
Happy reading 🤗
Berjalan mendekati Kevin yang tengah duduk termenung. Menepuk pundaknya dan tersenyum.
"Assalamualaikum..." ucap Kyai.
"Waalaikumsalam..." jawab Kevin.
"Sedang apa nak?" tanya Kyai
"Tidak sedang apa-apa, Kyai" jawab Kevin sambil menggelengkan kepalanya.
"Jika ada masalah maka datanglah pada Allah, jika sedang bahagia maka bersujud lah pada Allah dan jika punya keinginan maka mintalah pada Allah" ucap Kyai.
Kevin langsung menoleh ke arah Kyai itu, ia tak memahami maksud dari perkataan Kyai.
"Maksudnya, gimana Kyai?" tanya Kevin.
"Maksudnya adalah segala sesuatu jangan kau gantungkan pada sesama manusia, karna kau tidak akan mendapat jawaban yang pas dan tepat dengan hatimu. Jika ada masalah maka kamu harus datang pada Allah karna Allah lah yang bisa menyelesaikan dan membantu segala beban pikiranmu" jawab Kyai.
"Begitu kah? tapi apakah masalah saya ini bisa saya selesaikan jika saya datang pada Allah sedangkan saya jarang sekali datang ke masjid. Apa iya Allah akan mendengarkan doa saya?
Saya malu Kyai, masa saya hanya datang dan bersimpuh di hadapan Allah jika saya sedang kesusahan seperti ini, dan jika saya dalam keadaan gembira saya seakan lupa dengan Allah sang pencipta alam semesta. Saya malu Kyai, sangat malu" ujar Kevin sambil menitikkan air matanya.
"Allah itu maha adil dan maha sabar, Allah akan selalu sabar menghadapi makhluknya yang lupa akan tugas di dunia yaitu menjadi manusia yang baik. Apa kamu mempunyai masalah yang berat, nak?" tanya Kyai.
"Iya Kyai, dan saya tidak mampu untuk menyelesaikannya sendirian" jawab Kevin tertunduk.
"Coba, nak Kevin ceritakan pada saya" pinta Kyai.
Kevin yang tadinya tertunduk pun langsung mendongak menatap wajah Kyai itu. Wajah yang berseri, hidungnya yang mancung dan alisnya yang tebal. Beliau sepertinya keturunan Arab dan Indonesia.
__ADS_1
"Kok kyai tau nama saya? padahal kan saya belum memperkenalkan diri?" tanya Kevin.
"Saya tau, karna kamu dulu adalah anak didik saya saat kamu masih berumur 2 tahun, orang tua kamu yang menitipkan pada saya untuk bisa menjaga dan memberi ilmu agama untukmu. Tapi saya hanya bisa menjaga kamu sampai 2 tahun saja. Dan di umur 5 tahun kamu ikut dengan orang tua kamu pindah ke desa lain" jawab Kyai.
"Apakah Kyai adalah guru mengaji saya saat kecil dan nama Kyai adalah Ahmad Dahlan?" tanya Kevin.
"Benar, apa kamu masih ingat dengan saya?" ucap Kyai.
"Saya ingat karna dulu orang tua saya selalu menceritakan tentang Kyai" jawab Kevin.
Lalu mereka pun langsung berpelukan dan Kevin menitikkan air matanya, ia terharu karna kyai itu masih saja ingat dengannya padahal umur beliau sudah hampir satu abad. Tapi daya ingat beliau masih tajam.
Baru lah Kevin membuka suara dan menceritakan semua hal yang Kevin alami sejak dari kecil hingga sekarang. Kyai itu mendengarkan dengan seksama, sampai Kevin selesai bercerita.
Kemudian Kyai pun langsung tersenyum, beliau tau apa yang Kevin sekarang tengah rasakan, saat ini dia butuh suport dari orang terdekatnya agar bisa tabah dan kuat.
Lalu Kyai Ahmad Dahlan pun menjawab segala keluh kesahnya Kevin, beliau berargumen yang bisa di terima oleh otak dan bisa terbaca secara logis.
"Sudah, jangan kamu ungkit lagi. Biarkan semuanya berlalu jangan kamu sesali. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh saudaramu mengenai insiden itu. Keadaan yang membuat mereka seperti itu dan juga karna hidayah belum datang menghampiri mereka. Manusia itu gudangnya kesalahan, tak ada yang sempurna tanpa kesalahan. Sebab adanya kesalahan maka akan membuat orang itu menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Sebagai manusia yang baik maka sebaiknya kita saling memaafkan kesalahan orang lain dan juga minta maaflah pada orang yang sudah kita toreh kan luka pada hatinya" ucap Kyai.
"Apa kamu masih melajang?" tanya Kyai tiba-tiba.
"Haaaah, saya sudah menikah Kyai" jawab Kevin kaget.
"Alhamdulillah, lalu dimana istrimu nak?" tanya Kyai.
Seketika Kevin tersentak dan kaget, ia melupakan istrinya karna masalah tadi dan sampai saat ini ia belum mengabari Famira. Haduh Kevin langsung kelabakan ia bingung harus mencari alasan apa yang bisa Famira percaya.
Lalu Kevin pun pamit pulang dan meninggalkan Kyai itu dan pamit pada semua orang yang ada disana.
Sial
__ADS_1
Saat sudah di jalan menuju kota, jalanan tiba-tiba macet dan harus menunggu hingga 3 jam lamanya sampai kemacetan berlalu.
Kevin yakin pasti Famira akan marah padanya sebab pergi tanpa pamit pada istrinya dan membuat Famira khawatir dengannya.
Hingga sampai berjam-jam Kevin berada dijalan raya menunggu sampai jalanan mulai lenggang.
Jam 10 malam Kevin baru pulang dan mengetuk pintu rumah, lalu dengan langkah gontai bik Sarmi membuka pintu. Seketika mata bik Sarmi membuka lebar dan kantuknya pun langsung hilang. Kevin langsung meletakkan jari telunjuk nya di bibir dan memberi isyarat jika bik Sarmi jangan buka suara. Lalu bik Sarmi pun mengerti dan menganggukinya dan mempersilahkan Kevin masuk serta menutup kembali pintu masuk.
Kevin masuk kedalam kamarnya dan membersihkan tubuhnya, ia melihat Famira sudah tertidur pulas. Ia sangat kasihan pada istrinya yang sedih dan khawatir menunggu kepulangannya.
Setelah selesai mandi, Kevin langsung membaringkan tubuhnya disamping Famira dan memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Famira kaget karna tubuhnya tiba-tiba bergeser kearah samping, lalu ia mengerjapkan matanya dan menoleh ke samping, ternyata yang menarik tubuhnya adalah Kevin suaminya sendiri.
"Mas...." ucap Famira sambil membelai lembut pipi Kevin.
"Kamu belum tidur, sayang?" tanya Kevin.
"Aku sudah tidur tapi karna kamu aku terbangun lagi" jawab Famira.
"Maaf jika membangunkan dirimu" ucap Kevin.
"Kamu darimana saja mas, aku sangat khawatir padamu?" tanya Famira.
"Urusan mendadak, maaf tidak bisa mengabarimu, maaf juga karna sudah membuatmu khawatir" jawab Kevin.
Famira pun mengerti dan menganggukinya. Kemudian ia terlelap kembali dalam dekapan hangat Kevin. Bersyukur karna Kevin tidak kenapa-kenapa dan pulang ke rumah.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.