
Happy reading 🤗
Pagi harinya, Kevin bangun tidur tapi ia tak pergi ke kantor dan meminta Wandi untuk menghandle dulu. Dia masih belum siap untuk berangkat kerja lagi. Masih menenangkan pikirannya dan memantapkan hatinya terlebih dahulu akan terus memajukan perusahaan ini atau melemparkan pada Arka.
"Kamu enggak ke kantor mas?" tanya Famira.
"Enggak...., aku lagi males berangkat ke kantor, sayang" jawab Kevin.
"Kok, males sih. Kamu ini bisa jadi contoh jelek buat para karyawan kamu nantinya" ujar Famira sambil mengelus rambut suaminya.
"Sayang, aku mau ngomong serius sama kamu. Dan ku harap kamu bisa membantuku" ucap Kevin tiba-tiba.
"Katakanlah...!" perintah Famira.
Lalu Kevin pun langsung menceritakan semuanya hingga akhir cerita. Famira mendengarkan dengan seksama dan sesekali ia menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana menurutmu, sayang. Dan apa yang harus aku putuskan saat ini?" tanya Kevin meminta pendapat dadi Famira.
"Apa yang dikatakan Kyai itu benar mas. Kamu harus bisa memaafkan keluarga Mahesa dan mau bagaimanapun kamu adalah anggota dari keluarga ini papa Robert adalah papa kandungmu. Jadi sebagai anak yang baik maka sudah sepantasnya kita memaafkan kesalahan orang tua kita yang lalai saat menjaga kita waktu kecil" jawab Famira.
Kevin hanya mangut-mangut, entahlah apa nanti yang akan ia ambil. Mungkin sehari di rumah ia dapat memutuskan apa yang seharusnya ia lakukan.
"Pesan ku padamu, jangan pernah gegabah dan jangan pula memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi. Sebab nantinya kamu akan menyesal mas!" pesan Famira pada suaminya.
"Hemmm, baiklah" jawab Kevin.
Hingga menjelang sore, Kevin masih setia di dalam kamar, mengurung dirinya dan hanya memandangi langit-langit kamar.
Lalu dari luar ada pintu yang mengetuk, Kevin kira itu adalah ulah Famira. Dengan suara berat Kevin mempersilahkan orang itu masuk.
Lalu derapan langkah terdengar mendekati ranjang dan berdiri menghadap wajah Kevin.
__ADS_1
"Apa kau hanya rebahan di kamar hari ini?" tanya Arka. Dia lah orang yang Kevin persilahkan masuk.
"Mau apa kau kemari,?" tanya Kevin.
"Menemuimu dan minta maaf yang belum kau berikan padaku" jawab Arka.
"Lupakan saja, aku malas membahas hal itu saat ini" ujar Kevin yang tetap menatap langit-langit kamar.
"Aku yakin, kau masih marah padaku. Dan aku tidak akan pergi sebelum kau memaafkan diriku" jawab Arka yang tak bergeming dari tempatnya.
"Aku sudah memaafkan mu, dan kau tak perlu minta maaf karena kamu tidak sepenuhnya bersalah Arka" ucap Kevin.
"Apa kau yakin, bisa memaafkan ku, Kev?" tanya Arka penuh heran.
"Yaa, dan lupakan semua yang telah terjadi" jawab Kevin tegas.
"Tapi apakah kamu dendam dengan keluarga Mahesa sebab perilaku mereka dulu terhadap aunty Sarah?" tanya Arka.
Arka hanya mampu menunduk, ia paham betul dengan apa yang kini Kevin rasakan. Tidak mudah untuk bisa memaafkan kesalahan yang teramat besar di lakukan.
"Tapi...., aku rasa percuma untuk marah. Sebab orang yang sudah membuatku marah dan murka sudah tiada. Lalu untuk apa aku marah dengan orang yang salah" lanjut perkataan Kevin yang tergantung.
Arka mendongak menatap wajah Kevin, apakah ia tak salah dengar dengan perkataan Kevin tadi?
"Jadi, apa kau mau memaafkan ku?" tanya Arka.
"Ya, dan aku juga minta maaf karna sudah membentak mu kemarin" jawab Kevin.
"Kau tak perlu minta maaf padaku Kev, bagiku kau adalah kakak ku yang aku sayangi. Jika kau tidak di temukan oleh papa, mungkin kini aku sendirian tanpa teman, Alzheimer sudah meninggal dan pastinya aku akan sendiri" ucap Arka tertunduk dan air matanya menetes membasahi pipinya.
Kevin pun langsung bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Ia memegang kedua pundak Arka.
__ADS_1
"Jangan bersedih! Kini sudah ada aku yang akan selalu menemanimu, wahai adikku yang ku sayang" ujar Kevin.
"Makasih... , aku" rasanya tenggorokan Arka tercekat dan tidak dapat melanjutkan ucapannya.
"Sudahlah, lupakan semua. Aku ingin mengawali hari ini dengan ceria, biarlah cerita kelam itu terkubur dan jangan di bangkitkan kembali, yang nanti hanya akan menimbulkan perpecahan antara aku dan keluargamu, Arka" kata Kevin seraya memeluk tubuh Arka.
Arka menangis karna terharu dengan kedewasaan Kevin. Ia tidak tau nanti jadinya jika Kevin tetap kekeuh pada pendiriannya yang ingin keluar dan mundur dari perusahaan itu.
"Jadi, apa kau akan tetap menjabat sebagai direktur utama perusahaan Mahesa kan, dan tidak akan mundur?" tanya Arka memastikan.
"Iya, aku akan tetap menjadi direktur utama disana" jawab Kevin sambil mengangguk dan tersenyum pada Arka.
Di luar kamar, Famira dan Zahra deg-degan karna Kevin dan Arka lama sekali tidak keluar kamar dan entah apa yang sedang mereka bicarakan. Zahra baru mengetahui jika Kevin adalah cucu pertama dari keluarga Mahesa. Ia juga merasa iba padanya, tapi berharap Kevin bisa memaklumi Arka dan tetap menjadi saudara Arka selamanya.
Kemudian seulas senyuman mengembangkan di bibir Zahra dan Famira, ketika melihat Arka dan Kevin keluar kamar sambil rangkulan satu sama lain.
Ternyata mereka berdua sudah berbaikan dan sepertinya juga masalah antara mereka berdua sudah terselesaikan dengan baik.
"Aku memutuskan untuk tetap bekerja di perusahaan Mahesa dan akan tetap menjadikan Arka sebagai adikku" ucap Kevin.
"Alhamdulillah...." puji syukur mereka panjatkan, karna Kevin sudah mengambil keputusan yang tepat.
Bersambung
.
.
.
Part selanjutnya akan muncul hal yang teramat menyedihkan dan sedikit menguras air mata. Bersiaplah menghadapi part selanjutnya.
__ADS_1