True Love

True Love
Diam


__ADS_3

Happy reading 🤗


Mesin cuci masih berputar, Rasya pun masih tergeletak di lantai belum ada niatan untuk bangun. Lalu Tania pun membantu suaminya untuk bangun dan duduk di luar kamar mandi.


Berjalan dengan pelan-pelan, karena kepala yang sakitnya Masya Allah dan juga pantatnya. "Kau ini, baru umur kepala tiga berjalan sudah seperti ini...." Celoteh Tania sambil memapah.


"Diam lah, sakit badan ku rasanya" Tukas Rasya sambil berjalan.


Duh, kok Tania kayak lagi bantuin wanita berjalan pasca melahirkan ya. Dengan pelan dan sangat hati-hati.


"Lain kali, kalo mau masuk ke dalam kamar mandi jangan sambil berlari. Kan kayak gini jadinya, kamu terpeleset di dalam" Sok menggurui Rasya dengan gayanya berkecak pinggang.


Ya Tuhan, berikanlah hidayah untuknya. Tobat mengajari Tania, sampai sekarang dia belum juga sadar atas kesalahannya.


"Apa kau pikir aku seceroboh dirimu, hah. Hei dengar ya, aku tidak akan terpeleset jika bukan karena ulah mu itu yang sembrono" Jawab Rasya sambil menahan sakit.


"Lho, enak saja menyalahkan ku. Aku rasa kau yang bersalah. Memangnya kecerobohan apa yang ku perbuat sehingga membuatmu seperti sekarang ini?" Masih saja belum mengakuinya.


"Kau menuangkan deterjen berapa cup?" Tanya Rasya menaikan alisnya.


"15 cup, lalu apa hubungannya denganmu?" Jawab Tania.


"Tentu saja ada, itulah yang membuatku jatuh sebab busa yang keluar dari mesin cuci. Dan itu semua adalah ulah kecerobohan mu dalam melaksanakan tugas mencuci pakaian. Kau terlalu banyak menuangnya dan membuat busa menjadi meluap serta keluar tanpa permisi. Apa kau sekarang sudah menyadari kesalahanmu, Tania?"


Tampak berpikir, dengan memukul pelan dagunya menggunakan jari telunjuk tangan sebelah kiri. Masih belum ngeuh dan perlu banyak hidayah lagi.

__ADS_1


"Tidak.


Itu bukan seratus persen kesalahanku. Di sana kau juga bersalah, kenapa tidak kau saja yang mencuci pakaian. Andai saja kau yang melakukannya pasti tidak akan terjadi hal seperti ini" Jawab Tania tegas.


"Astaghfirullah, lalu kau akan kemana jika tidak ku suruh mencuci, hah? Bagaimana nanti jika kau tidak bisa mencuci, menyapu dan mengepel?"


"Ya...., aku memperhatikan dulu dan barulah nanti akan aku praktik kan" Jawab enteng tanpa beban, semua beban di pikul Rasya sendiri tanpa ada yang membantunya.


Diam


Lebih baik diam, meredakan rasa nyeri dan kepala yang sedari tadi keliyengan gak karuan. Kemudian mesin cuci sudah selesai berputar dan saatnya untuk Tania membilasnya.


"Sudah berhenti, cepat kau bilas pakaiannya sampai tidak ada busa yang menempel!" Titah Rasya dengan menunjuk arah kamar mandi.


"Oke, lalu setelah itu diapakan?" Tanya Tania.


Tania hanya mangut-mangut, dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Busa sabun sudah menggunung, keluar dari dalam penggilingan mesin cuci. Itu malah membuat Tania kesenangan, bermain dengan busa sabun layaknya anak kecil yang sedang asyik bermain dengan mainan barunya.


"Wah ternyata mencuci pakaian itu menyenangkan, bisa bermain dengan busa sabun" Ucapnya sembari meniup bisa yang menutupi telapak tangannya.


Rasya di luar menunggu lama, kok gak keluar si Tania, padahal kan cuma bilas pakaian 15 lembar doang?. Jangan-jangan ada hal yang gaswat di dalam sana. Terpaksa berjalan kembali memasuki kamar mandi, namun kini ia lebih hati-hati lagi agar tidak terpeleset seperti tadi.


"Ya Allah, Taniaaaa....." Teriak Rasya setelah melihat ke dalam. Bukannya sedang membilas dia malah asyik bermain bisa.


"Aduh, gak usah teriak-teriak kenapa, aku tuh gak budeg" Sungut Tania dengan mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Jontorin aja tuh bibir, biar ku ikat pakai karet. Cepat di bilas pakaiannya!" Perintah Rasya dengan nada tegasnya.


"Nye nye nye....., bawel" Jawab Tania dengan mulut berkomat-kamit gak jelas.


Mengelus dada yang Rasya bisa setelah melihat reaksi Tania dalam menanggapi perintahnya. Sabar dalam diam, itu lebih cocok untuknya saat ini.


Tania sudah menyiapkan bak yang di isi air bersih untuk membilas. Pakaian itu ia letakan dan mulai membilasnya, awalnya Tania senang-senang saja saat membilas. Tapi lama-kelamaan mengesalkan. Sudah empat kali dia membuang air bilasan, tapi tetap saja bisa itu tidak kunjung hilang.


"Dasar pakaian aneh, kenapa tidak hilang juga sih busanya?" Tanyanya sambil mengucek pakaian.


"Itu karena kecerobohan mu sendiri, jangan salahkan pakaiannya" Ucap Rasya bersandar di tembok.


"Terus aja salahin aku, perasaan aku gak pernah bener di mata kamu" Marah Tania, dari tadi dia disalahkan oleh Rasya.


Ya udah, lebih baik keluar aja deh. Biar Tania yang mengurusnya sendiri, kan udah gede juga, pastinya kan nanti berpikir supaya busa bisa hilang.


Akhirnya Rasya memilih keluar meninggalkan Tania. Bodo amat lah, mau pakai cara apa dia mengatasi ini, yang terpenting adalah pinggang tidak pegal lagi dan pantatnya bisa di dudukan dengan benar.


Kemudian dia tidur di sofa meski pakaian basah kuyup. Lihat saja nanti, pasti dia akan masuk angin dan demam. Kepala nyut-nyutan, dan telinga kebrisikan karena mendengar omelan Tania masalah busa sabun. Ambyar di pagi hari, gegara mencuci pakaian dan pekerjaan rumah lainnya.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


Sebelum lanjut part selanjutnya klik like, komentar dan vote nya yaaaaaa.


__ADS_2