True Love

True Love
Memilih pergi


__ADS_3

Dengan segenap tenaga, Rama menjawab pasti. Semoga ini keputusan yang terbaik. Haida terus menatap wajah Rama. Ia juga penasaran apa kira-kira keputusannya nanti.


"Saya bersedia menikahi Haida".


Mata Haida bertambah lebar, benarkah apa yang barusan Rama katakan. Menikahi dirinya demi menutupi aib ini?


"Rama apa yang kau katakan?"


Haida menarik tangan Rama agar mereka bisa saling tatap. Sungguh Haida merasa sangat bersalah.


"Sudah menjadi keputusan saya. Bukankah tadi kamu bilang kalau terserah saja pada saya. Jadi jangan protes!".


"Tapi ga harus nikah juga, kan?"


"Saya bisa saja memilih untuk pergi dari desa ini. Tapi saya tidak tega pada ibu saya. Harus terlunta-lunta di jalanan, mencari tempat tinggal yang baru. Saya tidak boleh egois. Setelah menikah, kita bisa bercerai jika kamu mau".


Haida diam, lalu pak RT mengaggap jika masalah belum selesai. Masih memberi waktu dan jika beneran memilih nikah maka harus datang ke rumah pak RT lebih dulu. Warga yang ada menjadi saksi.


"Sudahlah, mungkin ini terlalu terburu-buru. Kalian boleh pikiran kan lagi. Tapi pilihan tetap hanya ada dua".


Setelah mengucapkan hal itu, semua bubar. Masih saja ada yang ngedumel sebab tidak segera selesai masalah ini.


Rama diam, wajahnya tidak bisa di prediksi oleh Haida. Entah marah atau sedang banyak pikiran.


"Saya pulang dulu, kamu jangan capek-capek. Jangan lupa makan, nanti saya akan bawakan makan untuk kamu".


"Eh tapi, aku ga mau ngerepotin kamu lagi Rama. Aku memilih untuk pergi dari desa ini saja. Aku ga mau tambahin beban hidup kamu. Cukup sampai sini aja. Makasih atas kebaikanmu padaku. Sampaikan salam dariku untuk ibu".


"Kamu yakin?"


"Iya aku yakin, nanti siang aku akan pergi. Aku akan mengingat semua kebaikanmu, tenang saja".


"Saya tidak peduli kamu mau mengingatnya atau tidak. Itu adalah hakmu. Jaga diri baik-baik jika sudah pergi dari desa ini".

__ADS_1


"Tentu saja, maafkan aku Rama".


Wanita itu memeluk tubuh Rama dengan erat. Meneteskan air matanya, menumpahkan segala kesedihannya sebelum benar-benar pergi.


Rama mengelus rambut Haida. Sebenarnya ia juga tidak rela jika Haida pergi. Namun ia bukan siapa-siapa. Jika sebelumnya tidak merasa memiliki, maka untuk apa merasa kehilangan?


'Firasatku salah, ternyata Rama tidak menyukaiku. Hanya perasaanku saja. Buktinya aku memilih pergi, dia tidak bergeming. Sudahlah Haida, jangan mengharapkan cinta dari pria yang selalu membuatmu bahagia, walau hanya sesaat.'


Haida melepaskan pelukannya, menatap wajah Rama dengan nanar. Mencoba tersenyum walau luka tersirat dari air mata itu.


"Jika sudah sampai tujuan baru, kabari saya".


"Hem, pasti."


"Ya sudah, saya pulang. Nanti saya akan datang lagi, membantu kamu untuk beres-beres".


"Tidak perlu, aku hanya membawa baju aja kok ga banyak".


"Sama saja, jangan pergi sebelum saya datang kemari".


Semakin di kekang, rasa hati pun semakin sakit. Dia tidak sanggup, jika harus melihat Rama datang untuk membantunya. Cukup sampai sini saja. Intinya saat ia pergi, Rama tidak ada. Takut menambah rasa sayang untuk pria yang tidak memiliki rasa yang sama dengannya.


"Jenny, jemput aku. Aku akan pulang hari ini juga".


Haida masuk, membereskan semuanya. Segala baju dan buku. Foto dalam bingkai ia bawa. Di sana terdapat gambar Haida dan Rama ketika di sawah foto bersama sambil memegang pohon padi yang menguning.


Ingat saat panen raya di desa. Haida ikutan membantu para petani, Rama tak ketinggalan. Dia pemuda yang selalu ikut dalam acara pesta panen raya.


"Semua akan menjadi kenangan".


Memasukkan foto itu dalam tas. Jenny, sahabatnya dari kota datang mengendarai mobil. Haida sudah menunggu di teras rumah.


"Cepetan, kita harus pergi".

__ADS_1


"Kau ini kenapa, aku baru saja datang. Tidak kau suguhi minuman, gitu?"


"Gula habis, aku ga beli".


"Dasar pelit".


Jenny di dorong-dorong, untuk segera masuk ke dalam mobil. Haida seperti sedang di awasi oleh banyak orang. Jenny heran sekali. Baru saja ingin melihat sekeliling sudah di suruh masuk lagi.


"Cepetan injak gas. Kita harus pergi!"


"Iya sabar, aku pasang sabuk pengaman dulu".


"Hah, dasar lelet!"


Mobil sudah berjalan, dari kejauhan ada yang berlari, sepertinya sedang mengejar mobil ini.


"Bentar deh, itu kok ada yang ngejarin mobil kita. Kamu kenal ga sama orang itu?"


Jenny melihat dari spion mobil. Haida ikutan menoleh, kaget. Ternyata itu adalah Rama. Dia berlari, pasti tadi dia melihat mobil ini pergi dari rumah Haida.


Pria itu tidak bohong, dia terus berlari sampai mobil itu menjauh.


"Jangan berhenti, terus aja jalan. Dia bukan siapa-siapa aku".


"Yakin nih, tapi dia nyebut nama kamu terus"


"Udah, jangan berhenti aku bilang. Injak gasnya buruan!"


"Iya-iya bawel"


Mobil semakin menjauh, Rama ngos-ngosan mengejarnya. Ia berhenti, lututnya terasa kaku.


"Sudah saya bilang jangan pergi sebelum saya datang. Kamu memang keras kepala Haida".

__ADS_1


Rama berbalik badan, membawa rasa kecewanya. Ada hal penting yang harus ia katakan pada Haida, tapi wanita itu lebih memilih pergi sebelum menunggu dia datang.


Bersambung


__ADS_2