
Ini adalah hari kedua pasca pendonoran darah, Rasya belum ada tanda-tanda akan segera siuman, sedangkan Ghani sudah sehat kembali dan rencana hari ini akan kembali ke London bergantian dengan saudaranya untuk menjaga papa Ferdinand.
"Kak Tania percayalah pada Tuhan, pasti bang Rasya akan sadar dalam waktu dekat. Terus doakan dia, dan aku pamit untuk pulang ke London dan Vito akan kemari menjenguk bang Rasya" Ucap Ghani di samping Tania yang masih setia duduk di samping ranjang branker.
"Baiklah, terimakasih kamu sudah datang dan menjadi penolong nyawa suamiku, Ghani" Jawab Tania pelan.
"Never mind, oke. Aku akan berangkat sekarang. Bang Arka, Kevin mba Zahra dan Famira aku pamit serta aku titip kak Tania dan bang Rasya. Assalamualaikum..." Ucap Ghani memamiti orang yang ada di dalam ruang rawat Rasya.
"Waalaikumsalam, hati-hati Ghani" Jawab mereka serempak
"Iya, terimakasih..." Sahut Ghani sambil tersenyum tipis.
"Akan ku antar kau ke bandara internasional Soekarno Hatta" Ujar Arka dan Kevin pun ikut juga.
"Okeeee" Balas Ghani santai.
Selepas kepergian para lelaki, kini tinggallah para wanita dan satu orang yang sakit. Wajah Rasya sudah tidak memar lagi, sungguh canggih alat kesehatan di rumah sakit ini dalam waktu singkat luka dan goresan yang ada pada tubuh Rasya sudah tidak terlihat jelas dan hanya tinggal bekas-bekasnya saja.
"Ini sudah dua hari aku menunggu, dia sadar. Aku sudah tidak sabar ingin bicara dengannya lagi, mba..." Ucap Tania lemah dan ia tidak pernah melepas genggaman tangan, Tania pikir lewat itu dia bisa memberikan semangat agar Rasya bisa sembuh dan kembali sehat.
"Sabar, Tania. Ini kan masih baru, mungkin Rasya masih dalam pengaruh obat penenang jadi dia masih terlelap tidur" Jawab Famira dengan mengusap pundak Tania.
__ADS_1
"Benarkah? Aku tidak tahu akan hal itu mba" Ujarnya lagi, tatapan mata Tania tidak pernah lepas dari wajah suaminya, berharap jika terus memandangi wajahnya maka Rasya akan bangun dan dialah orang yang pertama kali melihatnya.
"Iya, Tania. Famira pernah mengalami fase yang sama dengan Rasya. Benar begitu, Famira?" Ucap Zahra berusaha membuat Tania terus berpikir positif.
"Iya, mba Zahra. Itu benar sekali, jadi aku harap kamu sabar menunggu, Tania" Sahut Famira dengan anggukan kepala.
"Amin, semoga aku bisa sabar menunggu mba" Jawab Tania.
๐๐๐๐
Hari semakin larut, kini saatnya Zahra dan Famira pulang ke rumah, tapi mereka tidak tega meninggalkan Tania sendirian di sana.
"Mas Arka, aku kasihan pada Tania, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Baiklah mas, aku setuju dengan usulan darimu. Jadi malam ini kalian berdua yang menjaga Tania dan Rasya" Sahut Zahra.
"Iyaaaa...., aku akan meminta supir mengantarmu dan nanti tolong bawakan baju ganti untukku, sayang" Jawab Arka dan mencium kening istrinya.
"Baik mas, jangan lupa makan malam dan shalat jangan di tinggal"
"Oke sayangku, aku akan selalu ingat pesan dari bidadari tak bersayap ku ini"
__ADS_1
Di lain tempat
Kevin baru saja mendapat pesan dari Arka, jika malam ini yang berjaga di ruangan Rasya adalah dirinya dan juga Arka, sudah saling menyepakati begitu juga dengan Famira, ia tidak keberatan. Sudah sepantasnya saling membantu saudara.
"Sayang, kamu pulangnya bareng sama Zahra ya..." Ucap Kevin sambil mengelus hijab yang Famira pakai dengan lembut.
"Iya, sayang. Dan kamu nanti jangan lupa kabarin jika ada tanda-tanda dari dokter Rasya" Balas Famira tersenyum manis pada suaminya.
"Pastinya, kamu jangan lupa makan dan jaga anak kita dengan benar selagi aku tidak ada di rumah!" Pesan Kevin pada istri cantiknya itu.
"Iya, sayang. Pasti, aku akan jaga mereka" Jawab Famira.
Lalu Kevin mencium sekilas bibir Famira sebagai salam perpisahan malam ini, tidak bisa tidur satu ranjang.
Zahra dan Famira sudah pulang di antar oleh supir pribadinya Arka, lalu kedua pria tampan ini duduk di luar sambil bercerita masalah kantor, jika Tania butuh bantuan tinggal berteriak saja, sebab Arka dan Kevin telah siap siaga di luar pintu ruangan.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Hargai karya ku dengan vote like komentar serta follow me ya.