
Setelah sampai di warung, Rama langsung di tanyai oleh ibunya. "Gimana, apa nak Haida mau menerima singkong goreng yang kamu bawakan tadi?".
"Iya buk, dia mau. Oh ya, apa tadi saat aku pergi ibu kewalahan melayani mereka?" tutur Rama sambil melihat sekeliling.
"Tidak, ibu di bantu oleh Rina" sahutnya sambil memegang pundak gadis berusia 17 tahun.
"Makasih ya Rin, kamu udah bantuin ibu saya" ucap Rama.
"Sama-sama mas Rama. Toh kita tetanggaan, dan juga ibu sudah berbaik hati pada keluarga kami" sahut Rina.
Rama hanya tersenyum, inilah yang tidak bisa membuat Rama tidak bisa membenci Sina ibu angkatnya. Meski dulu pernah jahat, tapi banyaknya kebaikan yang ia lakukan, mampu menutupi kesalahan yang pernah di perbuat saat masa lalu.
Rama segera masuk ke dalam rumah untuk berganti baju, karena sudah ada Rina yang membantu ibunya, maka Rama bersiap-siap untuk pergi mencari rerumputan hijau untuk pakan hewan.
Iya, semenjak suami ibu Sina meninggal, mereka di warisi dua ekor sapi untuk di rawat. Itu peninggalan yang di berikan oleh pak Doni.
"Ibu, saya pamit untuk mencari rumput segar pakan sapi kita" ucap Rama berpamitan.
"Iya nak, berhati-hatilah" sahut sang ibu.
Rama keluar membawa sepeda ontel, menyusuri jalan setapak yang sebrang kanan kiri di penuhi hamparan sawah yang sedang menghijau. Semilir angin sore berhembus, dengan bahagia Rama menerima.
"Mas Rama....." sapa anak kecil yang berpas-pasan dengan Rama.
__ADS_1
"Hai..." balasnya dengan senyum ramah.
Begitu banyak yang menyukai perangai Rama, dia baik, sopan, lemah lembut dalam berkata-kata dan tidak pernah membuat orang lain terluka akan ucapannya. Ia paling ahli dalam menjaga tutur bahasa.
"Mas Rama ganteng, mau kemana?" gadis cilik yang centil menyapa Rama sambil membawa boneka Barbie.
"Hei centil, mas mau cari rumput buat si chubby" jawab Rama dan mencubit pipi gadis cilik itu.
"Kok chubby, dulu kan namanya Shinta" ujar gadis itu.
"Wah masa jadi pasangan hidup mas sih. Rama dan Shinta" seloroh Rama.
"Hahaha, emang iya" gadis itu tertawa terbahak-bahak.
Sesampainya di tempat yang ia tuju, Rama tidak menunda-nunda waktu. Ia mengeluarkan sabit untuk menebas rerumputan segar. Karena Rama begitu gesit menebas, tak perlu waktu lama rumput yang ia kumpulkan menggunung di atas tanah.
"Akhirnya selesai" Rama berucap syukur sambil mengelap keringat di keningnya.
Inilah rutinitas yang selalu Rama kerjakan. Tak pernah mengeluh dan meminta pertanggungjawaban pada ibu Sina dan pak Doni akan perbuatan mereka. Jika Riko dan Rama tidak terpisah, mungkin sekarang Rama berkerja di perusahaan milik orang tuanya dan pastinya menjadi orang terpandang di kota.
Saat sampai di rumah, Rama langsung membagi rumput itu untuk di makan si chubby. Oh iya, kenapa Rama bilang chubby, karena mereka gemuk dan lucu. Tapi aneh ya, masa sapi di beri nama chubby.
"Mandilah nak, setelah itu kau kerjakan sembahyang maghrib" titah ibu Sina.
__ADS_1
"Baik buk, saya akan mandi setelah selesai meminum es sirup ini" balas Rama sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ibu sudah memakai mukena dan berangkat ke mushola, Rama masih minum di samping rumah.
"Rama, ayo berangkat" tiba-tiba ada orang yang bicara.
"Eh, Haida. Duluan aku akan menyusul" sahut Rama.
"Okeeee...." ucapnya dan berjalan bersama Rina.
'Riko, apa kamu tenang di alam sana setelah melihat Haida bahagia di sini? Ya meskipun aku hanya berniat menjaga amanah mu, tapi aku tak bisa selamanya ada di samping Haida'. Batin Rama, dia berpikir jika saat sudah tiba waktunya ia bertemu dengan tulang rusuk kehidupannya kelak akankah ia tetap bisa berada di samping Haida.
Adzan magrib berkumandang, segera Rama bersiap untuk pergi ke mushola. Wajah anak orang kaya tak pernah lepas, sehingga banyak yang menyangka jika pemuda yang bernama Rama ini anak dari ibu Sina dan almarhum bapak Doni.
Di mushola, Rama menjadi guru ngajinya, dia mengajar anak kecil mengaji, membaca Alquran dan iqro. Haida tersenyum melihatnya.
'Usiamu lebih tua dariku, Rama. Tapi kenapa tidak mau aku panggil mas atau kakak?' Haida bicara pelan sambil menatap tajam wajah Rama yang tampan itu.
Tak sengaja Rama mengangkat wajah dan mendapati Haida yang fokus memandangi wajahnya.
Netra bertemu, segera Haida menoleh ke arah samping. Malu ketahuan mencuri-curi pandang.
Bersambung
__ADS_1
...Bahagiamu adalah Nafasku...