True Love

True Love
Pendonor


__ADS_3

"Suamiku di mana...?" Tanya Tania sambil memegang tangan Zahra dan Famira.


"Di sebelah, sedang di periksa oleh dokter. Kamu tenang saja, Rasya pasti sembuh dan kembali sehat. Bersabarlah, Tania" Jawab Famira bijak sambil mengelus pipi Tania.


"Percayakan saja kepada Allah, maha pemilik jiwa dan raga manusia. Jika belum waktunya Rasya di panggil maka Allah tidak akan mencabut nyawanya. Pasti Rasya sembuh, doakan saja, Tania. Sebab semanjur-manjurnya doa untuk suami, itu adalah doa dari istrinya sendiri. Jika kau selalu ingat Allah dan berdoa pada-Nya, maka Insya Allah ada keajaiban dari Allah" Timpal Zahra dengan segala kebijakan berpikirnya.


"Ya Allah, aku sudah melalaikan engkau, maafkan aku ya Allah, sembuhkan lah suamiku dan jangan ambil dia dariku. Aku sangat mencintainya" Ungkapnya dengan tangisan yang memecah.


Famira dan Zahra pun langsung memeluk kembali tubuh Tania. Menyalurkan kehangatan agar Tania bisa merasa lebih tenang lagi.


Di ruang sebelah


Dokter Ari, Arka dan Kevin mereka sedang membicarakan tentang kesembuhan Rasya. Sangat minim sekali untuk bisa sembuh. Donoran darah segera di perlukan akan tetapi belum ada yang bersedia mendonorkan untuk Rasya.


"Tuan, apakah tidak ada sanak saudara dari tuan Rasya yang mempunyai golongan darah yang sama dengan beliau?" Tanya dokter Ari.


"Ada dok, Rasya punya dua adik laki-laki yang kini tinggal di London" Jawab Arka.


"Bisakah mereka datang ke Indonesia untuk pengecekan darah?" Tanya dokter Ari yang merasa ada sedikit harapan untuk pasiennya.


"Akan saya panggil sekarang juga, dokter" Jawab Kevin dan ia pun segera keluar dari ruangan.


Kevin pergi ke taman rumah sakit, ia menelpon Ghani adiknya Rasya, berharap langsung tersambung. Tapi sudah dua kali telpon tidak aktif membuat Kevin sedikit geram. Dalam keadaan genting seperti ini malah susah untuk diajak kompromi.


Ini yang ketiga kalinya, dan akhirnya terhubung, baru saja mengucapkan salam, terdengar suara tangisan dari sebrang sana. Membuat Kevin penasaran, suara siapakah itu?


"Halo Ghani, apa kau baik-baik saja disana?" Tanya Kevin dengan mendudukkan dirinya di kursi.


"Aku baik-baik saja bang, oh ya bagaimana keadaan bang Rasya saat ini?" Jawab Ghani.


"Abang mu dalam keadaan kritis dan dia butuh pendonor darah yang sesuai dengan golongannya" Sahut Kevin.


"Aku akan ke Indonesia sekarang bang, karena aku yang punya golongan darah sama dengan bang Rasya" Jawab Ghani mantap.


Kevin pun segera bernapas lega, ia bersyukur karena Rasya sudah mendapatkan pendonor untuk sahabatnya itu.


"Di mana kau sekarang kenapa aku mendengar suara orang menangis?" Tanya Kevin yang sedari tadi penasaran sekali.


"Rumah sakit bang, setelah mendengar kabar jika bang Rasya kecelakaan, papa jadi syok dan sakit jantung beliau kumat sehingga harus di larikan ke rumah sakit" Jawab Ghani.


"Semoga papa mu segera sembuh"


"Aminnn, makasih bang doanya. Aku akan sampai di Indonesia sepertinya besok pagi. Kau kirimkan saja alamat rumah sakit itu dan aku akan segera ke sana"


"Oke oke, akan aku share lock padamu. Hati-hati di perjalanan menuju tanah air"


"Iya bang..."


Lalu sambungan telepon terputus, Kevin kembali masuk ke dalam sana, memberikan kabar gembira untuk semua. Kisah Rasya tidak serumit dengan Famira, yang susah sekali mencari pendonor tulang sumsum untuknya. Tiada sanak saudara yang bisa membantu Famira. Tapi karena kuasa Allah, Famira sembuh dan juga anak mereka lahir.


