
''Kamu milikku, dan kamu sudah berjanji akan selalu ada untukku, begitu bukan janjimu padaku, hubby?" Ucap Tania sambil menciumi punggung tangan suaminya.
Tiada ada kata yang paling indah selain bersama, tiada kata yang paling pedih selain berpisah. Semua akan terjadi sesuai hukum Ilahi, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Mengalir seperti air dan ketika hati mulai terketuk, entah kenapa cobaan pun datang menghantuk.
Mencoba untuk kuat tidak bisa, mencoba tegar malah semakin menjalar, semua akan berujung pada penyerahan sebab tiada lagi yang bisa dilakukan.
Kini pria yang selalu ada di samping Tania sedang beristirahat panjang, ia mungkin masih lelah, sehingga harus tidur lama sampai besok adanya bantuan dari Ghani.
Belaian demi belaian lembut di pipi pria ini, Rasya tak bisa merespon secara sadar, akan tetapi tetap bisa merasakan ketulusan yang istrinya beri.
Jangankan bicara, bergerak saja tidak bisa. Luka di sekujur tubuhnya membuat si pemilik raga pasti kesakitan, dan Tuhan maha adil. Dengan kuasanya, membuat Rasya tidak merasakan sakit dalam dunia, ia di tidurkan dalam balutan hangat awan putih.
"Hubby, aku akan selalu ada untukmu. Jadi jangan tinggalin aku ya di dunia ini. Jika kamu pergi, lalu siapa yang akan mengajariku masak, mencuci, dan juga siapa yang akan mengomeli ku setiap hari. Aku kangen sama cerewetan mu. Bangun yah besok pagi, ku mohon" Ucap Tania seperti sedang bicara dengan anak kecil.
Kembali ia memeluk tubuh suaminya, kehangatan ia rasakan, meski Rasya tidak dalam keadaan sehat.
''Tania apa kamu tidak lelah dan ingin istirahat?" Tanya Zahra pada Tania, ia tidak tega melihat Tania seperti itu.
"Enggak mba, aku gak lelah dan aku ingin tidur di samping suamiku. Aku rindu dengannya. Apakah boleh...?"
Zahra bingung lalu ia menatap semua orang yang ada, dan mereka juga saling melempar tatapan bingung. Sekarang apa yang bisa dilakukan?
"Baiklah Tania asal kamu tidak menyentuh luka di badan suamimu, yah"
__ADS_1
"Iya mba, aku tau. Dan aku minta bolehkah kalian pergi dari sini aku ingin bicara dengan suamiku"
Lebih baik mengiyakan saja, saat ini Tania sedang menjelma orang lain. Bukan dirinya yang berperan, sangat aneh dan unik.
Mereka berlima keluar kamar, membiarkan Tania dan Rasya berdua saja di dalam sana.
๐๐๐๐
Esok harinya, Ghani masuk ke dalam suatu ruangan bersama Rasya juga. Yup, mereka akan melakukan pendonoran darah. Semua aman dan cocok tanpa menunda lagi, maka dokter segera gercep.
Di luar ruangan semua takut jika ini tidak berjalan lancar. Sudah dua jam lamanya mereka tidak keluar, kegundahan pun muncul dalam benak masing-masing orang.
Sudah pikiran yang tidak-tidak masuk ke dalam otak. Menjauh lah, bodoh!
Semua berjalan lancar tanpa ada kendala, tapi ada hal yang membuat dokter Ari sedikit cemas, memang sih lancar tapi kesadaran dan normal jantungnya belum stabil bahkan terlihat semakin menurun.
"Dokter bagaimana keadaan suami dan adik ipar saya, dok?" Tanya Tania dan memegang tangan dokter itu.
"Semua berjalan lancar, saat ini tuan Ghani dalam pengaruh obat penenang dan akan sadar dalam waktu yang cukup lama. Akan tetapi, untuk tuan Rasya saya tidak bisa menjamin bisa sadar dalam waktu dekat. Karena ada hal yang aneh terjadi, saat pelaksanaan tadi" Jawab dokter.
"Maksud dokter kalau suami saya masih belum bisa membuka matanya, begitu?"
"Itu benar, nona saya minta maaf"
__ADS_1
"Tidak apa dokter. Anda sudah membantu banyak hal kepada kami" Balas Zahra dengan memeluk tubuh Tania.
"Kapan pasien akan di pindahkan ke dalam ruang rawatnya, dok?"
"Nanti, segera akan di pindahkan dan juga luka yang menggores wajahnya sudah kering dan perban akan kami lepas sebelum kembali ke dalam kamarnya"
"Oh, begitu terimakasih dokter penjelasannya"
"Sama-sama tuan, saya permisi dulu''
''Silahkan dokter!"
''Jangan bersedih, karena sekarang nyawa Rasya sudah aman dan dia nanti bisa siuman kembali, tenangkan lah dirimu, Tania" Ucap Arka, dia paham betapa sesaknya jika mendengar nama orang yang di cintai dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Bersambung
.
.
.
Hargai karya ku dengan vote like dan komentar serta follow me ya.
__ADS_1