
Happy reading 🤗
Setelah selesai makan malam, Rasya mengajak istrinya untuk tidur, sudah malam besok ada kegiatan lagi yang harus dikerjakan. Yakni, bangun pagi, shalat subuh, buka gorden, beresin ranjang melipat selimut, menyapu dan mengepel.
"Nia, udah malam yuk tidur" Ajak Rasya sambil menatap wajah Tania yang sedang menonton televisi.
"Jam berapa emang ini...?" Masih fokus menatap layar televisi.
"Sembilan malam, ayo tidur..." Ajaknya lagi.
"Masih sore, belum malam. Lagian aku masih betah melek. Jika kau ingin tidur, sana duluan aku masih ingin nonton" Jawab Tania tanpa mengacuhkan suaminya.
Ya Tuhan, badung sekali istriku ini. Harus ku apakan dia supaya patuh. Jika di bentak nanti malah runyam ujungnya, di lembutin malah acuh kayak begini.
"Nia, besok ada tugas baru untukmu. Dan jangan sampai telat untuk mengerjakan nya!" Peringatan itu sukses membuat Tania berpikir, oh ya sekarang aku hidup dalam aturan yang membelenggu kebebasan hidupku.
"Baiklah, aku mengerti. Ayo tidur aku mengantuk sudah" Jawab Tania beranjak dari duduknya menuju kamar dan meninggalkan Rasya sendirian di ruang tengah.
Eh, perasaan tadi yang ngajak tidur si Rasya kenapa sekarang malah dia yang di tinggal. Hadeuh aneh deh.
Akhirnya pun Rasya membuntuti dari belakang. Nia istri manjanya sedang berada di dalam kamar mandi membersihkan wajah dan gosok gigi. Sembari menunggu, ia manfaatkan waktu untuk membaca beberapa buku komik yang ada di meja. Sesekali tertawa kala ada kata yang menggelitik perutnya.
"Apa kau baik-baik saja....?" Tanya Tania ketika sudah selesai.
"Tentu saja, aku hanya tertawa melihat ini" Jawab Rasya sambil menunjukan komik terselubung.
Wanita itu hanya mengangguk dan melenggang pergi menuju ranjang, merebahkan tubuhnya dengan hati-hati serta menyelimuti tubuh sampai dada. Kini tinggal Rasya yang masuk dan membersihkan tubuhnya. Ia melirik keranjang pakaian dan melihat ada beberapa lembar pakaian kotor. Besok dia akan meminta Tania untuk mencuci pakaian. Tak masalah dia mencuci sebab nantinya akan memakai mesin bukan tangan.
"Bersiaplah besok, Nia kau akan ku suruh bersih-bersih mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi" Ucap Rasya dalam hati sambil menggosok gigi.
Setelah selesai, akhirnya pun dia keluar dan terkejut melihat Tania sudah tidur dengan pulas dan posisinya yang kayak jam berputar.
__ADS_1
"Nih bocah, tidur kayak jam dinding berputar terus" Geleng-geleng Rasya melihatnya. Merasa seperti bukan menjadi suami tapi lebih tepatnya menjadi ayah untuk Tania. Tentu saja, wong usia mereka terpaut 8 tahun. Wajar saja Tania masih labil dan tidur pun masih polah gak karuan.
Kemudian ia mengalah dan membenarkan posisi tidur istrinya karena dia juga mau tidur. Membopong tubuh Tania dan meletakkan dengan hati-hati agar tidak terbangun. Kasihan sore tadi sudah belajar memasak. Mungkin dia lelah jadi seperti ini posis tidurnya.
"Kau ini sangat cantik namun menjengkelkan" Ucap Rasya ketika sudah menidurkan Tania dengan benar.
Lalu ia mendengar suara igauan dari mulut Tania yang terus saja memanggil nama ayahnya.
"Ayah....ayah jangan pergi. Jangan tinggalin Tania sendirian ayah" Begitulah igauan yang Rasya dengan dengan telinganya sendiri.
Tangan Rasya tiba-tiba digenggam erat oleh Tania, seakan tidak boleh pergi. Ia kira tangan itu adalah milik ayahnya, sehingga tidak sungkan untuk menggenggamnya.
"Manja sekali dirimu...." Ucap Rasya seraya melepas genggaman tangan itu. Tapi Tania justru mempererat dan mengigau lagi dengan kalimat yang sama.
