanya mereka sangat betah untuk berdiam tanpa ada yang membuka suara. Hanya ada suara derapan orang berjalan di luar dan orang mengobrol.
Dokter pun datang dan memeriksa kondisi Famira, sebab tadi tertunda karna sempat berdebat dengan Famira.
"Permisi, saya mau memeriksa nona Famira dulu" ucap dokter dan diangguki oleh Kevin.
Dokter pun langsung memeriksa istrinya, kondisinya sudah pulih dan hanya butuh istirahat yang cukup. Sebenarnya mulut dokter sudah gatal dan ingin memberitahu pada Kevin mengenai penyakit yang di idap oleh Famira.
"Dokter, apa saya sudah boleh pulang?" tanya Famira
"Kok, sekarang sayang. Kan kamu masih sakit" ucap Kevin
"Kenapa, kalo aku pengen pulang sekarang. Kamu keberatan?" tanya Famira sengit
"En... enggak kok, sayang. tapi aku masih khawatir kalo kamu masih sakit. Dan tadi kamu bilang lagi sakit hati" jawab Kevin
"Udah enggak, pokoknya aku mau pulang" ujar Famira
"Dokter apa benar jika istri saya kena penyakit liver?" tanya Kevin
__ADS_1
"Haaah, siapa yang bilang?" malah berbalik tanya
"Itu istri saya yang bilang" jawab Kevin sambil menunjuk Famira.
Famira hanya mendelik kan matanya saat Kevin menjawab pertanyaan dari dokter itu.
Ya Allah, Kevin disana seperti orang cengo, dan Famira serta dokter hanya geleng-geleng kepala.
"Baiklah, nona Famira boleh pulang" ucap dokter malas membahas kembali
"Terimakasih dokter" ujar Famira
Saat hendak turun dari branker Famira menyetop Kevin yang hendak menyentuh tangannya.
"Kenapa, sayang?" tanya Kevin
"Pikirkan sendiri," jawab Famira
Kevin tak menyerah, dia tetap saja mendekati Famira hingga membuat istrinya berteriak.
"Sudah kubilang, jangan sentuh tanganku!" ujar Famira berteriak tapi suaranya sedikit bergetar
Kevin kaget bukan kepalang, ada apa sebenarnya dengan Famira. Kenapa dia seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kevin belum ngeuh dengan kondisi Famira saat ini, ia hanya berpikir jika moodnya Famira sedang buruk.
__ADS_1
Terpaksa Kevin harus memundurkan langkahnya, membiarkan Famira turun dari branker. Dengan sempoyongan Famira berjalan keluar. Kevin hanya menuntun dari belakang, tak berani menyentuh istrinya takut jika ia akan marah kembali.
Sepanjang perjalanan, Famira menghadap kearah jendela tak sedikitpun melihat wajah suaminya. Jangankan melihat melirik saja ia enggan. Sungguh emosinya sudah memuncak dan membiarkan Kevin sadar sendiri tanpa Famira harus mengadu padanya.
Sampai rumah Famira langsung masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Kevin hanya mampu mengendus pasrah melihat perubahan sikap Famira padanya yang tiba-tiba dingin dan mudah sekali untuk marah, padahal hanya hal sepele. Contohnya saat ia hendak membukakan pintu mobil untuknya.
Famira tak menghiraukan ocehan Kevin mengenai perubahan sikapnya pada Kevin.
Terus berjalan menuju kamarnya. Saat hendak membuka pintu kamar, Kevin sudah lebih dulu menghadangnya.
"Jelaskan padaku apa yang membuat dirimu seperti ini!" ucap Kevin
"Aku lelah dan ingin istirahat. Jadi minggirlah'' jawab Famira
"Tidak. Sebelum kamu menjelaskan padaku" tolak Kevin saat Famira berusaha menembus dirinya dan hendak membuka pintu kamar.
"Aku lelah. Please biarkan aku masuk" ucap Famira lemah malas meladeni pertanyaan Kevin.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.