True Love

True Love
Keputusan


__ADS_3

Happy reading 🤗


Kevin langsung tersenyum melihat istrinya berbicara sebijak itu. Lalu ia mempertimbangkan keputusannya. Ia juga sebenarnya tidak ingin memecat Sindi, karna langka sekali mempunyai pekerja keras dan jujur seperti Sindi. Ia memutuskan untuk tidak jadi memecat Sindi dan lebih memaafkan kesalahannya. Siapa tau nanti Sindi akan menjadi wanita yang lebih baik lagi dan mengambil pelajaran dari peristiwa lalu.


''Sepertinya Famira ingin menjadikan Sindi sebagai temannya. Heran sendiri jadinya, jika itu bukan Famira, mungkin Sindi sudah mendapat cemoohan dari orang lain. Tapi justru Famira yang meminta padaku agar tetap tutup mulut dan jangan disebarkan ke seluruh karyawanku'' ucap Kevin bermonolog sendiri.


Lalu Kevin menelpon Wandi untuk memanggil kan istrinya untuk datang ke ruangannya bersama dengan Sindi.


''Maaf mengganggu waktunya nona Famira'' ucap Wandi sopan.


''Tak apa...., ada apa tuan Wandi?" tanya Famira.


''Panggil saja Wandi nona, saya tidak pantas di panggil dengan sebutan tuan, apalagi yang memanggil adalah anda, istrinya atasan saya'' ujar Wandi.


''Baiklah...., ternyata kalian berdua sama saja. Oh katakan ada apa'' ucap Famira.


''Nona dipanggil oleh tuan Kevin dan Sindi juga ikut serta'' jawab Wandi.


''Mungkin beliau mau memecat saya nona, saya sudah menduganya. Karna kesalahan saya tidak patut untuk dimaafkan'' ucap Sindi.


''Jangam suuzon dulu'' jawab Famira.


Lalu mereka bertiga langsung pergi dari kantin kantor dan berjalan menuju kantor dan pergi ke ruangan Kevin.

__ADS_1


Mereka bertiga sudah sampai, lalu Wandi membukakan pintu untuk Famira dan Sindi masuk. Dengan langkah gemetaran Sindi masuk dan berdiri didepan meja kerja Kevin.


Tak berani menatap, ia hanya mampu menundukkan kepalanya, malu dengan dirinya sendiri.


''Apa kamu tau, maksud dariku memanggilmu kemari?'' tanya Kevin.


''Maaf, pak saya tidak tau'' jawab Sindi sambil menunduk.


''Tatap mata lawan bicara, tidak sopan jika orang yang sedang berbicara tidak kau pandang'' ujar Kevin.


Seketika itu, Sindi langsung mendongak menatap wajah Kevin. Wajahnya kini teduh tak seperti tadi, yang merah padam dan matanya sangat tajam ketika memandang dirinya.


''Aku tidak jadi memecat mu'' ucap Kevin singkat.


''Maksudnya kamu akan tetap bekerja disini dan saya tidak jadi mengeluarkan kamu dari perusahaan ini'' jawab Kevin.


''Makasih pak. Terimakasih, anda tidak memecat saya dari sini'' ucap Sindi senang.


''Jangan senang dulu, aku tetap memperkerjakan kamu disini karna kinerja mu yang bagus. Saya suka dengan kinerja mu. Jadi aku harap kau bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengubah diri menjadi orang yang baik dan sukses'' jawab Kevin.


''Baik pak, siap pak. Saya akan berubah dan akan membanggakan perusahaan ini dan memajukan perusahaan ini'' janji Sindi.


''Saya tidak butuh janji tapi saya butuh bukti. Apa kamu bisa membuktikan ucapanmu?'' tanya Kevin.

__ADS_1


''Saya akan buktikan bahwa saya sudah berubah dan tidak akan pernah lagi mengulang kesalahan yang telah saya perbuat'' jawab Sindi mantap.


Kevin langsung tersenyum dan mengangguk, lalu ia mempersilakan untuk Sindi kembali ke tempat asal.


Famira sedari tadi hanya senyam-senyum sendiri, melihat Kevin yang begitu bijak dalam memutuskan sesuatu. Bangga memiliki suami sepertinya, sudah sabar, setia dan baik hati lagi.


''Aku suka dengan keputusanmu, wahai suamiku sayang'' ucap Famira.


''Tentu saja, itu semua karna dirimu, sayang'' jawab Kevin.


''Kok bisa, karna diriku?'' tanya Famira.


''Karna kamu, aku sudah bisa menemukan keputusan yang tepat dan terbaik dalam menyelesaikan masalah ini'' jawab Kevin.


Famira mengangguk dan tersenyum, sedangkan Kevin langsung kembali bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya hingga sore tiba, mereka baru pulang kerumah.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2