
Happy reading 🤗
Akhirnya pun Kevin langsung kembali ketempat duduknya. Memijat pelipisnya, pusing, marah, kecewa dan sedih. Bercampur aduk, itu semua karna ulah Sindi padanya.
''Sebentar lagi waktunya untuk makan siang, apa kamu mau memesan sesuatu?" tanya Famira.
''Aku ingin makan dengan menu yang sama sepertimu" jawab Kevin.
''Baiklah...., aku akan meminta staf untuk membawakan makanan untuk kita. Dan apa yang akan kamu pesan?'' tanya Kevin
'' Bakso saja, aku ingin makan itu'' jawab Famira.
''Oke....,'' lalu Kevin menelpon staf kantor.
10 menit kemudian, staf kantor pun datang sambil membawa makanan yang dipesan oleh mereka.
Kevin duduk disamping Famira dan mulai makan. Famira sangat ingin makan bakso dan sekarang sudah keturutan. Makan dengan lahap dan juga ia menambahkan sambal disana tapi hanya sedikit karna Kevin melarangnya untuk mengambil banyak-banyak. Takutnya nanti malah bikin mules perut.
Setelah selesai makan, Famira izin pada Kevin untuk keluar sebentar dan ingin mencari angin karna didalam ruangan itu ia selalu kena AC, dia ingin merasakan hembusan angin nyata.
Kevin mengizinkan dirinya tapi ia meminta Wandi untuk mengawasi Famira, supaya ia tetap aman. Istri hanya menurut yang penting ia bisa keluar.
Tak sengaja ia melihat wanita yang sedang duduk di kantin dengan tangan yang menopang dagunya. Ia kenal, lalu menghampirinya dan menegurnya.
__ADS_1
''Sedang apa, sendirian disini?" tanya Famira.
"Eh...., ada nona Famira" ucap Sindi kaget lalu dengan cepat ia menghapus air matanya.
''Tak apa jika ingin menangis, menangis lah
sampai kamu puas. Jangan menahannya nanti malah membuatmu sakit'' ujar Famira.
''Saya minta maaf sekali dengan nona, karna ulah saya pak Kevin sampai demam'' ucap Sindi.
''Sudab ku katakan bukan, jangan panggil aku dengan sebutan nona. Kita sebaya dan aku merasa risih jika di panggil nona'' ujar Famira
''Maaf, saya tidak bisa. Karna kamu adalah istrinya pemilik perusahaan ini dan sudah seharusnya kami para bawahannya untuk menghormati istri dari atasan kami" jawab Sindi.
"Baiklah....., aku mengerti. Tapi jika diluar jam kerja, maka panggil aku dengan sebutan nama tanpa embel-embel'' ucap Famira.
''Bisa kah kita berteman'' ucap Famira.
''Apa saya tidak salah dengar. Nona ingin berteman dengan saya setelah apa yang saya perbuat pada keluarga anda?'' tanya Sindi.
''Biarlah berlalu, aku ingin menjadikan dirimu sebagai temanku. Aku berharap semoga engkau mau'' jawab Famira.
''Apakah pak Kevin tidak melarang anda untuk berteman dengan wanita hina sepertiku?'' tanya Sindi.
__ADS_1
''Hei...., apa maksudmu. Mengatakan jika kamu adalah wanita hina'' ujar Famira.
''Itu memang benar, nona. Saya cocok untuk mendapatkan julukan seperti itu'' jawab Sindi.
''Jangan pernah merendahkan diri, tapi rendahkan lah hatimu. Jangan pernah menganggap jika diri kita itu paling hina, sebab ada yang lebih hina dari pada diri kita sendiri" ucap Famira.
''Aku sudah menjadi wanita paling hina di dunia ini'' ujar Sindi sambil menangis.
''Jangan menangis.....'' ucap Famira sambil memeluk tubuh Sindi.
''Saya sudah pasrah nona, jika pak Kevin akan memecat saya dari perusahaan ini'' ujar Sindi terisak.
''Jangan pesimis dulu, berdoalah agar suamiku tidak jadi memecat mu. Aku yakin dia tadi sedang marah jadi asal mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Akan tetapi aku sudah menasihatinya agar bisa mempertimbangkan keputusannya'' jawab Famira.
''Aminnnn, makasih nona. Sudah mau memaafkan kesalahan ku. Aku akan selalu berhutang budi pada anda nona Famira'' ucap Sindi.
''Sama-sama...'' jawab Famira.
Sekarang Famira dan Sindi akan menjadi teman bahkan bersahabat. Famira yakin jika Sindi sebenarnya adalah wanita baik, hanya saja keadaan yang mengubahnya menjadi seseorang yang egois dan jahat. Dan tanpa disadari, ada yang merekam percakapan mereka, orang itu adalah Wandi. Dia sengaja merekamnya agar Kevin bisa melihat ketulusan hati yang Famira punya. Dengan mudahnya Famira memaafkan kesalahan orang lain.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.