
Happy reading 🤗
Sampailah dirinya di rumah sakit, ternyata Zahra telat datang karna anaknya imunisasi di pagi hari, sehingga menunggu anaknya selesai imunisasi dan barulah ia datang ke rumah sakit.
"Assalamualaikum...." ucap Kevin ketika membuka handle pintu.
"Waalaikumsalam,..." jawab dari dalam ruangan.
"Bagaimana apa kau dan mas Arka sudah mendapatkannya?" tanya Zahra to the point.
"Hemph...., belum. Aku dan Arka belum bisa mendapatkannya" jawab Kevin sambil menggelengkan kepalanya dengan wajah lesunya.
Zahra hanya bisa menghela nafasnya, memang mencari hal seperti itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Entah sampai kapan mereka harus dalam dilema yang membelenggu, kebebasan belum ada tanda-tanda akan muncul. Hanya bisa berusaha tanpa mengeluh, sampai bisa dapat.
Arka pun sudah berada di perjalanan menuju rumah sakit. Tapi sebelum sampai disana ia pergi ke panti asuhan yang ia dirikan, mencari kesana, siapa tau ada jawaban disana. Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang asalkan selamat.
1 jam kemudian,ia sampai dan disambut oleh anak-anak panti. Di sana tidak hanya menampung anak-anak, tapi juga remaja sampai orang dewasa yang tidak punya tempat tinggal. Anak-anak disana juga di sekolahkan oleh Arka.
"Assalamualaikum, anak-anak ku....." ucap Arka.
"Waalaikumsalam, akhirnya ayah datang kemari untuk menjenguk kami" jawab anak-anak serempak.
"Tentu saja, tapi ayah kesini untuk meminta bantuan kepada kalian semua, apakah ada yang mau membantu?" tanya Arka.
"Kami siap, untuk membantu...." jawab mereka.
__ADS_1
Ibu panti hanya tersenyum melihat semangat mereka saat pemilik panti angkat bicara. Arka begitu dekat dengan mereka, sehingga memanggil dirinya sendiri dengan sebutan ayah.
Kemudian Arka masuk kedalam rumah panti asuhan. Banyak sekali gambaran yang tertempel di dinding, dan semua adalah gambar Arka, Zahra dan Arza.
"Kemana, bunda Zahra...?" tanya salah satu anak kecil.
"Sedang di rumah sakit. Menjaga orang sakit" jawab Arka sambil tersenyum tipis.
"Oh...., aku kira bunda sakit" ujar anak itu.
Lalu Arka berjongkok dan mencubit gemas pipi gembul anak itu.
"Tentu saja tidak, bunda dan Arza sehat. Begitu juga dengan ayah" jawab Arka.
Si anak hanya tersenyum dan menampilkan gigi ompong nya. Lalu Arka berjalan kembali dan menuju ruangan ibu panti.
"Waalaikumsalam, masuk pak!" jawab ibu panti.
Arka masuk kedalam dan menemui ibu panti, membicarakan perihal Famira yang membutuhkan pendonor dan meminta ibu panti membawa semua perempuan yang ada di panti dan yang umurnya setara dengan Famira untuk di periksa siapa tau ada yang cocok.
Ibu panti asuhan langsung mengangguk dan tersenyum, ia bersedia dan malam ini akan di kumpulkan semuanya. Waktu hanya tinggal hari ini dan besok. Secepat mungkin Arka dan Kevin harus bisa mendapatkannya.
Malam harinya, Arka dan Kevin pergi ke rumah sakit tempat pengecekan. Hingga mencapai jam 3 dini hari, mereka belum juga mendapatkan yang cocok. Baik Arka maupun Kevin mereka berdua sudah sangat mengantuk sekali, dari kemarin siang tidak istirahat dan tidur pun kurang.
Sudah banyak orang yang di tes, namun hasilnya nihil belum juga ada yang pas. Arka sudah menghitung anak yang ada di panti asuhan dan ia rasa sudah semua di periksa dan tidak ada lagi.
Lain tempat
__ADS_1
Orang berjubah hitam, sedang duduk sambil menyesap rokok dan ia sedang menelpon orang lain.
"Obat apa yang bisa cepat bereaksi jika di suntikan dan juga cepat membunuh bagi yang terkena suntikan itu?".
"Setahuku itu adalah obat potasium. Dan itu hanya ada di dalam rumah sakit dan tempat peracikan obat".
"Kau cari obat itu dan kau suntikan pada selang infus Famira serta kau tutup wajahnya menggunakan bantal agar cepat bereaksi dan ia cepat mati!".
"Laksanakan..., lalu kapan kita akan melakukan ini?"
"Today, dan aku minta kau berdandan layaknya seperti suster yang ingin memberi vitamin untuk pasien atas nama Famira, apa kau paham?"
"Saya paham bos, baiklah nanti saya akan mencari obat itu dan menyuntikkannya pada selang infus".
"Ingat, jangan sampai gagal".
"Tidak akan gagal, kau tenang saja bos".
"Ku pegang ucapan mu. Jika sampai gagal, maka bersiaplah".
Lalu ia menutup sambungan teleponnya dan meletakkannya kembali di atas meja.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.