"Arka, aku mendapat kabar baik" Ucap Kevin setelah membuka pintu.


"Apa katakan padaku, Kevin!" Jawabnya tidak sabar.


"Begini, masalah pendonor darah untuk Rasya sudah kita jumpa yakni Ghani adiknya sendiri dan sekarang ia akan datang ke Indonesia" Ujarnya dengan tersenyum lebar.


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya" Ucap Arka dengan ucapan syukur.


"Syukurlah saya senang mendengarnya tuan, akhirnya tuan Rasya bisa terselamatkan dari maut yang sudah berada di ujung tanduk" Ucap dokter Ari.

__ADS_1


"Iya dokter, saya juga senang. Dan besok Rasya akan segera sadarkan diri" Jawab Kevin.


"Tapi tuan, saya tidak bisa menjamin jika sudah mendapat pendonor darah, apakah tuan Rasya akan segera sadar. Pasti ada fase lain untuk bisa menyadarkan tuan Rasya"


"Tidak masalah dok, asalkan Rasya bisa sembuh dan bisa kembali bersama kami lagi, terutama dengan istrinya itu" Sahut Arka.


"Iya tuan...." Balasnya sambil tersenyum tipis.


Keesokan paginya, Ghani sudah sampai di bandara internasional Soekarno Hatta. Ia segera masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir didepan, meminta supir untuk melaju menuju rumah sakit Medika Utama.


Ia datang sendirian, istri dan anaknya di London menjaga papa nya yang sama kritisnya sebab serangan jantung yang ia alami.


Sesampainya di sana, ia langsung pergi menemui ruangan dokter Ari tanpa bertanya dengan para suster yang ada. Kevin sudah menginformasikan semua pada Ghani agar gercep.


"Selamat pagi dokter" Ucap Ghani yang berpas-pasan dengan beliau.


"Pagi tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter Ari sambil membenarkan posisi kacamatanya.


"Saya Ghani adiknya Rasya dan saya siap untuk melakukan pendonoran darah untuknya, dok" Jawab Ghani menjelaskan identitasnya.


"Oh baiklah, mari kita periksa dulu, tuan" Sahutnya dan diangguki oleh Ghani.


Mereka masuk ke dalam ruangan laboratorium. Ghani di ambil sampel darah Ghani dan di cocokkan dengan darah Rasya.


"Ini akan saya beritahu besok tuan hasilnya dan kemungkinan jika cocok dan tidak ada masalah maka bisa di lakukan pengobatan untuk tuan Rasya"


"Baik dokter, semoga aman dan bisa di donorkan"


"Aminn, berdoalah kepada Tuhan"


Kemudian Ghani keluar dan pergi ke ruang rawat Tania.


Ia mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban, ia mengintip dari balik jendela, melihat orang yang ada di dalam.


Tak ada respon, lalu dengan sedikit lancang Ghani masuk untuk memeriksa Tania. Baru saja hendak membuka handle pintu Zahra dan Famira datang dan berniat untuk membawakan makanan untuk Tania, sebab semalam ia tidak mau makan.


"Kau ada di sini, Ghani?"


"Iya mba, saya ke sini untuk menjadi pendonor darah bang Rasya"


"Alhamdulillah, akhirnya dokter Rasya mendapat pendonor darah"


"Tentu saja mba, kan aku adiknya"


"Iya benar. Oh ya apakah kau mau melihat kakak ipar mu?"


"Iya mba Famira, apakah aku boleh masuk?"


"Tentu saja, kau kan adiknya"


"Terimakasih...."


Kemudian mereka masuk bersama, Tania sedang duduk melamun, tatapan matanya kosong, wajah pucat pasi seperti manusia tak bernyawa.


"Tania...." Panggil Zahra pelan sambil tersenyum manis padanya.


Tania hanya menoleh ke arah suara dan kembali menunduk.


"Jangan sedih kak, sebentar lagi bang Rasya akan sembuh" Ucap Ghani lembut.

__ADS_1


Tania tak mengaidahkan ucapan pria itu, memandang pun tidak. Telinga mendengar akan tetapi mulut terkunci rapat. Lidah kelu untuk berucap kata.


"Apa tadi barusan yang aku dengar, bang Rasya akan sembuh. Apakah itu bukan mimpiku yang ke-10 kalinya. Sungguh aku muak dengan perkataan barusan, selalu saja tipuan yang ku dapat. Aku tidak yakin kalau ini berita nyata, pasti ini semua adalah ilusi ku."


