
Happy reading 🤗
"Ya Tuhan....." Gumam Rasya dalam hati, istri hampir saja jatuh ke lantai jika tidak cepat ia bertindak.
Di bawalah Tania ke ranjang untuk di baringkan, seharian ini dia tidak melakukan apa-apa selain tidur. Mandi pun tidak, berjalan saja sudah membuat Tania keliyengan tidak kuat menopang tubuhnya sendiri jika tidak ada yang membantunya.
Kemudian Rasya kembali mengambil air dingin untuk mengelap wajah Tania, dan juga menggantikan pakaiannya.
"Aku seperti sedang mengurus putri kecilku. Harus hati-hati dan juga jangan membuatnya marah" Ucap Rasya sambil mengelus rambut istrinya.
Ketika hendak menggantikan pakaian Tania, ia harus bisa menetralkan detak jantungnya yang gak karuan saat membuka baju.
"Tahan...., jangan tergoda melihatnya. Kau masih waras Rasya. Jangan bertindak bodoh terhadap orang yang sedang sakit" Bawa istighfar kali ya, biar gak tergoda melihatnya.
Ya Tuhan kasihan sekali Rasya, harus mengalami hal seperti ini. Siapa saja yang sudah menikah pasti ingin juga merasakan surga dunia. Tapi untuk sekarang masih mustahil bagi Rasya. Dia belum tau akan rasa dan cinta itu sudah ada. Yang ia tau saat ini hanya kejengkelan dan eneg ketika bersama dengan Tania.
Buru-buru Rasya memakainya pakaian, sebelum pikiran jernihnya hilang di embat nafsu. Asal saja ia mengambil baju, yup dia mengambil baju tidur untuk Tania. Toh nanti juga malam dan akan tidur.
Keringat membasahi wajahnya, mengingat dan membayangkan jika tadi nafsu menguasai dirinya. Bisa-bisa nanti jatuh citra menjadi dokter yang kompeten.
Lebih baik dia mandi saja, waktu juga sudah menjelang sore. Mendinginkan otak dan pikiran agar tidak menjalar kemana-mana.
Jam 7 malam, Tania baru membuka matanya setelah pingsan di dalam kamar mandi. Masih mengumpulkan kesadaran dengan mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu ia memandang tubuhnya, kok bajunya udah ganti. Terus siapa yang menggantikan pakaiannya?
''Aaaaaaaaa....." Seketika Tania menjerit histeris. Ia membayangkan jika Rasya yang menggantikan baju.
Rasya yang sedang makan malam sendirian di dapur pun terlonjak kaget, ia tersedak makanan sampai batuk-batuk.
"Uhuk...uhuk" Sambil memukul pelan dadanya.
Lalu ia menyambar air putih di atas meja, menenggak dalam hitungan air sudah tandas.
__ADS_1
"Siapa yang berteriak? Ah jangan-jangan Tania sudah sadar" Ucap Rasya yang kemudian ia berlari menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Rasya dihadiahi lemparan bantal dari Tania. Wajahnya merah, wah sudah dipastikan jika saat ini dalam keadaan tidak baik. Jika di gambar kan dalam komik, pasti ada kobaran api di belakang tubuh Tania.
"Hei, kau ini kenapa hah? Asal melempari ku bantal?" Tanya Rasya tak mengerti dengan Tania saat ini.
"Dasar mesum.....!" Teriak Tania, tak menggubris lagi penyakitnya.
"Mesum....? Kapan aku berbuat mesum?"
"Kau masih saja mengelak. Ini! Lihat ini kau kan yang sudah menggantikan baju untukku. Dan pastinya kau manfaatkan dengan melihat tubuhku!" Masih pake nada tinggi, gak turun-turun.
"Ya, memang aku yang menggantikannya, tapi aku tidak berbuat tak senonoh terhadapmu" Jawab Rasya membela diri.
"Halah, pasti kamu berbohong padaku!" Masih gak percaya.
"Aku berani sumpah mati, jika benar-benar aku berbuat hal buruk kepadamu" Sumpah mati, bingung mencari argument lagi untuk menjelaskan pada Tania.
"Dengarkan aku.
Iya, memang aku yang sudah menggantikan pakaianmu. Tapi aku tidak melakukan hal buruk terhadapmu, apa kau tidak percaya padaku?"
"Apa benar begitu....?"
"Cek tubuhmu, apakah ada yang hilang!"
Hilang? Emangnya apaan bisa hilang. Dan dengan patuhnya ia melakukan apa yang Rasya suruh.
Aman. Tidak ada yang hilang sedikit pun. Rasya tidak berbohong saat ini. Baiklah, aku percaya padanya.
"Aman kan. Tidak ada yang hilang?"
__ADS_1
"Iya aman, dan awas ya jika kau macam-macam denganku. Akan ku jurus kau dengan ilmu bela diri"
"Bagaimana...?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Apakah masih pusing, mual dan ingin muntah?"
"Tidak. Sudah tidak lagi dan kepalaku juga sudah tidak terasa berat, hanya saja tubuhku terasa masih lemas"
"Lemas? Lalu saat kau melempari ku dengan bantal, aku tidak melihat lemas mu?"
Tania hanya menatap sebal ke wajah Rasya. Suami galaknya itu sungguh membuatnya jengkel tapi romantis apalagi saat mengingat awal kemarin dimana ia sakit.
Meski galak tapi Rasya perhatian orangnya. Dia galak karena sudah dididik oleh papanya agar menjadi pria tegas dan berwibawa. Galaknya bukan main tangan ya melainkan omongan, dia itu kalo ngomong pedes banget sampe ngalahin pedesnya sambel.
"Sudah, kalau begitu kau tidur saja. Ini sudah malam" Ucap Rasya sambil melirik jam dinding.
"Aku sudah tidak mengantuk lagi, puas aku tertidur"
"Baiklah kalau begitu, biar aku saja yang tidur dan kau menjagaku".
Konyol, memang si Rasya. Tapi aku suka sama kamu.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1