Rasya menjadi tidak tega dan akhirnya membiarkan Tania menggenggam erat tangannya. Memiringkan tubuhnya, tangan kanan menyangga kepalanya dan tangan kiri dibiarkan digenggam oleh istrinya.
Tapi karena sudah ngantuk berat, Rasya tidak sadar lagi dan sudah masuk ke dalam alam mimpi. Ia memeluk tubuh Tania dan kepalanya jatuh di ceruk leher istrinya. Mungkin besok pada kaget kalo udah bangun tidur, hihihi.
Malam ini mereka tidur bersama dan berpelukan yak, awas entar keblabasan lho, wkwkwk.
Ayam berkokok lantang, milik tetangga yang kebetulan dekat dengan rumah mereka. Rasya bangun lebih awal dan ternyata posisi tidurnya tidak berubah masih sama seperti malam tadi.
Setelah selesai, ia pun segera membangunkan Tania untuk bersih-bersih badan dan berwudhu. Berjalan gontai dengan rambut acak-acakan membuat Rasya ingn tertawa melihatnya. Seperti zombie saja Tania saat ini, dengan sabar ia menunggu sampai Tania selesai dengan urusan kamar mandi.
Jam 6 pagi teng, mulai lah bersih-bersih. Berpidato ria sudah menjadi kebiasaan Rasya dan memasang telinga tebal sudah Tania lakukan agar tidak muak mendengarnya.
"Kamu menyapu aku membuka gorden" Ucap Rasya memerintah, layaknya kapten.
Tanpa menjawab Tania pun segera mengambil sapu dan mulai menyapu. Tapi sayang seribu sayang, masih banyak kotoran lantai yang tertinggal sehingga membuat Rasya mengulang lagi menyapu. Maklum gak pernah nyapu lantai.
Sabar masih pemula jangan di bentak, nanti mentalnya malah kusut.
__ADS_1
Tidak mau ada hal yang membahayakan jika Tania yang mengepel lantai, akhirnya ia menyuruh Tania untuk mencuci pakaian menggunakan mesin cuci.
Ia hanya mengangguk pasrah tidak membantah atupun bersuara hanya diam saja. cuma ada beberapa pakaian yang kotor, aslinya bisa saja jika kucek tangan tapi kasihan nanti tangan Tania tidak cocok jika berlamaan kena sabun.
"Tuangkan satu cup penuh berisi deterjen ke dalam mesin cuci, tuangkan satu cup penuh"
Inikan pakaiannya lumayan banyak kira-kira ada 15 lembar pakaian. Jadi 15 kali tuang kayaknya ya" menyimpulkan sendiri tanpa berpikir panjang.
Setelah itu dia pun keluar dan membiarkan mesin berputar sampai selesai. Jenuh menunggu, ia pun memutuskan untuk pergi ke taman belakang. Meninggalkan Rasya yang sibuk mengepel lantai.
Merasa tidak beres dengan kinerja Tania, setelah selesai mengepel Rasya pun segera masuk ke dalam tempat pencucian baju.
Oh My God, ngeri banget. Kenapa ada banyak busa deterjen yang keluar dari dalam mesin cuci menutupi lantai. Lalu pandangannya tertuju pada deterjen kemasan kecil. Tinggal setengah isinya.
Saat ia berjalan tak sengaja kakinya tergelincir di lantai, saking licinnya keramik dan kepalanya terbentuk lantai dengan keras. Untung dia pria, kalau bukan pasti sudah pingsan.
"Aduhhh, sakitnya kepalaku...." Mengaduh berharap ada yang menolongnya. Pantat terasa panas dan kepala terasa keliyengan gak karuan. Pandangan kabur-kaburan, lalu terdengar sayup-sayup suara wanita masuk dan terkejut melihat Rasya terkapar di lantai dengan bisa deterjen yang menutupi lantai.
"Ya ampun, Rasya. Kau sedang apa, hah. Tiduran gak jelas di kamar mandi?" Ucapnya sambil geleng-geleng kepala. Masih nggak nyadar kalo dialah dalang dari semua ini.
"Aku sedang mendengarkan detak jantung keramik, siapa tau dia retak atau pecah" Ngasal saja menjawab.
"Emang keramik punya jantung ya?" Cengo sekali dia bertanya.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1