"Tania, sayang angkatlah kepalamu. Tatap wajah kami" Ucap Zahra seraya mengangkat dagu Tania ke atas.


Tania patuh, ia mengikuti perintah Zahra, ia menatap wajah Zahra, Famira dan Ghani bergantian. Ini nyata atau mimpi?


"Dengarkan aku, aku datang ke sini untuk membawa kabar gembira untukmu. Suamimu Rasya Ferdiansyah besok sudah mendapatkan pendonor darah yang cocok untuknya dan itu adalah berasal dari Ghani, adik kandungnya dan adik ipar mu, Tania"


Tania tidak bersuara, ia hanya menganga untuk mengekspresikan perasaannya. Bahwa dia kaget dan bingung.


Famira yang melihatnya pun langsung mengangguk dan tersenyum. Mengisyaratkan jika ucapan Zahra benar adanya, meski belum yakin jika golongan darah Ghani cocok, tapi mereka akan tetap berdoa.


Buliran bening keluar dan menggenangi pelupuk mata Tania, tidak bisa di bendung lagi. Akhirnya pun luruh jatuh membasahi pipinya. Antara bahagia dan sedih, bercampur jadi satu.


"Antar kan aku ke ruangan suamiku...." Ucapnya lemah sekali dan hanya Zahra di sampingnya yang bisa mendengar ucapannya.


"Baiklah, akan kami antar. Ghani, tolong kamu ambilkan kursi roda untuk kakak ipar mu ini!"


"Baik mba, Zahra. Aku akan ambilkan"


Ketika Ghani sudah keluar, ia bertemu dengan Kevin dan Arka. Mereka baru saja menyelesaikan urusan kantor. Lalu mereka pun mengobrol bersama dan mengambil kursi roda pun bersama.


Setelah kepergian Ghani, Zahra dan Famira pun membujuk Tania untuk makan bubur yang mereka bawa.


"Sebelum melihat kondisi Rasya, kamu makan dulu ya" Bujuk Zahra dan mendapat balasan gelengan kepala dari Tania.


Zahra pun langsung menghela napas panjang, harus sabar agar bisa meluluhkan Tania.


"Makan ya, adikku sayang. Kak Elia yang berpesan padaku agar kau mau makan. Dia kan sekarang berada di Korea jadi tidak bisa menjenguk mu, Tania" Rayunya lagi.


Mendengar nama Elia, Tania pun langsung mengangguk dan mau makan. Famira ikut tersenyum, pandai sekali mba Zahra membujuk orang lain dan dengan cara yang begitu ampuh.


Kini semenjak Tania sudah menikah, ayah ikut dengan Elia ke Korea mengikuti suaminya, sebab jika di sini tidak ada yang bisa merawat ayah. Tapi hanya sementara saja ayah di Korea, ia hanya singgah saja dan bulan depan pulang ke tanah air.


Tania makan dengan lahap, sudah tidak sabar untuk bisa menemui suaminya yang kini tengah terbaring lemah sama seperti dirinya, tapi lebih lemah ketimbang Tania.


Ghani pun datang dengan membawa kursi roda, lalu Zahra dan Famira pun membantu memapah tubuh Tania untuk duduk di kursi itu.


Ghani yang mendorong kursi roda untuk sampai di ruangan kakaknya. Pintu ruangan terbuka lebar, mereka berdua masuk lebih dulu.


Deg


Jantung Tania seakan berhenti berdetak, kala ia melihat wajah sang suami di tutupi banyak perban, saking parahnya dan membuatnya di tutupi. Mungkin beberapa hari kemudian akan di lepas.


Hanya mata yang terlihat terpejam rapat, bulu mata lentik hitam terlihat jelas, laki-laki tapi bulu matanya sangat lentik membuat Tania iri.


Ghani mensejajarkan posisi duduknya Tania dengan Rasya, agar memudahkan Tania untuk menyentuh wajah suaminya itu.


Semua orang diam, hanya menjadi penonton. Mereka duduk di sofa sebelah ranjang pasien, mengamati Tania yang berusaha meraih tangan Rasya. Dengan tangan bergetar ia menggapainya dan mencium punggung tangan suaminya begitu lama sampai air matanya jatuh membasahi punggung tangan Rasya.


"I love you my hubby....."


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


Hargai karya ku dengan vote like dan komentar serta follow me ya.


__ADS_2